Pages

Selasa, 21 April 2015

“Ibumu, Ibumu, Ibumu...”

Begitu mulianya kedudukan seorang Ibu di dalam Islam, hingga Rasulullah Saw menekankan tiga kali kata “Ibumu” ketika seorang sahabat menanyakan siapakah yang paling berhak ia hormati.
Selain  pendidik utama anak-anaknya, Ibu juga merupakan manajer dalam keluarga sedangkan Ayah sebagai pemimpinnya. Hal itu ditegaskan Rasulullah Saw lewat sabdanya ,” Kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpin. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang Ibu adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya.”
Kedekatan secara emosional anak dengan Ibu membuat anak lebih bergantung kepada Ibu. Secara khusus Allah Swt menguraikan peran besar seorang Ibu yang tidak bisa diambilalih oleh  Ayah.
 “Dan Kami perintahkah kepada manusia berbuat baik kepada dua orang Ibu Bapaknya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman:14)
Penghormatan kepada ibu ditunjukkan dalam peristiwa tidak diperkenankannya Jaahimah salah seorang sahabat, untuk berangkat berjihad karena masih memiliki seorang ibu. Ketika dia meminta izin kepada Rasulullah Saw, Rasulullah Saw bersabda, Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya , karena surga ada di bawah telapak kakinya.”
Kemuliaan Peran Ibu
Ibu adalah  pendidik  utama dan pertama bagi para  buah hatinya. Seorang Ibu adalah peletak dasar jiwa  kepemimpinan pada anak dan mempersiapkannya menjadi generasi pejuang. Ketika Ibu memeluk dan menyusui, ia mengajarkan rasa aman. Ketika ibu memeluk dan menidurkan buah hatinya, itulah momen dimana Ibu  mengajarkan kasih sayang. Saat ibu melatih anaknya berjalan, ia mengajarkan semangat agar anaknya  tidak mudah menyerah.
Ibu mengajarkan arti keadilan ketika melerai dan menengahi perselisihan di antara anaknya. Dengan segala kekurangannya, Ibu berupaya menanamkan nilai-nilai kejujuran, kepedulian dan sikap tanggung jawab.

Pada suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah Saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sebagaimana aku berpendapat.  Sesungguhnya Allah Swt mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan perempuan, kemudiaan kami beriman kepadamu dan memba’iatmu. Adapun kami para perempuan terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”
Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah Saw menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkan kalian mendengar pertanyaan seorang perempuan tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”
Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!” 
Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukanlah kepada para perempuan yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, dan meminta keridaan suaminya, saatnya ia untuk mendapat persetujuannya, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki.”
Maka, kembalilah Asma’ sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah Saw. Begitu besarnya apresiasi  Islam terhadap perempuan. 
Begitu luar biasanya Islam dalam memuliakan perempuan, sehingga tak perlu ada perdebatan soal emansipasi perempuan dalam Islam. 
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar