Pages

Rabu, 22 April 2015

Hakikat Khitan Perempuan

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, mengkhitan atau menyunat anak perempuan sudah menjadi kebiasaan sekaligus kewajiban. Kini, tradisi khitan justru menuai kontroversi. 

Ketika dokter menolak mengkhitan anak perempuan saya dengan alasan bahwa proses tersebut tidak ada manfaatnya untuk si anak, saya sempat tercenung. Sementara keluarga besar meminta saya  untuk mencari dokter lain yang mau melakukannya karena hal itu merupakan perintah agama.
Ibarat buah simalakama, saya  yang awalnya sepaham dengan pandangan keluarga besar kini mulai mencari tahu seberapa besar manfaat menyunat bayi perempuan berdasarkan syariat agama.
Memang terdapat silang pendapat di kalangan ulama tentang hukum sunat atau khitan bagi perempuan. Sebagian ulama mengatakan hal itu wajib hukumnya sementara sebagian lainnya berpendapat hukumnya sunnah. Sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang menegaskan bahwa sunat atau khitan pada perempuan itu termasuk fitrah dalam syariat Islam karena merupakan bentuk pemuliaan (makrumah) kepada perempuan.
Ibnu Taimiyah, seorang ulama terkemuka dari Harran, Turki, menjelaskan bahwa proses khitan pada perempuan  adalah dengan memotong daging ( klitoris ) yang paling atas.
Mengenai hal itu, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami”.
Jika tujuan khitan pada laki-laki  untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala penis, maka tujuan khitan pada perempuan adalah untuk menstabilkan syahwatnya.  
Khitan  Versus FGM
Bila ditinjau dari segi medis sebagaimana pegangan dokter yang menolak mengkhitan bayi perempuan saya, khitan tidak memiliki dampak pada kesehatan perempuan, termasuk kesehatan reproduksi perempuan. Berdasarkan istilah medis, khitan disebut Fermale Genital Cutting (FGC) atau Female Genital Mutilation (FMG).  Defenisi FGM ini meliputi seluruh prosedur yang menghilangkan sebagian atau total dari organ genital eksterna , termasuk melukai organ kelamin perempuan karena alasan non medis.
Dalam situs resminya, WHO menjelaskan bahwa FGM meliputi seluruh proses yang mengubah atau menyebabkan perlukaan pada genital eksterna perempuan karena alasan non medis dan prosedur ini tidak bermanfaat untuk perempuan. 
Selain itu, FGM juga dapat menyebabkan perdarahan ,  gangguan buang air kecil dan dalam jangka lama bisa menyebabkan kista, infeksi, kemandulan serta komplikasi pada persalinan yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi baru lahir.
WHO juga melansir terdapat 140 juta anak perempuan dan perempuan di seluruh dunia saat ini hidup dengan akibat buruk dari FGM. Jumlah tersebut sebagian besar terjadi di Afrika, dimana 92 juta perempuan telah mengalami FGM di usia 10 tahun ke atas.
Banyaknya kasus FGM yang berdampak buruk pada perempuan membuat WHO menyatakan bahwa FGM merupakan bentuk pelanggaran hak asasi terhadap perempuan. Kini, setiap tanggal 6 Februari ditetapkan oleh WHO sebagai International Day of Zero Tolerance to Female Genital Mutilation.
Di Indonesia sendiri, khitan menjadi satu paket dengan tindik telinga yang diberikan klinik bersalin  kepada bayi perempuan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 1636/2010 tentang Sunat Perempuan, dijelaskan bahwa khitan perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris tanpa melukai klitoris. 
Khitan perempuan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu, yaitu dokter, bidan dan perawat yang telah memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja serta diutamakan tenaga kesehatan perempuan. Namun, pada Februari lalu, Kemenkes melalui Permenkes No.6/ 2014 telah mencabut Permenkes No.1636/2010 dengan menghapus tradisi sunat pada perempuan.
Di antara kontroversi tersebut, saya kemudian memutuskan tidak menyunat bayi perempuan saya  dan berharap keluarga besar saya  bisa menerima keputusan ini  dengan besar hati.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar