Pages

Kamis, 02 April 2015

Di Balik Lensa Ani Yudhoyono:


Di sela kesibukan sebagai Ibu Negara, beliau kerap mengabadikan berbagai momen dengan kamera profesional yang selalu disandangnya. Hasilnya, tiga buah buku kumpulan foto yang bisa menjadi warisan  berharga untuk bangsa dan negara.  


Tidak banyak Ibu Negara di dunia yang memiliki kesenangan memotret  seperti halnya  Ani Bambang Yudhoyono. Selain telah merilis tiga buah buku kumpulan foto, beliau juga aktif menghimpun para penggemar fotografi lewat akun instagram pribadinya. Lahir dan besar di lingkungan militer, anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Letnan Jenderal (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo dan Hj. Sunarti Sri Hadiyah ini sejak remaja sudah senang memotret.
       
“Tapi karena saya keburu menikah, hobi memotret itu jadi terabaikan. Soalnya, waktu saya kebanyakan habis untuk mengurus suami dan anak,” kata Ibu dari Kapten Inf. Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro ini.

Mengetahui putrinya suka memotret, sang Ayah memberikan hadiah pernikahan spesial untuknya,  sebuah kamera. “Itu merupakan kado pernikahan paling indah buat saya.”

Awalnya, objek utama foto-fotonya adalah buah hatinya, Agus dan Ibas. Tapi kini, keindahan flora dan keunikan fauna yang ada di Indonesia justru menjadi hal menarik untuk sasaran kameranya.

“Saya sering hunting foto ke berbagai daerah terutama saat sedang mendampingi Bapak bertugas. Sebagian besar objek foto saya adalah bunga beserta serangga yang sedang menghinggapinya. Dari sering memotret bunga dan serangga, saya justru mendapat hal menarik kalau warna serangga itu sama dengan bunga yang sedang dihisap sari madunya. Saya tidak tahu apakah serangga itu hanya menghisap bunga yang sewarna dengannya atau sebaliknya.”
       

“Menteri Pertamanan”
Selain suka memotret, Ani juga sangat menyukai tanaman. “ Halaman rumah kami yang tidak seberapa luas di Cijantung selalu asri dengan banyaknya tanaman. Secara teratur saya selalu mengganti bunga anggrek di vas dengan yang segar. Saya membeli bunga anggrek itu di pasar Cikini yang tak jauh dari kampus saya. Jadi, kalau pulang kuliah, mampir dulu ke Cikini untuk membeli bunga anggrek. Saking sukanya pada tanaman, saudara-saudara saya menjuluki saya Menteri Pertamanan. Sedangkan kakak saya, Titik, dijuluki Menteri Perairan karena paling rewel kalau air di water toren sudah melimpah,” jelas  lulusan Fakultas Ilmu Politik dari Universitas Terbuka yang sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) sampai tahun ketiga.

Ani terpaksa meninggalkan bangku kuliah karena pindah ke Korea dimana sang Ayah ditugaskan sebagai Dubes RI. Kembali ke tanah air, Ani menikah dengan kekasih hatinya, Susilo Bambang Yudhono yang baru saja dilantik sebagai Perwira TNI sekaligus lulusan terbaik. Akad nikah keduanya berlangsung pada 30 Juli 1976.
       
“Bapak merupakan sosok yang sabar dan penyayang. Meskipun banyak yang bersikap tidak adil terhadap dirinya, tapi beliau selalu menghadapinya dengan sabar. Kalau kritik tersebut berkaitan dengan kinerja beliau yang dianggap kurang baik, tidak mengapa asalkan tidak menjurus pada hal yang berbau fitnah. Selama mendampingi Bapak, saya tahu persis bagaimana suami saya selalu bekerja dengan sepenuh hati,” kata Ani di sela-sela acara peluncuran dua buku kumpulan fotografinya, “ 3500 Plants Species Of The Botanic Gardens Of Indonesia” dan buku “Koleksi Tanaman Herbalia Istana Cipanas” yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-61.
        

Menurutnya, ide pembuatan kedua buku tersebut sangat spontan. “Saya menyaksikan banyak flora yang indah, unik dan langka yang dimiliki oleh hutan lindung di sekitar Istana Cipanas dan Kebun Raya Bogor dan Cibodas. Sayang sekali jika segala keindahan tersebut tidak didokumentasikan sehingga menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda Indonesia. Saya mencintai pohon untuk kehidupan masa depan.”
        Sebagai bentuk kecintaannya yang besar kepada tanaman, Ani menggagas berdirinya Taman Herbalia di Istana Cipanas yang kini memiliki koleksi 400 tanaman herbal.

Kenangan Mangga Harum Manis
Ani bercerita kalau dia belajar tanaman sejak masih di Sekolah Dasar lewat kegiatan Pramuka. “Saya masih ingat bagaimana kakak pembina menyuruh kami mencari berbagai jenis tanaman dan menuliskan namanya. Itulah pertama kali saya mengenal nama-nama tumbuhan.”

Kenangan lainnya pada tanaman terukir jelas di kediaman masa kecilnya di Komplek Perumahan Angkatan Darat ( KPAD ) Cijantung, Jakarta Timur. “Suatu hari, ibu-ibu pengurus RT di Cijantung mendatangi rumah kami dalam rangkaian kegiatan Hari Ulang Tahun RI, saya lupa tahun persisnya kapan. Dari hasil penilaian mereka terhadap rumah-rumah yang paling asri di Cijantung, rumah kami terpilih sebagai juara ketiga. Kami mendapat hadiah berupa pohon cangkokan mangga harum manis. Pohon tersebut kami pelihara dengan baik hingga berbuat sangat lebat. Buahnya harum dan rasanya sangat manis,” ujar Ani yang di hari ulang tahunnya ke-61 itu  membingkiskan pohon cangkokan manggis dan nangdak (nangka cempedak) kepada semua tamu yang hadir.
       
Setelah menjadi Ibu Negara, Ani dikenal konsern terhadap masalah pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan perempuan. Beliau juga mengampanyekan imunisasi polio dan memelopori rumah pintar dengan fasilitas pendukungnya berupa mobil pintar, kapal pintar, bis pintar dan motor pintar. Sampai saat ini di Indonesia telah terdapat 154 unit mobil pintar, 410 unit motor pintar , 6 unit kapal pintar dan 6 unit kapal pintar.

Atas berbagai gagasannya dalam mendukung Program Indonesia Pintar sebagai upaya memberantas buta aksara dan mendapat dukungan UNESCO, Ani secara khusus diundang menghadiri “Asia Pacific Regional Conference” yang berlangsung di Beijing.
        
Selain Program Indonesia Pintar, bersama Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), Ani menggagas berbagai program yang mencerdaskan seperti Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif dan Indonesia Peduli.
        
“Kegiatan tersebut membuat saya tidak punya waktu untuk memotret. Makanya saya lebih sering memotret dari atas mobil, pesawat dan kapal laut. Jadi, harus cepat dan mata harus jelalatan. Saya tidak pernah belajar memotret secara khusus. Guru saya hanya juru foto istana dan teman-teman di instagram,” jelas Nenek dari dua cucu kesayangannya, Almira Tunggadewi Yudhoyono dan Airlangga Satriadhi Yudhoyono. Ani berharap bisa membuat manfaat buat bangsa dan negaranya dengan kecintaannya pada memotret dan menanam pohon.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar