Pages

Kamis, 02 April 2015

Darah Zahara

    


Karima hanya bisa memandang ladang aprikot itu dengan masygul.  Sudah belasan tahun dia meninggalkan Homs dan kenangan yang mengikat bersama Zahara. Dulu, mereka selalu menghabiskan hari di ladang aprikot milik keluarga Zahara ini. Di ladang yang luas ini pula Karima menjadi orang pertama yang mengetahui bagaimana perempuan memasuki masa balighnya. Zahara menangis ketika melihat ada bercak darah di ghamisnya.

"Zahara, kamu berdarah. Apakah kamu terluka?" Karima ikut menangis ketakutan. Dia merasa khawatir dengan keadaan Zahara. 
   "Ini bukan luka tapi pertanda buruk untukku, Karima." Tangis Zahara semakin kencang. 
   "Kabar buruk apa, maksudmu?"

  "Aku pernah melihat kakakku berdarah seperti ini lalu ibuku memanggil Bibi Husna untuk mencarikan jodoh buat kakakku. Aku takut nasibku akan sama dengan kakakku, Karima."

               
Apa yang ditakutkan Zahara benar-benar terjadi. Tak lama setelah peristiwa di ladang aprikot itu, Karima harus merelakan kepergian Zahara yang dibawa suaminya ke Aleppo. Sejak itu pula, Karima tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Zahara. Sampai kemudian dia menerima sebuah paket berisi surat dan beberapa lembar foto dari Zahara. Betapa besar kerinduan Karima pada sahabat masa kecilnya itu.

 "Sudah lama Anda menunggu?" Karima terkejut mendengar suara di belakangnya. Ini bukan seperti suara Zahara yang dia kenal dan masih membekas di ingatannya. Sementara matahari sudah tenggelam di sudut ladang aprikot yang luas itu. Dingin semakin kuat. Barisan pohon zaitun yang memagari ladang itu semakin mempertegaskan kedatanan senja.
     "Siapa Anda? Mana Zahara?" Karima mengatupkan tangannya menyambut salam laki-laki itu.
      "Saya datang mewakili Zahara. Dia minta maaf karena tidak bisa menemui Anda di tempat ini. Sebuah peristiwa membuat Zahara terpaksa meminta Anda menemuinya di suatu  tempat. Saya akan mengantarkan Anda ke sana." Suara laki-laki itu begitu tegas, datar dan dingin.
     "Bagaimana saya bisa mempercayai ucapan Anda. Saya sama sekali tidak mengenal Anda."
     "Saya pengacara Zahara."
Perasaan Karima semakin tidak menentu. Perjalanan menuju Damaskus bersama laki-laki yang mengaku pengacara Zahara itu terasa sangat panjang dan menyiksa. Mobil Fiat kuno yang dikendarai laki-laki itu memasuki kawasan Old Damaskus, tepat  di sebuah rumah yang sama tuanya dengan kota itu.
 "Zahara menunggu Anda di lantai atas."

Persendian Karima lemas seketika. Seolah ada kekuatan maha dahsyat yang mencabut paksa sendi-sendi yang menyangga tubuhnya. Zahara tidak menyongsongnya dengan riang seperti harapannya. Seluruh tubuh sahabatnya itu penuh luka bakar tanpa menyisakan sedikitpun untuk Karima bisa menyentuhnya. Bahkan menangispun membuatnya kesakitan. 

     "Darah itu petaka buatku, Karima. Tapi aku sangat merindukanmu. Aku terus mengenangmu. Aku berharap kamu mau menjaga anakku karena mereka tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku telah membunuh ayah mereka."








Tidak ada komentar:

Posting Komentar