Pages

Jumat, 24 April 2015

Batas Privasi Dengan Suami

Tidak semua hal harus diceritakan kepada suami, termasuk rahasia masa lalu yang bisa jadi  membuatnya terluka.
Waktu pergi nonton bersama suami, tanpa sengaja teman saya bertemu dengan mantan kekasihnya. Sejak kejadian itu, suaminya mulai suka menanyakan berbagai hal yang tidak penting. Mulai dari apa saja yang mereka lakukan ketika pacaran, tempat mana saja  yang mereka datangi saat pacaran hingga menanyakan alasan mereka putus dan pertanyaan itu selalu diulang-ulang. Hal ini tentu saja membuat teman saya kesal sehingga pertengkaran pun tidak dapat dielakkan.
“Sebenarnya saya sudah menceritakan kepada dia tentang semua masa lalu saya, termasuk tentang mantan kekasih saya yang ini. Karena menganggap itu semua sudah berlalu dan dia telah menjadi suami saya, saya menceritakan semuanya dengan terbuka, apa adanya. Tapi hasilnya, dia malah marah dan cemburu," kata teman saya. 
Beruntung suami saya tidak pernah kepo dengan masa lalu saya karena menurutnya  segala hal yang tidak ada hubungannya dengan rumah tangga kami, tidak perlu dibahas lagi. Lebih baik menatap hari depan bersama-sama. Saya juga melakukan hal yang sama padanya. 
Bijak Memilah & Memilih
Dalam hidup berumahtangga, memang sudah seharusnya tidak ada lagi rahasia di antara suami dan istri. Namun terkadang, kejujuran justru bisa menuai buah pertengkaran. Tidak semua rahasia bisa diceritakan kepada suami, terutama jika suami memiliki sifat cemburu yang berlebihan. Umumnya hal yang menyebabkan pertengkaran itu adalah rahasia pribadi yang terjadi sebelum menikah.
Menurut Adib Setiawan, M.Psi, meski secara teori suami istri harus saling terbuka, namun banyak pasangan yang tetap membutuhkan privasi untuk dirinya sendiri dan merahasiakan sesuatu dari pasangannya.
“Salah satu hal yang menjadi pertimbangan utama merahasiakan sesuatu dari pasangan adalah karena tuntutan tugas dimana pasangan tidak memiliki kepentingan dengan tugas tersebut. Atau bisa jadi, kalau menceritakannya justru menambah beban pasangan. Misalnya, seorang pengacara, dokter  dan psikolog dilarang menceritakan persoalan klien kepada pasangannya,  ” jelas Adib.
Sedangkan Widiawati Bayu, Spsi menjelaskan bahwa ikatan pernikahan bukan berarti meleburkan dua pribadi menjadi satu sehingga tidak ada lagi sekat dan ruang untuk menjadi diri sendiri.
“Mereka tetap memiliki ruang pribadi dan memiliki “rahasia” yang kemungkinan tidak perlu dibagi kepada pasangannya. Namun, hal ini tentunya harus disertai dengan tanggungjawab dan memiliki kesadaran untuk tidak menyalahgunakan ruang privasi ini.”
Banyak pertengkaran yang dimulai dari membahas tentang masa yang telah berlalu sehingga mengabaikan masa depan yang jauh lebih penting.Ih, rugi amat!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar