Pages

Minggu, 15 Maret 2015

Unforgettable Journey

 “Tidak dikerahkan melakukan suatu perjalanan kecuali menuju tiga masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Mekkah), dan Masjidku (Masjid An-Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsha (di Palestina)”. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Suasana kantor siang itu sama seperti siang-siang sebelumnya. Meriah dengan tawa dan kelakar serta saling melempar candaan, padahal majalah sedang memasuki masa tenggat. Tak lama kemudian, Bu Tila, memanggil saya ke ruangannya. Di sana, telah duduk dengan manis Neno Warisman, yang biasa saya panggil Bunda Neno.

"Ade, Mba Neno, sekarang membuka travel umrah dan haji yang bekerjasama dengan Kaltrabu. Mba Neno ingin mengajak NooR meliput perjalanan perdana travelnya, dan Ibu memberikan kepercayaan meliput ini kepada Ade. Inshaallah, setelah umrah, perjalanan dilanjutkan ke tempat-tempat yang bersejarah yang merupakan jejak Rasulullah dalam menyebarkan Islam,,,,,,  bla,,, bla ,,," Saya tidak bisa lagi mendengar apa yang diucapkan atasan saya itu. Yang saya tahu, tubuh saya merasakan getaran yang sangat hebat. Mimpikah saya?
"Bagaimana, Ade? Bunda yakin, Ade bisa menulis dengan dalam perjalanan sirah Rasul kita nanti. Bunda sudah banyak membaca tulisan Ade di NooR,,, bla,,, bla,,, " Sekali lagi saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Bunda Neno. Tubuh saya semakin bergetar dengan hebatnya. Apakah ini nyata? 
Kejadian yang berlangsung empat tahun silam sangat membekas di hati saya. Setiap kali saya mengingat pertemuan antara saya, bu Tila dan Bunda Neno di siang itu, hati saya kembali merasakan getaran yang sama. 

 Masjid Nabawi, Masjid Rasulullah                       

Tak sampai sebulan setelah perbincangan di ruangan bu Tila itu, saya sudah berada di pesawat Garuda yang membawa saya dan rombongan menuju Madinah. Dalam perjalanan ini pula saya mengenal Arisona, yang kini menjadi sahabat saya. Gadis muda yang tak bisa diam dan menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk melakukan travelling ke berbagai negara. Sebagai seorang reporter sekaligus kamerawati yang terampil, Ari sering ditugaskan meliput dan mewawancarai selebriti papan atas negeri ini. Belakangan, dia mengaku jenuh dengan pekerjaannya. 
Madinah, saat saya menginjakkan kaki di sana, seolah memperlihatkan sosok Almarhum Ayah yang selama 13 tahun menetap di negeri kesayangan Rasulullah Saw ini. Air mata terus berlinang, mengenang bagaimana  Ayah yang seorang anak pedagang miskin terpaksa tinggal di panti asuhan demi bisa sekolah. Kegigihan Ayah belajar mengantarkannya menerima beasiswa kuliah di Universitas Madinah. Meski sudah meraih gelar LML, tapi Ayah memilih tidak kembali ke Indonesia, melainkan bekerja di Madinah dan mengirimkan sebagian gajinya untuk membantu biaya sekolah keempat adiknya. Ayah kembali ke Indonesia tahun 1968 dan menikahi Almarhumah Ibu yang merupakan putri bungsu dari seorang ulama terkemuka sekaligus pendiri Aljamiyatul Washliyah, K.H. Arsyad Thalib Lubis.
Saya dan rombongan sampai di Madinah menjelang subuh. Saya memilih langsung menuju Masjid Nabawi yang hanya berjarak selemparan batu dari hotel tempat saya menginap. Suhu Madinah yang sejuk, semakin membuat saya jatuh cinta dengan kota ini.  Subhanallah... sungguh indah masjidmu ini ya Rasulullah... ! Saya suka sekali memandangi payung-payung yang berbaris di depan Nabawi, melihat payung-payung raksasa itu terbuka dan kembali menutup sendiri, menjadi salah satu hal yang saya nantikan.
Yang jelas, selama empat hari di Madinah, saya benar-benar merasakan kehadiran Ayah di dekat saya.
Masjid Nabawi
Sebelum meninggalkan Madinah menuju Mekkah
Bersama Mba Fitri, Bunda Neno dan Ari di Medan Magnit

Di Peternakan Unta
Masjidil Haram

Tiada hal yang paling saya impikan selain bisa menjadi tamu di Baitullah. Sungguh merupakan keharuan yang tak terlukiskan dengan kata, ketika bis yang saya tumpangi bersama rombongan jamaah Neno Tour dan Kaltrabu, meninggalkan Madinah menuju kota Mekkah. Suara talbiyah yang terus berkumandang di dalam bis semakin membuat air mata saya terus menetes. Terimakasih ya Allah atas kesempatan yang Kau berikan ini...

"Labbaik Allahumma Labbaaik, labbaaik Laa Syarika Laka Labbaaik Innal Hamda Wan Ni'mata Laka Wal Mulka La Syarikalak....

Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milik-Mu, begitu juga kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu."

Saya tidak akan pernah melupakan, bagaimana seusai melaksanakan tawaf, sya'i dan tahallul, Saya, Ari dan Mba Fitri, berbaring di atas sajadah sambil memandangi langit, kemudian memandangi kakbah yang berdiri tepat di depan kami dan kami berpelukan haru.

Kami kembali berbaring, memandangi langit dan memandangi kakbah, lalu duduk dan kembali berpelukan. Saya tidak tahu beberapa kali kami melakukan gerakan yang sama, berbaring sambil memandangi langit lalu memandangi kakbah kemudian berpelukan. Itulah salah satu momen terindah dalam hidup saya.

Sekilas saya melihat seorang laki-laki berpakaian ihram berjalan dengan seorang perempuan yang mengenakan mukena. Pada bahu laki-laki itu duduk seorang bocah laki-laki yang berwajah.... Ya Allah! Saya melihat dengan sangat jelas, mereka adalah Almarhum Ayah, Ibu dan anak laki-laki saya..! Ketika saya ingin menghampiri mereka, dengan cepat mereka lenyap dari pandangan saya. 


Subhanallah...
Masjidil Aqsa

Kesedihan yang berat belum bisa saya lepaskan saat melaksanakan tawaf wadha', tawaf perpisahan. Ya Allah, izinkan saya kembali ke rumah-Mu ini bersama orang-orang yang saya sayangi, suami dan anak-anak saya, Amiin. 

Menjelang senja, kami bergerak menuju Jeddah dan menghabiskan semalam yang tersisa untuk menikmati keindahan kota ini . Besok, pagi-pagi sekali kami akan melanjutkan perjalanan ke Suriah  melalui Yordania. 

Menumpang pesawat Royal Jordan, kami meninggalkan Jeddah menuju Yordania. Negeri  indah ini hanya menjadi tempat transit. Tapi saya tidak akan melupakan manisannya yang lezat. Mengingat Masjidil Aqsa berada di kawasan yang dikuasai Israel, maka kami hanya membawa barang secukupnya untuk tiga hari di sana. Sementara barang-barang lainnya dititipkan di sebuah toko suvenir dengan pemilik seorang laki-laki tua yang ramah. Toko ini bahkan menerima uang rupiah untuk bertransaksi. Welcome drink di toko ini berupa teh cinnamon hangat yang nikmaaaat sekali. 
Sepanjang perjalanan menuju Allenby, border antara Yordan dan Israel, Bunda Neno mengajak kami berdoa agar dimudahkan melewati border tersebut. "Ingat ya, nanti waktu di imigrasi, bila no stamp sama petugasnya ya," Bunda Neno mengingatkan. Tapi, kami tidak bisa menahan tawa saat menyadari kalau Pak Tohir, salah seorang jamaah merapalkan doa yang tidak biasa. Di saat kami berzikir : 
Hasbunallah wani’mal-wakîl, ni’mal-mawlâ, wani’man-nashîr"
"Cukuplah Allah tempat berserah diri bagi kami,  sebaik-baik pelindung kami, dan sebaik-baik penolong kami",
Pak Tohir malah terus berucap," No stamp! No Stamp! No Stamp!..." 
"Saya kan ngga bisa bahasa Inggris, jadi takut salah sebut aja," katanya polos. 
Allah berkehendak lain, Pak Tohir yang sedemikian takutnya ditahan tentara Israel, justru menjadi orang pertama dari rombongan kami yang berhasil melewati pemeriksaan imigrasi Israel. Saya sendiri bersama mas Tono, justru ditahan selama empat jam karena di paspor tertera pekerjaan kami sebagai jurnalis.

Saya tidak bisa melupakan bagaimana sikap tentara Israel mencecar saya dengan berbagai pertanyaan sementara tangan mereka terus mengokang senjata. Yang terbayang, hanya wajah suami dan kedua putri saya, selebihnya, pasrah. 

Bunda Neno sebagai tour leader menghampiri saya, memeluk saya untuk berbagi kekuatan. Dia membawa satu cup teh hangat dan beberapa potong kukis. Itulah kukis paling nikmat yang pernah saya makan.

Menjelang ashar, barulah petugas imigrasi di Allenby melepas saya, setelah empat jam membiarkan saya dalam kecemasan tak terkatakan. 

Selama tiga hari, kami menyusuri jejak Rasulullah di Palestina, Bethlehem dan Jerussalem. Mengunjungi  dan berziarah ke makam Nabi Ibrahim As di Masjid Hebron, Palestina serta makam Rabiatul Adawiyah. Puncak dari semua perjalanan ini saat saya memasuki Masjidil Aqsa dan Dome of the Rock, tempat dimana Rasulullah menaiki Buraq dalam peristiwa Isra' dan Mi'radj.  Ya, Allah begitu besar nikmat yang Engkau karuniakan kepadaku. Sungguh menjadi perjalanan yang tak mungkin bisa saya lupakan.  

Kalau saat pemeriksaan kita mengatakan No Stamp, maka petugas imigrasi Israel akan menggantinya denan form ini
Menggenapkan perjalanan di Masjidil Aqsa

Bagian dalam Masjidil Aqsa
Jericho, kota pertama yang ada di muka bumi
Soulmate dalam perjalanan



3 komentar:

  1. Hmmm.....kenangan yg tdk terlupakan

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus