Pages

Selasa, 10 Maret 2015

Turis Terakhir di Suriah

Melakukan perjalanan di negeri yang tengah dilanda konflik merupakan pengalaman yang tak akan saya lupakan.Kota Aleppo yang indah, kini tinggal kenangan...


Cuaca dingin menyambut kedatangan saya di Suriah. Saat memasuki perbatasan antara Suriah dan Yordania, angin yang menerpa serasa menampar wajah saya. Tampak salju masih tersisa di puncak-puncak bukit. Perkebunan aprikot yang juga merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat  di Suriah menghampar hijau, tak ubahnya permadani yang sangat luas.
          Hari mulai meninggi sehingga membuat paduan teriknya matahari dan dinginnya cuaca memerihkan kulit. Pilihan ke Suriah, tidak hanya karena negeri ini meninggalkan banyak jejak sejarah perjuangan Islam tapi juga negeri yang dicintai Nabi. Suriah yang dulunya dikenal sebagai negeri Syam merupakan kota yang menjadi awal kiprah berniaga Rasulullah Saw. Bersama pamannya, Abu Thalib, Rasulullah Saw yang masih berusia 13 tahun datang ke negeri ini untuk membantu pamannya berdagang.
          Saat memasuki kota Bosra, yang terdapat di Selatan Suriah, mereka bertemu dengan pendeta Bukhairo, orang pertama yang mengetahui kenabian Rasulullah Saw. Gereja dan sebuah situs yang dipercaya sebagai tempat Rasulullah Saw menambatkan untanya, masih berdiri dengan gagah. Masih di Bosra, terdapat gedung teater peninggalan bangsa Romawi yang diperkirakan berusia ribuan tahun.
          Masyarakat di Suriah umumnya dikenal ramah dan sangat bersahabat. Selain itu, mereka juga suka berpiknik dan senang difoto. Merupakan pemandangan yang biasa di sana, melihat satu keluarga menghamparkan karpet di bawah pohon meski hanya untuk menikmati satu cup es krim.
          Tidak hanya keramahan mereka yang membuat perjalanan ke sana menjadi sangat menyenangkan. Penduduk di kawasan Bosra dan Homs juga senang menerima kedatangan tamu asing di rumah mereka. Saat bis yang saya tumpangi tersesat di sebuah pedesaan kecil di Homs, sebuah keluarga dengan ramah menawarkan saya dan penumpang bis lainnya untuk mampir di rumah mereka. Kebetulan saat itu mereka baru saja memanen tomat di kebun mereka.
          Para perempuan di rumah yang sangat sederhana itu mengeluarkan seluruh kursi milik mereka dan dengan cepat menyeduhkan teh hangat untuk kami. Mereka juga menyilakan kami membawa teh tersebut saat pemandu jalan mengajak kami meninggalkan desa tersebut. Mereka juga senang sekali saat saya memotret anak-anak mereka. Sungguh, hal itu menjadi pengalaman yang sangat mengesankan buat saya.


Terkepung Demo

Berada tiga hari di sebuah negara yang memiliki banyak peninggalan sejarah dan tempat berwisata, tentu membuat Thohir yang memandu perjalanan kami ini menjadi sangat perhitungan pada waktu. Semuanya sudah terjadwal dengan ketat. Dia seorang lelaki berusia 30 tahunan yang selalu gelisah dan setiap lima menit sekali melihat jam tangannya.
          Ketika memasuki kota Damaskus yang merupakan ibu kota Suriah, suasana perjalanan sudah mulai  kurang menyenangkan. Tak terhitung berapa kali bis yang saya tumpangi terkepung para demontrans yang sedang melancarkan aksi unjuk rasa mereka terhadap kebijakan pemerintah.
          Thohir juga mulai melarang saya memotret berbagai tempat yang menurutnya bisa membawa saya pada masalah. Selain dilarang memotret aksi unjuk rasa yang berlangsung, saya juga tidak dibolehkan memotret aktifitas mahasiswa di kampus yang di Damaskus. Kota ini memang dikenal sebagai penghasil para hafiz quran terbaik di dunia. Thohir juga bersikap tak kalah tegasnya terhadap rekan saya dari RCTI yang ikut dalam perjalanan Sirah Nabi ini.
           Demo yang awalnya berjalan tertib, dimana para pengunjuk rasa hanya meneriakkan yel-yel anti pemerintah perlahan mulai anarkis saat tentara mengusir mereka dengan paksa. Suara tembakan peringatan dan gas air mata mulai menjadi bagian dari perjalanan saya dan teman-teman.
          Thohir semakin panik dan merasa bersalah dengan kondisi yang tidak nyaman tersebut. Tapi saya dan teman-teman sama sekali tidak memperlihatkan rasa khawatir mengingat hal tersebut juga biasa kami temui di Jakarta. Demo anarkis, tawuran pelajar hingga bentrok antar warga dengan sambitan batu dan senjata tajam juga kerap terjadi di Jakarta. Tapi sama sekali tak terbayangkan kalau demo di Suriah  tersebut sampai berbuntut dengan konflik berdarah dan memakan banyak korban jiwa. Apalagi konflik terparah terjadi di Homs, tempat saya dijamu secangkir teh hangat oleh keluarga petani yang sangat ramah dan menyenangkan. Masih terbayang, wajah anak-anak petani itu yang tersenyum senang saat saya memotret mereka. Saya berharap keluarga petani itu mendapat perlindungan dari Allah Swt.


Keindahan Aleppo

Selain Homs, Aleppo juga merupakan kota terparah akibat konflik. Padahal kota ini merupakan pusat perekonomian Suriah. Di kota ini pula saya dengan mudah mendapatkan akses internet. Butik yang menjual pakaian branded juga banyak terdapat di Aleppo. Warga di kota ini banyak yang menganut agama Kristen.
          Dari Aleppo bersama beberapa mahasiswa Indonesia  saya dan teman-teman  menjelajah Old Damaskus  dan mendapati harta karun terbesar dari sejarah Islam. Masih di Aleppo, terdapat benteng Chitadel dan Masjid Agung Bani Umaiyah dimana terdapat makam Nabi Zakaria As dan anaknya Nabi Yahya As. Suhu yang mencapai 4 derajat celcius tidak menghalangi niat saya untuk menunaikan salat subuh di masjid agung pertama yang dibangun oleh bani Umaiyah itu.
          Masjid Agung Bani Umaiyah lainnya terdapat di Damaskus yang terkenal dengan menara putihnya. Banyak umat Islam meyakini bahwa menara putih itu kelak merupakan tempat  berpijaknya Nabi Isa As saat beliau nanti turun ke bumi.
          Sedangkan Benteng Chitadel, benteng peninggalan Romawi lainnya yang ada di Suriah selain Benteng Crak de Chevalier. Kedua benteng itu merupakan bukti sejarah kegemilangan pasukan muslim saat menaklukkan Suriah di bawah komando panglima perang Khalid bin Walid. Makam panglima heroik dan kharimastik itu terdapat di dalam masjid yang diberi nama sang panglima, Masjid Khalid Bin Walid di kota Homs. Hanya berjarak 2 jam perjalanan dari tempat bersemayamnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang juga terletak di Homs.

        Sayangnya, konflik yang kini sudah mendapat intervensi Amerika Serikat itu telah memorakporandakan sebagian besar peninggalan Islam yang ada di negara itu. Sebuah negeri yang sangat dicintai oleh Nabi. 
kafe tradisiional di Bosra

Benteng Krak de Chevaliers

anak-anak Suriah yang menggemaskan

Bersama tentara Suriah, di depan Masjid Khalid bin Walid

Benteng Chitadel

Old Damaskus

Masjid Bani Umaiyah I, di sini terdapat Makam Nabi Zakaria AS

Masjid Bani Umaiyah II, terdapat Menara Putih yang diyakini sebagai tempat kembalinya Nabi Isa. As

Di tempat inilah Rasulullah Saw menambatkan untanya saat berniaga di negeri Syam bersama pamannya, Abu Thalib
Salah satu sisi dari Bosra, kawasan yang oleh Unesco masuk dalam warisan sejarah  dunia 
Gereja pendeta Bukhaira yang meyakini bahwa Rasulullah Saw adalah Rasul yang terakhir masih berdiri kokoh
Teater Bosra peninggalan bangsa Romawi yang sudah berusia ribuan tahun, sungguh merupakan peninggalan sejarah yang menakjubkan 

4 komentar:

  1. Terima kasih mbak Ade udah posting tulisan nan apik ditambah foto-foto indahnya tentang Suriah. Dulu sempat kepikiran pergi ke negara ini. Namun kini harus (sementara) terkubur karena kondisi keamanan di sana. Beruntung mbak Ade sempat mengabadikan tempat-tempat itu sebelum akhirnya luluh lantak akibat egoisme kelompok :'(

    Salam hangat dari Kairo... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak, mba.... betapa besar hati saya, mba sudah meluangkan waktu mampir ke blog saya... iya, mba, kebetulan, saya dan rombongan adalah turis terakhir yang berkesempatan berwisata di Suriah. kini semuanya telah luluh lantak... waktu kami di sana, masih demo di beberapa lokasi, tapi belum terjadi konflik.

      Hapus
  2. Tks, Dek. Sepertinya, aku bakal rajin ini main ke rumah mayamu buat baca yang "destination". Suka ah. ^_^

    BalasHapus
  3. Makasih banyak ya wik, sdh berkenan mampir...

    BalasHapus