Pages

Minggu, 15 Maret 2015

Sang Maestro

Mereka mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat martabat seni dan budaya Indonesia di  mata dunia. Meski mereka telah tiada, karya mereka tetap menjadi kebanggaan bangsa. Karena mereka adalah Sang Maestro...


Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia



Semasa hidupnya, lelaki kelahiran Cirebon  1907 ini telah menghasilkan lebih dari 2000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara mampu memukau para pecinta seni lukis dunia sehingga  koran International Herald Tribun menyebutnya Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia. Sedangkan di Florence, Italia, dia diberi gelar Grand Maestro.

Meski lukisannya sulit dimengerti masyarakat awam, setiap karyanya seolah menorehkan kisah tersendiri dengan warna-warna yang hidup. Pelukis yang mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore pada 1974 ini memiliki gaya tersendiri dalam melukis. Dia lebih sering menumpahkan cairan cat dari tube-nya dan kemudian menyapukannya ke kanvas dengan menggunakan jari.

Affandi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melukis. Bahkan menjelang wafatnya pada Mei 1990, dia masih tetap melukis. Dia dimakamkan tidak jauh dari museum yang menyimpan perjalanan hidupnya sebagai pelukis kelas dunia. 


Benyamin Sueb, Seniman Serba Bisa Dari Betawi 





Mengawali karier dari dunia musik dengan menjadi penyanyi gambang kromong, lelaki kelahiran Kemayoran, 5 Maret 1939 kemudian dikenal sebagai salah satu penyanyi papan atas Indonesia bersama  pasangan duetnya,  Ida Royani. 
Selama karier bermusiknya, mantan kondektur bus PPD ini telah menghasilkan lebih dari 75 album lagu yang sebagian besar menjadi hits.

Kesuksesan di dunia musik mengantarkan Benyamin memasuki dunia film. Beberapa filmya seperti Banteng (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradarai Sjuman Djaja menegaskan kemampuan berakting. Lewat film Intan Berduri, Benyamin meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Sepanjang kariernya di dunia film, dia telah bermain di 53 judul film.

Di akhir hayatnya, Benyamin sempat bersentuhan dengan dunia sinetron, di antaranya bermain  di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, garapan Rano Karno. Dia juga merilis album terakhirnya bersama grup rock Al-Haj yang dibentuknya bersama Keenan Nasution. Benyamin meninggal dunia pada 5 September 1995 sebagai maestro komedian kebanggaan Indonesia. 


Gesang, Mendunia Lewat Bengawan Solo



Lahir sebagai Gesang Martohartono di Surakarta pada 1 Oktober 1917. Dia dikenal sebagai maestro keroncong Indonesia lewat lagu Bengawan Solo, yang diciptakannya saat berusia 21 tahun. Lagu tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia tapi juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama Jepang. Sampai saat ini, lagu Bengawan Solo telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa di dunia.

Selain lagu Bengawan Solo, Gesang juga menciptakan banyak lagu lainnya, di antaranya Jembatan Merah dan Sapu Tangan. Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya mengembangkan musik kroncong, pada 1983, Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo yang pengelolaannya dibiayai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang. Gesang meninggal dunia, Kamis, 20 Mei 2010 setelah didera berbagai komplikasi penyakit. 


Mimi Rasinah, Empu Tari Topeng Cirebon



Kecintaan perempuan yang lahir di Indramayu, 3 Februari 1920 ini pada tari topeng tak goyah sampai akhir hayatnya. Sejak kecil, Rasinah sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan Ayahnya. Bersama orangtuanya, Ayah sebagai dalang dan Ibunya menjadi dalang ronggeng, mereka berkeliling mengamen tari topeng. Usia Rasinah  kala itu baru menginjak 7 tahun. 

Ketika Jepang masuk ke Indramayu, rombongan topeng Ayahnya dituduh Jepang sebagai mata-mata dan Jepang memusnahkan semua perlengkapan tari topeng milik keluarga mereka. Dengan tuduhan yang sama, Ayahnya ditembak mati Belanda pada agresi yang kedua. Rasinah sempat berhenti menari topeng selama lebih dari 20 tahun ketika tarling, dangdut dan sandiwara "menggusur" seni tari topeng. Suaminya lalu menjual seluruh topeng dan aksesoris tari sebagai modal mendirikan grup sandiwara dengan Rasinah sebagai penabuh gamelannya. Dengan masygul, perempuan itu terpaksa memendam hasrat menarinya. 

Barulah pada 1994, kemampuan Rasinah menari topeng memukai Endo Suanda dan Toto Ansar Suanda, dosen STSI Bandung yang "menemukan kembali" Rasinah dan topengnya. Kemampuannya menarikan berbagai lakon dan berganti karakter sesuai topeng yang dikenakannya membuat nama Rasinah dikenal hingga mancanegara.

Keseriusan Rasinah menggeluti tari topeng dibuktikannya dengan mempertahankan tradisi tari ini hingga dia menutup usia pada 7 Agustus 2010. Meski Rasinah telah tiada, kegiatan menari di sanggar tari miliknya masih tetap berjalan. Dia mewariskan seluruh topeng dan aksesorisnya kepada Aerli Rasinah, cucunya. 


Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia




Jasa lelaki kelahiran Bukit Tinggi, 20 Mei 1921 ini untuk dunia perfilman Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia tidak hanya melahirkan film-film bermutu tetapi juga membuat citra perfilman Indonesia  semakin bermartabat. 

Mengingat dia dibesarkan di lingkungan yang agamais, pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) ini selalu menjadikan film sebagai medianya menyampaikan nilai-nilai Islam. Setelah memperoleh besiswa dari Rockfeller Foundation pada 1953, Usmar Ismail mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang menjadi cikal bakal teater sekolahan di Indonesia. 

Selama kariernya, lelaki yang sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini telah melahirkan 25 judul film , di antaranya Darah dan Doa (1950), Enam Jam di Jogja (1950), Dosa Tak Berampun (1951), Lewat Jam Malam (1954), Asrama Dara (1959) hingga Anak Perawan di Sarang Penyamun (1962). Sebagian besar karyanya berhasil meraih penghargaan di berbagai festival film internasional. Hari pertama dimulainya syuting film Darah dan Doa yang dilakukan pada 30 Maret 1950 kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Usmar Ismail tutup usia  pada 2 Januari 1971 dalam usia 49 tahun karena perdarahan di otak. 


WS. Rendra, Burung Merak Nan Flamboyan





Penyair dengan nama asli Willibrordus Surendra Bawana Rendra Broto ini lahir di Solo, 7 November 1935. Dia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta sepulangnya dari Amerika pada 1967. Ketajaman syair-syair puisinya sempat membuat lelaki yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman setelah menjadi mualaf ini, merasakan dinginnya penjara.

Bakat sastra Rendra mulai terlihat sejak dia masih SMP dengan kemampuannya menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Naskah drama Orang-orang di Tikungan Jalan merupakan naskah pertamanya yang memperoleh penghargaan dan hdiah pertama dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta ketika dia SMA. Sejak itu, Rendra semakin bersemangat menulis.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Sebagian besar karyanya juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, hingga India. Ketika masalah politik memorakporandakan kelompok teaternya di Yogyakarta, Rendra kemudia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok pada Oktober 1985.

Pengaruh Rendra di dunia teater Indonesia sangat besar terutama sejak dia menampilkan bentuk lain dari teater yang mengabaikan kata-kata lewat pementasan Bib Bob dan Rambate Rate Rata. Karya yang oleh Gunawan Muhammad disebut sebagai Teater Mini Kata itu menempatkan Rendra sebagai maestro teater Indonesia. Lelaki flamboyan yang dijuluki Si Burung Merak ini meninggal dunia pada Kamis, 6 Agustus 2009 dalam usia 73 tahun. 



Kepak Sang Merak Menuju Surga

August 10, 2009 at 4:06pm
Aku tak tahu
kapan aku bisa bertemu kamu lagi
tapi aku tahu,
kamu telah bertahta dengan gagah
di singgasanamu di surga

seseorang seperti kamu
tak akan terlahir lagi
kalaupun ada
tentu tak kan sepongah kamu
dengan kepak sayapmu yang indah
dan suara kamu yang lantang
menghunjam tepat di jantung mangsamu

aku tak tahu
akan adakah willy lainnya
yang aku tahu
aku pasti akan kehilangan kamu
hari-hari berikutnya
tak kan kutemui kamu di tengah kebon jambu
atau di antara makam sahabatmu
sambil berjalan dengan tangan terlipat anggun di punggungmu
kamu sapa setiap pohon dengan bahasamu
kamu panggil semua anjing piaranmu dengan tegas tapi cinta
lugu, late, mosi, wiron,dan tutul
serta kucing angora kesayanganmu, kliwon,pon-pon,dan puma

tak kan kutemui lagi kamu di dapur
sambil menawarkan nasi goreng buatanmu
yang kamu beri nama nasi goreng bajingan
atau masakan favoritmu sperma ikan paus...

tak kan kutemui lagi kamu di bangku kayu kesayanganmu
di mana kamu bisa melihat siapapun atau apapun yang melintasi jendela
tempat di mana bangku kayu itu berada

yang kutemui hanyalah tempatmu berbaring selamanya
sebuah makam yang masih berwarna merah
yang masih ditutupi aneka kembang bermacam warna
termasuk mawar putih kesenanganmu
dan lembar-lembar puisi serta surat kehilangan
dari para sahabat, kerabat maupun pelayat yang datang menziarahi kamu

selamat jalan, mas willy
banyak do'a untuk kamu
karena aku cinta padamu...!!


cipayung, 9 agustus 2009
persis tengah malam


Lebaran terakhir bersama Rendra



Tidak ada komentar:

Posting Komentar