Pages

Senin, 16 Maret 2015

Putraku Pulang Lebih Dulu


Tak pernah terbayang kalau aku harus merelakan kepergiannya begitu cepat. Dia belum sempat meniup lilin di hari ulang tahunnya yang pertama. Dia masih belum bisa tidur tanpa meraba pipi dan daguku . Dia, putra pertamaku  yang pulang mendahuluiku... Bahkan kaki-kaki kecilnya belum seminggu bisa berjalan dengan benar, lalu dengan tawanya yang khas dia berusaha menghampiriku dengan langkah pertamanya. 
Semua berlangsung begitu cepat, ketika di hari MInggu, 5 November 2000, tangis Naufal memecah dini hari itu. Dia pup... tapi bukan kotoran yang keluar, melainkan darah. Panik, cemas, takut dan bermacam kemelut membuat kami membawa Naufal ke rumahsakit terdekat. "Anak Ibu diare, harus diopname," begitu dokter jaga di senin pagi itu memberi diagnosis. 
Tapi keadaan Naufal semakin buruk. Darah tak berhenti keluar dari anusnya, sementara dokter tak kunjung datang. Sepanjang malam itu, entah berapa kain yang basah oleh darah yang kemudian berubah warna menjadi hitam. Dokter masih tak hadir juga. Baru keesokan harinya dokter datang dan meminta Naufal dirontgen. Aku menggendong Naufal yang sudah tak berdaya karena kehilangan banyak darah. Ya Allah, ingin rasanya bertukar tempat dengan buah hatiku ini. "Anak Ibu mengalami invaginasi dan harus segera dioperasi," vonis dokter.

Selasa, 7 November 2000

Atas kesepakatan keluarga, kami memindahkan Naufal ke rumah sakit yang lebih baik, mengingat pelayanan mengecewakan yang kami dapatkan dari rumahsakit tersebut. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana pembicaraan kami  dengan dokter yang akan menangani operasi Naufal. 
"Anak Bapak dan Ibu mengalami invaginasi, dimana usus besar terbelit dengan usus kecil. Kami akan memotong sebagian usus besar dan usus kecil anak Bapak dan Ibu. Harapan berhasilnya operasi ini sangat kecil. Dari 10, biasanya hanya 1 yang berhasil. Penyakit ini memang tidak bisa diprediksi sejak awal. Apakah Bapak dan Ibu bersedia menandatangani surat pernyataan operasi ini?" 
Bang Haris memelukku, berusaha berbagi rasa takut yang sebenarnya sama-sama kami rasakan.  Rasanya, kami tak pernah berpelukan sekuat ini. Tapi aku  sama sekali tidak menangis. "Lakukan saja, dok. Saya berharap, anak saya menjadi satu yang berhasil itu," ujarku  menegarkan diri. 

Rabu, 8 November 2000
Aku  hanya berdua dengan Naufal di ruang dimana dalam hitungan jam mendatang, dia  akan berjuang menghadapi pisau yang membedah tubuh mungilnya. Aku menggenggam jemarinya yang lemah. Aku berusaha sekuatnya menahan air mata. "Jangan takut, nak, Kamu pasti bisa melewati ini semua, sayang. Kamu jauh lebih kuat daripada pisau-pisau dokter itu. Ayo, nak, kamu pasti bisa..."
Operasi yang berlangsung selama hampir enam jam akhirnya memberi hasil yang membuat kami semua saling berpelukan bahagia. Air mata yang selama ini  kutahan, tumpah seketika. Aku yang saat itu sedang hamil 7 bulan, harus menahan keinginan melihat Naufal pasca operasi karena Naufal harus melewati masa kritis di IICU yang terletak di lantai 3. 

Sabtu, 11 November 2000
Seharusnya, hari itu Naufal akan dipindahkan ke ruangan karena telah melewati masa kritis. Tapi dokter memberi kabar yang menyentak, kalau Naufal harus menjalani rontgen karena Jumat malam, Naufal batuk dan dokter khawatir hal itu berdampak pada kondisi kesehatannya pasca operasi. Dengan perut yang sedang hamil tua, aku menggendong Naufal menuju ruang rontgen yang terletak di lantai 1. Saat itu, Bang Haris sedang menebus obat dan keluarga yang lain belum pada datang. 
"Naufal, jangan menyerah, nak. Kamu pasti kuat, sayang, " bisikku  di telinga Naufal, saat Naufal dibaringkan di meja rontgen. Sepanjang malam itu, kondisi Naufal semakin buruk. 

Minggu, 12 November 2000

Usai subuh, aku sempat tertidur. Tiba-tiba aku merasa berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Di padang rumput itu, aku  melihat seorang perempuan yang sangat cantik berpakaian putih. Aku sangat mengenali wajahnya. Perempuan itu, almarhumah Ibu! Tapi ibu tidak sendiri. Ibu ditemani seorang bocah laki-laki tampan berpakaian seperti pangeran di negeri dongeng. Aku terkesiap menyadari kalau bayi yang tampan itu adalah Naufal...
Sebuah panggilan dari  pengeras suara yang menyebut nama Naufal, membangunkanku. Tanpa memikirkan kondisiku yang sedang hamil, aku berjalan secepat yang aku bisa  menaiki tangga menuju ruang IICU. Bang Haris sedang salat subuh di musolla rumahsakit. 
Aku melihat dokter sedang berusaha memberikan pertolongan terakhir pada Naufal. Sebagian rambutnya sudah dicukur untuk dipasangkan infus, karena di tangan dan kaki sudah menolak. Bang Haris datang menyusul dan kami berdua melihat bagaimana grafik kehidupan putra kesayangan kami berubah menjadi garis panjang ___________________ 

Aku  masih sempat melihat Naufal menatapku dengan air mata terakhir membasahi pipinya, seolah dia mengucapkan kata perpisahan untuk kami. Ya Allah, tempatkanlah buah hati kami di tempat terbaik di sisi-Mu dan pertemukan kami kelak dengan sebaik-baiknya pertemuannya. Aamiin... 

Makam Naufal dan almarhumah Ibu

16 komentar:

  1. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
    Al Fatihah untuk Naufal.

    BalasHapus
  2. Amiiin.... terimakasih banyak ya mba

    BalasHapus
  3. Innalillahi wa innailaihi roojiuun. Turut berdukacita, Kak Adek. Air mata Haya ikut menitik membacanya. Insya Allah Kak Adek sekeluarga bertemu lagi dengan Naufal di jannah-Nya. Aamiin.

    BalasHapus
  4. Amiinnn.... Makasih ya Haya. Terimakasih banyak juga sudah mampir ke blog kakak

    BalasHapus
  5. Y Allah, Mbak Ade, saya baca ini sambil mbrebes mili... :(
    semoga kelak Allah mempertemukan Naufal dan Mbak Ade kembali di surgaNya. Amiiin...

    BalasHapus
  6. Amiin mba RF.Dhonna, terimakasih banyak sudah berkenan mampir ke blog saya, yaa

    BalasHapus
  7. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
    Al Fatihah untuk Naufal.

    Baca awal sampai Akhir ikut mrebes mili.... dada ikut sesak.
    Menunggu di Surga dengan senyum terbaiknya.

    BalasHapus
  8. Amiinnn... Makasih ya mba Zulfa..

    BalasHapus
  9. bacanya sampai mau menetes air mata.Mbak Ade nuliskan ini kembali tidak menangis? pasti nangis ya. Naufal pasti sudah di surgaNya, dan semoga Mbak Ade dipertemukan kelak dengan Nuafal di surgaNya. Ikut berduka cita yang dalam ya Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinn.... mba, terimakasih banyak yaa. sudah lama ingin menuliskan hal ini, tapi baru memulai kalimat pertama saja sudah menangis... setelah dikuatkan baru bisa menuliskannya

      Hapus
  10. Menetes air mata baca blog ade..semoga kelak ade ketemu naufal di surga y de..Alfatihah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinn.... mba.. terimakasih banyak yaaa

      Hapus
    2. Amiiinn.... mba.. terimakasih banyak yaaa

      Hapus
  11. Membaca dengan mata berkaca-kaca..

    sekarang kutuliskan ucapan lisan masalaluku untukmu, "Selamat jalan Muhammad Naufal Ramadhan Nasution.."
    Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin... Makasih banyak ya wak, sudah mampir dan meninggalkan kesan di blogku ini.

      Hapus
    2. Amiin... Makasih banyak ya wak, sudah mampir dan meninggalkan kesan di blogku ini.

      Hapus