Pages

Minggu, 15 Maret 2015

Cinta Rendra dalam Sekeping Koin Yuan



Tertanggal 3 Februari 1976

Ida, 
kesabaran di utara
keberanian di selatan
keuletan di barat
dan harapan di timur letaknya
adapun cinta kita
berada di tengah
dan berada dimana-mana


Sajak itu ditulis dengan rapih di selembar kertas surat kecil. Di sudut kiri kertas surat itu, ada lukisan Cupido yang tengah mengepit panah amornya, dan sekeping koin Yuan bernilai satu perak direkatkan di tengah-tengahnya. Ida menemukannya terletak begitu saja di meja yang ada di teras rumahnya. Sajak itu dari Rendra, laki-laki yang dalam beberapa hari setelah itu meminangnya menjadi istri. 

Ida memang sudah lama mengenal Rendra lewat karya-karya sajak, esay maupun pertunjukan teaternya yang selalu menjadi pemberitaan di semua koran kala itu. Tapi Rendra yang kemudian dikenalnya adalah seorang laki-laki dengan karakter yang sangat unik. Dia merupakan sosok yang bertanggungjawab dengan keputusan dari kata-katanya. Dia pribadi yang kompleks karena bakatnya yang sangat besar. Namun di sisi yang lain, Rendra juga sangat manja dan selalu ingin diperhatikan.

Di awal-awal pernikahan mereka, Rendra memberikan banyak warna dalam kehidupan Ida. Usia mereka yang terpaut sangat jauh, membuat Ida seringkali  tak bisa memahami Rendra sepenuhnya. Apalagi Rendra kerap memberikan kejutan yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Mulai dari kebiasaannya yang suka pergi begitu saja dalam waktu lama lalu muncul dengan tiba-tiba. 

"Suatu malam, saya pernah kelabakan setengah mati karena Rendra tak ada di manapun. Semua teman dan anggota Bengkel Teater Rendra yang saya hubungi juga tidak tahu Rendra ada dimana. Maka jadilah malam itu menjadi malam yang sangat panjang buat saya. Apalagi waktu itu, ketiadaannya ini bisa berarti sangat buruk buat saya dan kedua anak kami, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tahukah Anda, dimana kami kemudian menemukan Rendra? Ternyata ... dia sedang tidur di atas kap mobil kesayangannya!"

Pernah pula Ida didatangi tukang beca langganan mereka yang lari tergopoh-gopoh menghampiri Ida. Dengan napas tersengal, tukang beca tersebut melaporkan kalau dia baru saja melihat Rendra duduk terpaku di dekat saluran air. "Tapi, itulah Rendra yang membuat saya semakin jatuh cinta padanya."


Ritual Yang Hilang

Tak hanya "ajaib", Rendra juga sangat detail. Mandi buat dia, tak ubahnya seperti mempersiapkan sebuah upacara. Ritualnya bisa panjang sekali. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi. Menyisir rambut saja bisa lama sekali. Bahkan ketika di rumah sakit sekalipun, dia tetap harus bersih dan wangi. Dengan infus tergantung di lengannya, dia masih sempat meminta Ida memotong dan merapihkan kuku serta membersihkan kotoran yang terselip di giginya.

Ritual yang sama juga dilakukan Rendra saat hendak mempersiapkan dirinya membaca buku maupun koran. Dia akan menyusun dengan rapih buku-buku yang akan dibacanya pada hari itu. Lalu, buku-buku tersebut disusun berdasar "antreannya". Buku yang akan dibaca pertama diletakkan pada susunan paling atas. 

Rendra sangat memperhatikan penampilannya. Pakaiannya harus tersetrika dengan rapih dan tak boleh ada sehelai alis mata yang keluar dari barisannya. "Namun beberapa tahun terakhir sebelum kepergiannya, dia mengubah cara berpakaiannya. Bila sebelumnya dia hanya mengenakan hem atau t-shirt saja, kini dia mengenakan keduanya sekaligus. Alas kakinya pun berganti menjadi sandal tertutup. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh usianya yang sudah tidak muda lagi."

Setelah kepergian Rendra, Ida selalu lupa bahwa Rendra sudah tidak ada bersamanya lagi. Setiap kali bangun tidur, dia selalu berpikir kalau Rendra sedang ada di kamar kerjanya atau di kamar mandi. Kedua tempat ini merupakan tempat dimana Rendra bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. "Pernah saya mengetuk pintu kamar mandi sambil menanyakan," Kang, masih lamakah kamu di dalam?..." tapi tidak ada jawaban. Setelah tersadar, cepat-cepat saya beristighfar. Dia memang sudah tidak ada..."

Dulu, Ida sering merasa terganggu dengan kebiasaan Rendra berlama-lama di kamar mandi. Karena Ida harus mengalah ke kamar mandi yang lain kalau sudah kebelet mau buang air. Tapi sekarang, tak ada yang menghalanginya mau ke kamar mandi yang mana pun. Rendra sudah tidak ada. Dan dia sangat merindukan Rendra dengan semua upacaranya itu.

Ya Latief... Ya Latief...

Ketika Rendra harus kembali masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya, Ida berharap Rendra bisa mengalahkan penyakit itu seperti setahun dan tiga tahun sebelumnya. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Selama lebih setahun menemaninya di rumah sakit, hubungan percintaan mereka semakin intens. Seringkali keduanya saling mencuri pandang dan kemudian melempar senyum seperti dua sejoli yang sedang berkasih-kasihan. 

"Saat dia tertidur, saya puaskan menatap wajahnya yang begitu damai sambil terus merapalkan  asma Allah. Rendra sangat menyukai asmaul husna, terutama Latief. Setiap kali dia bergumam, pasti gumamannya adalah Ya Latief... Ya Latief...  Seringkali air matanya berlinang seolah menahan kerinduan yang dalam pada Sang Latief, Allah Swt. Bahkan beberapa hari sebelum meninggal, dia sempatkan untuk menuliskan sajak terakhirnya yang ditutup dengan kata, Tuhan, Aku Cinta Padamu."

Rendra juga berpesan kepada semua sahabat yang datang menjenguk agar membacakannya juz ke-30 dalam Alquran atau Juz Amma. Cita-cita besarnya untuk menginvestasikan oksigen bagi dunia juga terus diingatkannya. Rendra ingin menjadikan tanah tempat mereka bermukim sebagai hutan agar terjadi keseimbangan dengan alam. Rendra juga sempat berpesan agar memberikan nama Latifah kepada cucunya yang akan lahir. 

"Pada malam sebelum dia berpulang, saya tak pernah mau jauh dari sisinya. Saya terus membisikan talqin di telinganya, hingga genggaman tangannya melemah dan diam. Kepergiannya begitu indah, seindah sajak-sajak yang ditulisnya."

Rendra pergi pada malam Jumat, malam yang dimuliakan Allah dan bertepatan dengan nisfu sya'ban yang tak kalah mulianya dan dinaungi oleh bulan purnama yang bulat sempurna. Wajahnya demikian tenang seperti bayi yang tidur nyenyak di buaian. Rendra pergi diantar ribuan sahabat dan cinta yang demikian besar. Termasuk cinta yang tak kan berkesudahan dari istri, anak-anak dan cucunya. 

Selamat jalan Mas Willy, Aku Cinta Padamu (ACP)


Cipayung, 2009





Agustusan pertama tanpa mas Willy









Tidak ada komentar:

Posting Komentar