Pages

Selasa, 10 Maret 2015

Belajar Dari Amsterdam

Seandainya Jakarta Seperti Amsterdam...


Membayangkan bisa bersepeda di kota sepadat Jakarta, tiba-tiba saya merasa iri pada warga Amsterdam...



Saya merapatkan coat menahan dingin yang menggigit saat menginjakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda. Perasaan jetlag setelah menempuh penerbangan belasan jam tidak menyurutkan semangat untuk melanjutkan perjalanan dengan subway menuju Amsterdam. 

Kota ini merupakan surganya pada pengendara sepeda. Tapi sama sekali tidak pernah terbayang kalau saya akan menemukan begitu banyak sepeda di depan hotel tempat saya menginap. Tempat parkir empat lantai itu, saya perkirakan menampung ribuan sepeda. Dari begitu banyaknya sepeda yang diparkir di sana, sama sekali tidak ada sepeda yang bagus, sebagian besar malah sepeda ontel seperti yang digunakan para pengojek sepeda di kota tua. Tapi dengan penuh percaya diri, seorang pemuda necis membonceng kekasihnya yang berpenampilan modis dengan sepeda tua itu. Sebuah pemandangan yang tidak akan pernah saya temukan dari remaja di Indonesia. 

Rasa penasaran pada sepeda usang yang menjadi tunggangan warga Amsterdam, saya berkenalan dengan Catty, seorang tukang beca cantik di kota itu. Kalau gadis ini melenggang di Jakarta, minimal dia bisa dicasting jadi pemain sinetron. Selain cantik dan berwawasan, Catty juga bangga dengan pekerjaannya itu.


Para pengendara sepeda di kota ini mendapat previlege yang tidak akan mungkin dimiliki pengendara sepeda di Jakarta maupun kota besar lainnya di Indonesia. Mereka tidak perlu menyingkir saat mobil mengelakson dari belakang seperti halnya pengendara sepeda di negeri saya tercinta. 




Parkir sepeda di depan Hotel Ibis, Amsterdam

Gemboknya segede apa ini?

tiket masuknya 4 euro, mending buat beli tempelan kulkas

Catty, tukang becak yang anak kuliahan

tempat parkir sepeda lainnya



kantor apakah ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar