Pages

Selasa, 10 Maret 2015

Andrea Hirata, Menggubah Ironi Menjadi Masterpiece


Di tangan Andrea, Kampung Belitong yang miskin bisa seindah Edensor dan guru desa berpupur tepung beras laksana seagung Putri Wales. Dia menggubah kisah hidupnya yang tak manis menjadi mahakarya yang dicetak jutaan kopi


Di tengah geliat Jakarta melawan cuaca bulan Desember yang tak begitu ramah, lelaki itu menepati janjinya. Dia menunggu di sudut sebuah kafe sambil menikmati satu cup ukuran jumbo ice orange juice. Berkemeja motif garis-garis dan topi bergaya baret, dia terlihat jauh dari kesan seorang anak bengal berambut ikal yang membuat kedua orangtuanya terpaksa berkali-kali mengganti namanya untuk membuang tulah. Tutur bahasanya santun dan lembut, sedikitpun tak menyisakan betapa keras perjuangan hidup yang telah dilaluinya. 
"Saya pernah menjadi kuli ngambat, pekerja paling kasar yang membantu nelayan mengangkat hasil tangkapan mereka. Pernah menjadi penyelam di padang golf, sales door to door menjajakan panci, petugas fotokopi, sampai menjadi juru sortir di kantor pos. Semua saya lakukan demi kecintaan saya pada pendidikan. Waktu itu, sekolah yang bagus di kampung saya hanya sekolah PN, tapi yang boleh bersekolah di sana minimal orangtuanya berpangkat staf. Selebihnya tidak boleh sekolah di sana. Itu yang aneh, dan hal itu pula yang mendorong saya untuk menuliskan memoar hidup saya ini," kata Andrea. 
Terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin kemudian berganti menjadi Wadudh. Karena kepercayaan orang di kampungnya, nama pertama terlalu berat untuknya. Karena itu pula, menurut mereka, yang membuat kenakalan anak berambut ikal itu melebihi ambang batas kewajaran nakalnya anak-anak. Karena keberatan nama!
Ketika akan berganti nama untuk kesekian kalinya, Andrea mengajukan opsi untuk mencarikan sendiri nama untuknya. Kebetulan ketika itu, dia sedang membaca majalah yang memuat artikel tentang seorang perempuan yang sangat terobsesi  pada Elvis Presley. Nama perempuan itu Andrea Galliano. Nama itulah yang melekat di dirinya hingga kini. 

Memarodikan Ironi

Sebagai orang Melayu tulen, Andrea mengaku sangat mencintai kata-kata. Tak heran, ketiga ketujuh novelnya: tetralogi Laskar Pelangi ( Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov), Novel 11 Patriot dan Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas, sangat kaya dengan kata-kata puitik yang terkadang mengelitik tapi juga melankolik. Ada kisah seru dari masa kanak-kanak yang mengasyikkan, ada pula cerita cinta terlerai yang mengharu biru khas remaja yang sedang dilanda patah hati. 
Meski tak pernah menuliskan sepotong cerpen pun, lelaki yang sangat tergila-gila dengan wahana permainan komidi putar ini, begitu piawai mendeskripsikan sesuatu hingga menjadi hal yang lucu, unik dan indah. Bahkan, saat menggambarkan kuku gadis yang dicintainya pun, bisa membuat pembacanya merasakan kekaguman yang sama. Bak perayu ulung, dia menggambarkan kuku-kuku tersebut laksana batu mirah delima yang terindah di antara tumpukan harta karun Raja Brana yang tak ternilai harganya.
"Itulah kelebihan sastra. Sastra itu bisa membuatmu merasa indah. Sastra bisa membuatmu menghargai hal-hal yang sederhana sekalipun. Sastra bisa menggugah. Saya percaya dengan sosiolinguistik. Itu istilah saya sendiri. Saya punya pendirian seperti ini, kalau saya menceritakan pendidikan dengan tabel-tabel, mungkin orang tidak akan tergugah. Namun, ketika saya memaparkan masalah pendidikan itu dalam bentuk sastra, jadi lain ceritanya. Padahal, ini bukan kisah baru di negeri ini, tentang sekolah yang mau roboh, tentang anak miskin yang tidak bisa sekolah karena tertindas. Semua orang tahu itu," ujar pemain bulu tangkis andal di kampungnya ini. Karena itu pula, ia sempat bercita-cita menjadi penulis buku tentang teknik dan faedah bermain bulu tangkis.
Dengan sastra pula, lulusan Universite de Paris, Sorbonne, Perancis, dan Sheffield Hallam University, Inggris, ini mendeskripsikan rasa cinta pada sekolahnya, guru-gurunya dan kesepuluh sahabat masa kecilnya. 
"Sebenarnya novel ini bukan untuk diterbitkan. Cuma karena waktu itu, Ibu Muslimah sedang sakit, saya ingin mempersembahkan sesuatu sebagai bentuk terimakasih saya kepadanya. Saya menulis Laskar Pelangi selama tiga minggu karena saya ingin buku ini selesai sebelum ada sesuatu hal yang tak diinginkan menimpa Bu Mus. Kemudian buku ini saya jilid sendiri sebanyak 12 buah dan saya kirimkan kepada Bu Mus dan kesepuluh sahabat saya. Alhamdulillah, Bu Mus kemudian sembuh, tapi mungkin bukan karena buku saya," kenang Andrea.
Kecintaannya pada sains juga memberi pengaruh besar terhadap novelnya. " Banyaknya kata indah di dalam novel ini saya juga sebagai bentuk kecintaan saya pada sains. Saya sangat mencintai sains, matematika, biologi, fisika. Itu sebabnya, di dalam novel saya banyak sekali istilah sains. Saya memanjakan intelektualitas pembaca dengan metafora yang bersanding mesra dengan sains. Saya juga memilih mengkritik tanpa memaki-maki. Saya cenderung memarodikan ironi," kata Andrea sambil menyeruput tandas jus jeruknya. 

Royalti Untuk Anak Belitong

Sebagai penulis best seller yang karyanyaa mendunia, mengingat novelnya telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Andrea juga telah menandatangani kontrak dengan penerbit di Spanyol yang akan mendistribusikan novelnya ke Eropa dan Amerika. Bahkan, rumah produksi Plan B milik aktor hollywood Bradd Pit juga berniat memfilmkan Laskar Pelangi, menyusul film Laskar Pelangi yang telah menembus jumlah penonton terbanyak dalam sejarah perfilman di Indonesia. 
Seperti janji yang pernah diutarakannya, dari royalti novel dan film, kini telah berdiri Museum Kata Andrea Hirata, di kampung halamannya. Novel ini pun mampu mengangkat Belitong menjadi magnet baru destinasi wisata Indonesia dengan negeri Laskar Pelangi-nya. 
"Saya sudah sekolah kemana-mana, tapi pendidikaan terbaik justru saya dapatkan dari Bu Mus. Dengan beliau, sekolah justru seperti perayaan, celebration!", seru pengagum Antonio Skarmeta, Truman Capote dan Alan Lightman ini.
Dia adalah Sang Pemimpi dari Belitong. Dia membawa sifat alam yang pantang ditantang. Mulai dari buku pemberian A Ling yang menggambarkan sebuah tempat yang sangat indah bernama Edensor hingga cerita guru SMA-nya tentang universitas di Sorbonne, tempat jutaan orang terpandai di jagat ini menuntut ilmu, telah mencabarnya. Boleh dicatat, anak dari kampung Belitong ini merupakan salah satu lulusan terbaik dengan predikat cumlaude dari Sorbonne.
"Sebenarnya, semua orang itu dapat menjadi apa saja yang diinginkannya. Yang penting, dia memiliki positive thinking dan positive actions, tidak ada yang lain. Cuma umumnya, kita, hari demi hari selalu memarjinalkan diri sendiri, malas belajar dan tidak percaya. Saya penganut nothing to lose mentality. Usaha itu harus, kalaupun gagal, ya coba lagi." 



2007 - 2014



janjian ngopi di kawasan wijaya sambil mendiskusikan dwilogi Padang Bulan dan Cinta dalam Gelas


saat premiere film Edensor 

1 komentar: