Pages

Rabu, 18 Maret 2015

How Are You Maryam? ----- Syria 4 years a go and now



Maryam, gadis kecil yang kutemui di halaman Masjid Khalid bin Walid, Homs, Suriah 


Maryam, apa kabarmu?
Sedang apa kamu saat ini, nak...
Apakah kamu baik-baik saja?
Ada dimana kamu sekarang?
Masihkah kamu bisa menikmati es krim seperti saat pertama aku bertemu kamu...
Masihkah kamu bisa menikmati hangat pelukan ibu dan ciuman hangat ayah seperti saat pertama kita berkenalan, empat tahun yang lalu...
Mestinya, saat ini kamu sudah menjadi gadis keci berusia 6 tahun
Mestinya, saat ini kamu akan tumbuh semakin cantik dengan matamu yang jeli menakjubkan
Maryam sayang, semoga saat aku menulis kata-kata ini, 
kamu sedang tidur dengan tenang di kamar yang nyaman bersama orang-orang yang sangat menyayangimu, keluargamu tercinta.
Aamiinnn......


Pemandangan pertama memasuki Suriah

Menghilangkan kejenuhan menunggu negosiasi alot memasuki Suriah
Ternyata petugas nakal bukan hanya ada di Indonesia :)



                                     cantiknya gadis-gadis Suriah ini...


                                                   and... stylish!


                                               
                                     Lihat, betapa cute-nya mereka...




juga gadis kecil ini...



Benteng Chitadel dulu


                                  
                           .... dan kini


Masjid Khalid bin Walid dulu



dan kini

Benteng Crack des Cevaliers dulu





                                                  ----- dan kini


Masjid Bani Umayyah dulu





dan kini

Kota Damaskus dulu


                                       dan kini


foto : Ade Nur Sa'adah dan Google Images

Selasa, 17 Maret 2015

Sarah El Debuch , To Rome With Love


Ketika konflik melanda tanah kelahirannya, gadis ini melakukan perlawanan dengan membuat  blog.Namun, kematian paman-pamannya di tangan rezim yang berkuasa di Suriah,  mengubah caranya berjuang. Lewat sahabat saya Stefano Romano, saya berkesempatan mewawancarai pemeran Fatima dalam film “Border”  karya Alessio Cremonini ini.  

Ada yang menarik perhatian saat berlangsungnya red carpet di acara Rome International Film Festival 2013 lalu. Seorang gadis cantik mengenakan hijab berjalan dengan anggun di antara selebritas lainnya. Dialah, Sara El Debuch, aktris berbakat berdarah Suriah yang sudah menetap di Roma sejak 1997.
Memang bukan hal yang mudah bagi Sara untuk tampil berhijab di negara dimana umat muslim menjadi minoritas. Namun, Sara tetap konsisten dan komit dengan hijab yang menjadi identitasnya sebagai seorang muslimah.
“ Alhamdulillah, jumlah muslim di Roma kini semakin meningkat sehingga tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dalam menjalankan ibadah. Meski sarana beribadah masih terbatas, inshaallah itu bukan penghalang bagi saya dan umat muslim lainnya yang menetap di Roma,” ujar Sara.
         Kelahiran 10 Juni 1995 di Damaskus ini telah menetap di Roma sejak usianya baru dua tahun. Saat itu keluarganya bermigrasi dari Suriah ke Italia. Konflik yang melanda tanah kelahirannya karena terjadinya revolusi membuat hatinya terpanggil untuk melakukan aksi menentang rezim yang baru.



Dari Blog ke Film
Kondisi Suriah yang semakin tidak menentu membuat Sara  melakukan aksi dengan caranya sendiri.
 “Pada usia 15 tahun, saya mulai membuat blog yang menyuarakan kepada dunia tentang apa yang terjadi di Suriah,” Sara mengisahkan.
Selain itu, bersama beberapa teman, Sara juga melakukan aksi yang nyata dengan mengatur beberapa manifestasi. Keadaan menempa dirinya menjadi seorang aktifis untuk membantu negaranya. Sayang, kejadian yang menewaskan paman-pamannya yang masih menetap di Suriah oleh tentara Suriah membuat Sara memutuskan menutup blog-nya.

“Setelah dua tahun berjuang dengan blog, pada usia 17 tahun, saya menutup blog tersebut. Bukan karena takut, tapi lebih karena tidak ingin sesuatu buruk akan menimpa keluarga saya dan teman-teman saya. Saya berhenti menjadi seorang aktifis untuk langkah yang lebih besar efeknya, main film!”
Sara kemudian memerankan tokoh Fatima dalam film berjudul “Border”, garapan sutradara terkenal Alessio Cremonini. 

Sebagai Fatima  dalam film Border

Film ini mengisahkan suasana perang di Suriah dan Sara menjadi istri seorang pejuang yang diminta suaminya meninggalkan Suriah. 

Dalam film yang menyabet banyak penghargaan bergengsi di Italia ini, digambarkan bagaimana beratnya usaha rakyat Suriah meninggalkan tanah kelahiran mereka yang telah porak poranda karena perang saudara. Di perbatasan itu semua kisah tersebut berlangsung.
“Meski bisa dikatakan saya hanya numpang lahir di Suriah, tapi saya sangat mencintai tanah kelahiran saya dan berharap semua konflik itu berakhr dengan indah,” Sara menambahkan.

Di usianya yang masih belia, Sara dikenal sebagai aktris, model dan pengusaha muda yang sukses di Roma. “Apa pun akan  saya lakukan untuk memperjuangkan tanah kelahiran saya. Kalau dulu lewat blog, kini lewat dunia film dan semua itu saya lakukan dengan penuh cinta kepada Suriah. Kini perjuangan saya semakin bertambah dengan menghadapi para islamophobia yang mengaitkan umat Muslim sebagai pihak di balik banyaknya insiden kemanusiaan. Beruntung, saya memiliki sahabat yang tetap berdiri untuk  saya meski mereka bukan dari kalangan muslim,” ujar Sara yang juga merupakan salah seorang penggiat komunitas muslimah di Roma. 








Bersama Stefano Romano, sang fotografer  yang kini menjadi seorang muslim

Senin, 16 Maret 2015

Street Style in Paris



Warga kota Paris termasuk yang paling fashionable di dunia. Tak heran kalau kota ini menjadi ikon mode dunia selain New York dan Milan. 

Saat saya berkunjung ke Paris, kebetulan sedang memasuki winter sehingga coat, scarf dan sepatu boots menjadi pilihan. Bukan hanya kaum perempuan saja yang tampil stylish, para pria juga terlihat modis. Jalan raya pun tak ubahnya runway yang memuaskan lensa kamera saya. Let's check it out!





















Putraku Pulang Lebih Dulu


Tak pernah terbayang kalau aku harus merelakan kepergiannya begitu cepat. Dia belum sempat meniup lilin di hari ulang tahunnya yang pertama. Dia masih belum bisa tidur tanpa meraba pipi dan daguku . Dia, putra pertamaku  yang pulang mendahuluiku... Bahkan kaki-kaki kecilnya belum seminggu bisa berjalan dengan benar, lalu dengan tawanya yang khas dia berusaha menghampiriku dengan langkah pertamanya. 
Semua berlangsung begitu cepat, ketika di hari MInggu, 5 November 2000, tangis Naufal memecah dini hari itu. Dia pup... tapi bukan kotoran yang keluar, melainkan darah. Panik, cemas, takut dan bermacam kemelut membuat kami membawa Naufal ke rumahsakit terdekat. "Anak Ibu diare, harus diopname," begitu dokter jaga di senin pagi itu memberi diagnosis. 
Tapi keadaan Naufal semakin buruk. Darah tak berhenti keluar dari anusnya, sementara dokter tak kunjung datang. Sepanjang malam itu, entah berapa kain yang basah oleh darah yang kemudian berubah warna menjadi hitam. Dokter masih tak hadir juga. Baru keesokan harinya dokter datang dan meminta Naufal dirontgen. Aku menggendong Naufal yang sudah tak berdaya karena kehilangan banyak darah. Ya Allah, ingin rasanya bertukar tempat dengan buah hatiku ini. "Anak Ibu mengalami invaginasi dan harus segera dioperasi," vonis dokter.

Selasa, 7 November 2000

Atas kesepakatan keluarga, kami memindahkan Naufal ke rumah sakit yang lebih baik, mengingat pelayanan mengecewakan yang kami dapatkan dari rumahsakit tersebut. Aku tidak akan pernah melupakan bagaimana pembicaraan kami  dengan dokter yang akan menangani operasi Naufal. 
"Anak Bapak dan Ibu mengalami invaginasi, dimana usus besar terbelit dengan usus kecil. Kami akan memotong sebagian usus besar dan usus kecil anak Bapak dan Ibu. Harapan berhasilnya operasi ini sangat kecil. Dari 10, biasanya hanya 1 yang berhasil. Penyakit ini memang tidak bisa diprediksi sejak awal. Apakah Bapak dan Ibu bersedia menandatangani surat pernyataan operasi ini?" 
Bang Haris memelukku, berusaha berbagi rasa takut yang sebenarnya sama-sama kami rasakan.  Rasanya, kami tak pernah berpelukan sekuat ini. Tapi aku  sama sekali tidak menangis. "Lakukan saja, dok. Saya berharap, anak saya menjadi satu yang berhasil itu," ujarku  menegarkan diri. 

Rabu, 8 November 2000
Aku  hanya berdua dengan Naufal di ruang dimana dalam hitungan jam mendatang, dia  akan berjuang menghadapi pisau yang membedah tubuh mungilnya. Aku menggenggam jemarinya yang lemah. Aku berusaha sekuatnya menahan air mata. "Jangan takut, nak, Kamu pasti bisa melewati ini semua, sayang. Kamu jauh lebih kuat daripada pisau-pisau dokter itu. Ayo, nak, kamu pasti bisa..."
Operasi yang berlangsung selama hampir enam jam akhirnya memberi hasil yang membuat kami semua saling berpelukan bahagia. Air mata yang selama ini  kutahan, tumpah seketika. Aku yang saat itu sedang hamil 7 bulan, harus menahan keinginan melihat Naufal pasca operasi karena Naufal harus melewati masa kritis di IICU yang terletak di lantai 3. 

Sabtu, 11 November 2000
Seharusnya, hari itu Naufal akan dipindahkan ke ruangan karena telah melewati masa kritis. Tapi dokter memberi kabar yang menyentak, kalau Naufal harus menjalani rontgen karena Jumat malam, Naufal batuk dan dokter khawatir hal itu berdampak pada kondisi kesehatannya pasca operasi. Dengan perut yang sedang hamil tua, aku menggendong Naufal menuju ruang rontgen yang terletak di lantai 1. Saat itu, Bang Haris sedang menebus obat dan keluarga yang lain belum pada datang. 
"Naufal, jangan menyerah, nak. Kamu pasti kuat, sayang, " bisikku  di telinga Naufal, saat Naufal dibaringkan di meja rontgen. Sepanjang malam itu, kondisi Naufal semakin buruk. 

Minggu, 12 November 2000

Usai subuh, aku sempat tertidur. Tiba-tiba aku merasa berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Di padang rumput itu, aku  melihat seorang perempuan yang sangat cantik berpakaian putih. Aku sangat mengenali wajahnya. Perempuan itu, almarhumah Ibu! Tapi ibu tidak sendiri. Ibu ditemani seorang bocah laki-laki tampan berpakaian seperti pangeran di negeri dongeng. Aku terkesiap menyadari kalau bayi yang tampan itu adalah Naufal...
Sebuah panggilan dari  pengeras suara yang menyebut nama Naufal, membangunkanku. Tanpa memikirkan kondisiku yang sedang hamil, aku berjalan secepat yang aku bisa  menaiki tangga menuju ruang IICU. Bang Haris sedang salat subuh di musolla rumahsakit. 
Aku melihat dokter sedang berusaha memberikan pertolongan terakhir pada Naufal. Sebagian rambutnya sudah dicukur untuk dipasangkan infus, karena di tangan dan kaki sudah menolak. Bang Haris datang menyusul dan kami berdua melihat bagaimana grafik kehidupan putra kesayangan kami berubah menjadi garis panjang ___________________ 

Aku  masih sempat melihat Naufal menatapku dengan air mata terakhir membasahi pipinya, seolah dia mengucapkan kata perpisahan untuk kami. Ya Allah, tempatkanlah buah hati kami di tempat terbaik di sisi-Mu dan pertemukan kami kelak dengan sebaik-baiknya pertemuannya. Aamiin... 

Makam Naufal dan almarhumah Ibu

Minggu, 15 Maret 2015

Cinta Rendra dalam Sekeping Koin Yuan



Tertanggal 3 Februari 1976

Ida, 
kesabaran di utara
keberanian di selatan
keuletan di barat
dan harapan di timur letaknya
adapun cinta kita
berada di tengah
dan berada dimana-mana


Sajak itu ditulis dengan rapih di selembar kertas surat kecil. Di sudut kiri kertas surat itu, ada lukisan Cupido yang tengah mengepit panah amornya, dan sekeping koin Yuan bernilai satu perak direkatkan di tengah-tengahnya. Ida menemukannya terletak begitu saja di meja yang ada di teras rumahnya. Sajak itu dari Rendra, laki-laki yang dalam beberapa hari setelah itu meminangnya menjadi istri. 

Ida memang sudah lama mengenal Rendra lewat karya-karya sajak, esay maupun pertunjukan teaternya yang selalu menjadi pemberitaan di semua koran kala itu. Tapi Rendra yang kemudian dikenalnya adalah seorang laki-laki dengan karakter yang sangat unik. Dia merupakan sosok yang bertanggungjawab dengan keputusan dari kata-katanya. Dia pribadi yang kompleks karena bakatnya yang sangat besar. Namun di sisi yang lain, Rendra juga sangat manja dan selalu ingin diperhatikan.

Di awal-awal pernikahan mereka, Rendra memberikan banyak warna dalam kehidupan Ida. Usia mereka yang terpaut sangat jauh, membuat Ida seringkali  tak bisa memahami Rendra sepenuhnya. Apalagi Rendra kerap memberikan kejutan yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Mulai dari kebiasaannya yang suka pergi begitu saja dalam waktu lama lalu muncul dengan tiba-tiba. 

"Suatu malam, saya pernah kelabakan setengah mati karena Rendra tak ada di manapun. Semua teman dan anggota Bengkel Teater Rendra yang saya hubungi juga tidak tahu Rendra ada dimana. Maka jadilah malam itu menjadi malam yang sangat panjang buat saya. Apalagi waktu itu, ketiadaannya ini bisa berarti sangat buruk buat saya dan kedua anak kami, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tahukah Anda, dimana kami kemudian menemukan Rendra? Ternyata ... dia sedang tidur di atas kap mobil kesayangannya!"

Pernah pula Ida didatangi tukang beca langganan mereka yang lari tergopoh-gopoh menghampiri Ida. Dengan napas tersengal, tukang beca tersebut melaporkan kalau dia baru saja melihat Rendra duduk terpaku di dekat saluran air. "Tapi, itulah Rendra yang membuat saya semakin jatuh cinta padanya."


Ritual Yang Hilang

Tak hanya "ajaib", Rendra juga sangat detail. Mandi buat dia, tak ubahnya seperti mempersiapkan sebuah upacara. Ritualnya bisa panjang sekali. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi. Menyisir rambut saja bisa lama sekali. Bahkan ketika di rumah sakit sekalipun, dia tetap harus bersih dan wangi. Dengan infus tergantung di lengannya, dia masih sempat meminta Ida memotong dan merapihkan kuku serta membersihkan kotoran yang terselip di giginya.

Ritual yang sama juga dilakukan Rendra saat hendak mempersiapkan dirinya membaca buku maupun koran. Dia akan menyusun dengan rapih buku-buku yang akan dibacanya pada hari itu. Lalu, buku-buku tersebut disusun berdasar "antreannya". Buku yang akan dibaca pertama diletakkan pada susunan paling atas. 

Rendra sangat memperhatikan penampilannya. Pakaiannya harus tersetrika dengan rapih dan tak boleh ada sehelai alis mata yang keluar dari barisannya. "Namun beberapa tahun terakhir sebelum kepergiannya, dia mengubah cara berpakaiannya. Bila sebelumnya dia hanya mengenakan hem atau t-shirt saja, kini dia mengenakan keduanya sekaligus. Alas kakinya pun berganti menjadi sandal tertutup. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh usianya yang sudah tidak muda lagi."

Setelah kepergian Rendra, Ida selalu lupa bahwa Rendra sudah tidak ada bersamanya lagi. Setiap kali bangun tidur, dia selalu berpikir kalau Rendra sedang ada di kamar kerjanya atau di kamar mandi. Kedua tempat ini merupakan tempat dimana Rendra bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. "Pernah saya mengetuk pintu kamar mandi sambil menanyakan," Kang, masih lamakah kamu di dalam?..." tapi tidak ada jawaban. Setelah tersadar, cepat-cepat saya beristighfar. Dia memang sudah tidak ada..."

Dulu, Ida sering merasa terganggu dengan kebiasaan Rendra berlama-lama di kamar mandi. Karena Ida harus mengalah ke kamar mandi yang lain kalau sudah kebelet mau buang air. Tapi sekarang, tak ada yang menghalanginya mau ke kamar mandi yang mana pun. Rendra sudah tidak ada. Dan dia sangat merindukan Rendra dengan semua upacaranya itu.

Ya Latief... Ya Latief...

Ketika Rendra harus kembali masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya, Ida berharap Rendra bisa mengalahkan penyakit itu seperti setahun dan tiga tahun sebelumnya. Tapi ternyata, Allah berkehendak lain. Selama lebih setahun menemaninya di rumah sakit, hubungan percintaan mereka semakin intens. Seringkali keduanya saling mencuri pandang dan kemudian melempar senyum seperti dua sejoli yang sedang berkasih-kasihan. 

"Saat dia tertidur, saya puaskan menatap wajahnya yang begitu damai sambil terus merapalkan  asma Allah. Rendra sangat menyukai asmaul husna, terutama Latief. Setiap kali dia bergumam, pasti gumamannya adalah Ya Latief... Ya Latief...  Seringkali air matanya berlinang seolah menahan kerinduan yang dalam pada Sang Latief, Allah Swt. Bahkan beberapa hari sebelum meninggal, dia sempatkan untuk menuliskan sajak terakhirnya yang ditutup dengan kata, Tuhan, Aku Cinta Padamu."

Rendra juga berpesan kepada semua sahabat yang datang menjenguk agar membacakannya juz ke-30 dalam Alquran atau Juz Amma. Cita-cita besarnya untuk menginvestasikan oksigen bagi dunia juga terus diingatkannya. Rendra ingin menjadikan tanah tempat mereka bermukim sebagai hutan agar terjadi keseimbangan dengan alam. Rendra juga sempat berpesan agar memberikan nama Latifah kepada cucunya yang akan lahir. 

"Pada malam sebelum dia berpulang, saya tak pernah mau jauh dari sisinya. Saya terus membisikan talqin di telinganya, hingga genggaman tangannya melemah dan diam. Kepergiannya begitu indah, seindah sajak-sajak yang ditulisnya."

Rendra pergi pada malam Jumat, malam yang dimuliakan Allah dan bertepatan dengan nisfu sya'ban yang tak kalah mulianya dan dinaungi oleh bulan purnama yang bulat sempurna. Wajahnya demikian tenang seperti bayi yang tidur nyenyak di buaian. Rendra pergi diantar ribuan sahabat dan cinta yang demikian besar. Termasuk cinta yang tak kan berkesudahan dari istri, anak-anak dan cucunya. 

Selamat jalan Mas Willy, Aku Cinta Padamu (ACP)


Cipayung, 2009





Agustusan pertama tanpa mas Willy









Sang Maestro

Mereka mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat martabat seni dan budaya Indonesia di  mata dunia. Meski mereka telah tiada, karya mereka tetap menjadi kebanggaan bangsa. Karena mereka adalah Sang Maestro...


Affandi, Maestro Seni Lukis Indonesia



Semasa hidupnya, lelaki kelahiran Cirebon  1907 ini telah menghasilkan lebih dari 2000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara mampu memukau para pecinta seni lukis dunia sehingga  koran International Herald Tribun menyebutnya Pelukis Ekspressionis Baru Indonesia. Sedangkan di Florence, Italia, dia diberi gelar Grand Maestro.

Meski lukisannya sulit dimengerti masyarakat awam, setiap karyanya seolah menorehkan kisah tersendiri dengan warna-warna yang hidup. Pelukis yang mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore pada 1974 ini memiliki gaya tersendiri dalam melukis. Dia lebih sering menumpahkan cairan cat dari tube-nya dan kemudian menyapukannya ke kanvas dengan menggunakan jari.

Affandi menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk melukis. Bahkan menjelang wafatnya pada Mei 1990, dia masih tetap melukis. Dia dimakamkan tidak jauh dari museum yang menyimpan perjalanan hidupnya sebagai pelukis kelas dunia. 


Benyamin Sueb, Seniman Serba Bisa Dari Betawi 





Mengawali karier dari dunia musik dengan menjadi penyanyi gambang kromong, lelaki kelahiran Kemayoran, 5 Maret 1939 kemudian dikenal sebagai salah satu penyanyi papan atas Indonesia bersama  pasangan duetnya,  Ida Royani. 
Selama karier bermusiknya, mantan kondektur bus PPD ini telah menghasilkan lebih dari 75 album lagu yang sebagian besar menjadi hits.

Kesuksesan di dunia musik mengantarkan Benyamin memasuki dunia film. Beberapa filmya seperti Banteng (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradarai Sjuman Djaja menegaskan kemampuan berakting. Lewat film Intan Berduri, Benyamin meraih Piala Citra sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Sepanjang kariernya di dunia film, dia telah bermain di 53 judul film.

Di akhir hayatnya, Benyamin sempat bersentuhan dengan dunia sinetron, di antaranya bermain  di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, garapan Rano Karno. Dia juga merilis album terakhirnya bersama grup rock Al-Haj yang dibentuknya bersama Keenan Nasution. Benyamin meninggal dunia pada 5 September 1995 sebagai maestro komedian kebanggaan Indonesia. 


Gesang, Mendunia Lewat Bengawan Solo



Lahir sebagai Gesang Martohartono di Surakarta pada 1 Oktober 1917. Dia dikenal sebagai maestro keroncong Indonesia lewat lagu Bengawan Solo, yang diciptakannya saat berusia 21 tahun. Lagu tersebut tidak hanya dikenal di Indonesia tapi juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama Jepang. Sampai saat ini, lagu Bengawan Solo telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa di dunia.

Selain lagu Bengawan Solo, Gesang juga menciptakan banyak lagu lainnya, di antaranya Jembatan Merah dan Sapu Tangan. Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya mengembangkan musik kroncong, pada 1983, Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo yang pengelolaannya dibiayai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang. Gesang meninggal dunia, Kamis, 20 Mei 2010 setelah didera berbagai komplikasi penyakit. 


Mimi Rasinah, Empu Tari Topeng Cirebon



Kecintaan perempuan yang lahir di Indramayu, 3 Februari 1920 ini pada tari topeng tak goyah sampai akhir hayatnya. Sejak kecil, Rasinah sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan Ayahnya. Bersama orangtuanya, Ayah sebagai dalang dan Ibunya menjadi dalang ronggeng, mereka berkeliling mengamen tari topeng. Usia Rasinah  kala itu baru menginjak 7 tahun. 

Ketika Jepang masuk ke Indramayu, rombongan topeng Ayahnya dituduh Jepang sebagai mata-mata dan Jepang memusnahkan semua perlengkapan tari topeng milik keluarga mereka. Dengan tuduhan yang sama, Ayahnya ditembak mati Belanda pada agresi yang kedua. Rasinah sempat berhenti menari topeng selama lebih dari 20 tahun ketika tarling, dangdut dan sandiwara "menggusur" seni tari topeng. Suaminya lalu menjual seluruh topeng dan aksesoris tari sebagai modal mendirikan grup sandiwara dengan Rasinah sebagai penabuh gamelannya. Dengan masygul, perempuan itu terpaksa memendam hasrat menarinya. 

Barulah pada 1994, kemampuan Rasinah menari topeng memukai Endo Suanda dan Toto Ansar Suanda, dosen STSI Bandung yang "menemukan kembali" Rasinah dan topengnya. Kemampuannya menarikan berbagai lakon dan berganti karakter sesuai topeng yang dikenakannya membuat nama Rasinah dikenal hingga mancanegara.

Keseriusan Rasinah menggeluti tari topeng dibuktikannya dengan mempertahankan tradisi tari ini hingga dia menutup usia pada 7 Agustus 2010. Meski Rasinah telah tiada, kegiatan menari di sanggar tari miliknya masih tetap berjalan. Dia mewariskan seluruh topeng dan aksesorisnya kepada Aerli Rasinah, cucunya. 


Usmar Ismail, Bapak Perfilman Indonesia




Jasa lelaki kelahiran Bukit Tinggi, 20 Mei 1921 ini untuk dunia perfilman Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia tidak hanya melahirkan film-film bermutu tetapi juga membuat citra perfilman Indonesia  semakin bermartabat. 

Mengingat dia dibesarkan di lingkungan yang agamais, pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) ini selalu menjadikan film sebagai medianya menyampaikan nilai-nilai Islam. Setelah memperoleh besiswa dari Rockfeller Foundation pada 1953, Usmar Ismail mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang menjadi cikal bakal teater sekolahan di Indonesia. 

Selama kariernya, lelaki yang sempat menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini telah melahirkan 25 judul film , di antaranya Darah dan Doa (1950), Enam Jam di Jogja (1950), Dosa Tak Berampun (1951), Lewat Jam Malam (1954), Asrama Dara (1959) hingga Anak Perawan di Sarang Penyamun (1962). Sebagian besar karyanya berhasil meraih penghargaan di berbagai festival film internasional. Hari pertama dimulainya syuting film Darah dan Doa yang dilakukan pada 30 Maret 1950 kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Usmar Ismail tutup usia  pada 2 Januari 1971 dalam usia 49 tahun karena perdarahan di otak. 


WS. Rendra, Burung Merak Nan Flamboyan





Penyair dengan nama asli Willibrordus Surendra Bawana Rendra Broto ini lahir di Solo, 7 November 1935. Dia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta sepulangnya dari Amerika pada 1967. Ketajaman syair-syair puisinya sempat membuat lelaki yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman setelah menjadi mualaf ini, merasakan dinginnya penjara.

Bakat sastra Rendra mulai terlihat sejak dia masih SMP dengan kemampuannya menulis puisi, cerpen dan naskah drama. Naskah drama Orang-orang di Tikungan Jalan merupakan naskah pertamanya yang memperoleh penghargaan dan hdiah pertama dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Yogyakarta ketika dia SMA. Sejak itu, Rendra semakin bersemangat menulis.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Sebagian besar karyanya juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, hingga India. Ketika masalah politik memorakporandakan kelompok teaternya di Yogyakarta, Rendra kemudia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok pada Oktober 1985.

Pengaruh Rendra di dunia teater Indonesia sangat besar terutama sejak dia menampilkan bentuk lain dari teater yang mengabaikan kata-kata lewat pementasan Bib Bob dan Rambate Rate Rata. Karya yang oleh Gunawan Muhammad disebut sebagai Teater Mini Kata itu menempatkan Rendra sebagai maestro teater Indonesia. Lelaki flamboyan yang dijuluki Si Burung Merak ini meninggal dunia pada Kamis, 6 Agustus 2009 dalam usia 73 tahun. 



Kepak Sang Merak Menuju Surga

August 10, 2009 at 4:06pm
Aku tak tahu
kapan aku bisa bertemu kamu lagi
tapi aku tahu,
kamu telah bertahta dengan gagah
di singgasanamu di surga

seseorang seperti kamu
tak akan terlahir lagi
kalaupun ada
tentu tak kan sepongah kamu
dengan kepak sayapmu yang indah
dan suara kamu yang lantang
menghunjam tepat di jantung mangsamu

aku tak tahu
akan adakah willy lainnya
yang aku tahu
aku pasti akan kehilangan kamu
hari-hari berikutnya
tak kan kutemui kamu di tengah kebon jambu
atau di antara makam sahabatmu
sambil berjalan dengan tangan terlipat anggun di punggungmu
kamu sapa setiap pohon dengan bahasamu
kamu panggil semua anjing piaranmu dengan tegas tapi cinta
lugu, late, mosi, wiron,dan tutul
serta kucing angora kesayanganmu, kliwon,pon-pon,dan puma

tak kan kutemui lagi kamu di dapur
sambil menawarkan nasi goreng buatanmu
yang kamu beri nama nasi goreng bajingan
atau masakan favoritmu sperma ikan paus...

tak kan kutemui lagi kamu di bangku kayu kesayanganmu
di mana kamu bisa melihat siapapun atau apapun yang melintasi jendela
tempat di mana bangku kayu itu berada

yang kutemui hanyalah tempatmu berbaring selamanya
sebuah makam yang masih berwarna merah
yang masih ditutupi aneka kembang bermacam warna
termasuk mawar putih kesenanganmu
dan lembar-lembar puisi serta surat kehilangan
dari para sahabat, kerabat maupun pelayat yang datang menziarahi kamu

selamat jalan, mas willy
banyak do'a untuk kamu
karena aku cinta padamu...!!


cipayung, 9 agustus 2009
persis tengah malam


Lebaran terakhir bersama Rendra