Pages

Rabu, 30 Desember 2015

Yerussalem, Satu Kota Tiga Agama

Meski merupakan kota suci bagi tiga agama besar di dunia, tapi kota ini selalu dilanda konflik dan peperangan. Tidak ada tempat yang aman terutama bagi anak-anak.

Kota Yerussalem dengan Masjidil Aqsha dan Dome of  The Rock yang dikelilingi Tembok Ratapan (foto : Ade Nur Sa'adah)
Cuaca lumayan dingin saat saya berada di kota ini. Yerussalem menjadi destinasi yang paling penting dalam perjalanan hidup saya. Melihat bagaimana orang-orang beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Yerussalem sebuah kota yang indah dan terletak di Bukit Yudea. Kota ini termasuk kota paling tua yang ada di muka bumi karena sudah dihuni sejak 9000 tahun sebelum Masehi. Dari kota ini pula, banyak Nabi yang memulai dakwahnya, salah satunya Nabi Ibrahim As yang datang ke Yerussalem 1950 tahun sebelum Masehi. Jejak Nabi Ibrahim As masih bisa ditemukan di Masjid Hebron, masjid yang beliau didirikan setelah membangun Kakbah di Mekkah. Di Masjid ini terdapat makam tiga Nabi,  Nabi Ibrahim As, Nabi Yaqub As dan Nabi Ishak As. Terdapat pula makam Sarah, istri Nabi Ibrahim As dan Ribka, istri Nabi Ishak As.  
Masjid ini menjadi saksi kebiadaban Israel saat membantai puluhan umat Islam yang sedang menunaikan salat subuh, 21 tahun yang lalu.
Selain ketiga Nabi tersebut, Nabi Sulaiman As juga membangun istananya, Haikal Sulaiman di kota ini. Orang-orang Yahudi percaya kalau Tembok Ratapan adalah sisa-sisa reruntuhan dari Haikal Sulaiman.
Masjid Hebron 
Selama lebih dari 3500 tahun, kota Yerussalem berulangkali mengalami penaklukan oleh berbagai bangsa dan Tembok Ratapan pun tak pelak menjadi bagian penting yang dipertikaikan. Masa yang paling gelap terjadi ketika Yerussalem berada di bawah kekuasaan Byzantium yang kejam hingga Khalifah Umar bin Khattab membebaskan tanah ini dan umat Islam serta umat Nasrani merasa aman beribadah. 
Namun, sejak negara Israel berdiri tahun 1967, bangsa Yahudi mulai menguasai Tembok Ratapan yang oleh umat Islam disebut Tembok Al Buraq, karena meyakini di tembok itulah Rasulullah Saw menambatkan kuda bersayap bernama Buraq dalam peristiwa Isra Mikraj. . Sejak itu pula, permusuhan antara bangsa Yahudi dan umat Muslim  terjadi, sampai saat ini.
Gerbang memasuki Kompleks Masjidil Al Aqsha (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Masjidil Aqsha dan Dome  of  The Rock
Banyak orang yang menyangka kalau bangunan berkubah emas itu adalah Masjidil Aqsha yang sangat bersejarah. Padahal, itu adalah Qubah Sakhra atau Kubah Batu atau yang lebih populer dengan nama Dome of the Rock. Ketika Rasulullah Saw akan terbang saat Mikraj, beliau menginjak sebuah batu dan batu itu seolah hendak terbang mengikuti Rasulullah Saw yang pergi meninggalkan bumi, kembali ke Mekkah. 
Saat saya berkunjung ke sana, Dome of the Rock sedang mengalami perbaikan. Di dalam bangunan ini terdapat mihrab Rasulullah Saw dan banyak  yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menunaikan salat di tempat ini, termasuk saya. 
Menunaikan salat di Dome of the Rock (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Mihrab Rasulullah Saw
Dome  of  the Rock (foto ; Ade Nur Sa'adah)
Masjidil Aqsha sendiri berdiri di dalam kompleks yang sama. Bangunannya lebih sederhana dari Doom of Rock dan berkubah hijau. Ini adalah masjid para Nabi yang pertama kali dibangun oleh Nabi Adam As setelah beliau membangun Masjidil Haram. Tapi seiring waktu, masjid ini hancur dan kemudian dibangun kembali oleh Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman As. Di masjid ini pula Rasulullah Saw menerima perintah salat dari Allah Swt, subhanallah. 
Masjidil Aqsha (foto: Ade Nur Sa'adah)

Bagian dalam Masjidil Aqsha (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Haikal Sulaiman di Tembok Ratapan
Kompleks Masjidil Aqsha itu sendiri dibentengi oleh tembok memanjang yang salah satu sisinya di sebut Tembok Ratapan. Setiap hari, ribuan umat Yahudi dari seluruh dunia, datang memanjatkan doa di tempat ini. Bahkan ada yang mengatakan kalau facebook terinspirasi dari tembok ini mengingat pendirinya, Mark Zuckerberg adalah seorang Yahudi. Bagi umat Yahudi yang tidak dapat berdoa secara langsung di tembok ini dapat mengirimkan doa yang ditulis dalam sebuah kertas lalu diselipkan di celah-celah dinding yang disebut kvtelach. 
Orang Yahudi meyakini kalau tembok ini adalah reruntuhan dari Haikal Sulaiman dan mereka selalu berusaha menghancurkan Masjidil Aqsha yang berada di balik tembok ini. Hal inilah yang terus menjadi perjuangan umat Islam di dunia, terutama yang bermukim di Palestina.  
tembok ratapan di Yerusalem (foto : Ade Nur Sa'adah)


Umat Yahudi sedang berdoa di Tembok Ratapan (foto : Ade Nur Sa'adah)

Satu keluarga Yahudi usai memanjatkan doa di Tembok Ratapan (foto : Ade Nur Sa'adah) 
Setelah mampir ke Gereja Navitivy, tempat suci umat Kristen, saya juga berkesempatan berziarah ke makam seorang ikon sufi perempuan yang saya kagumi, Rabiah al-Adawiyah. Makam ahli tasawuf ini terletak di Bukit Tur, Yerussalem yang selalu dikunjungi banyak peziarah. Selain makam di Bukit Tur, masyarakat Irak juga mengklaim kalau makam Rabiah juga berada di Bashrah, tempat kelahirannya. Masih di Yerussalem,  terdapat makam sahabat Rasulullah Saw, Salman al Farisi. Beliau adalah pengatur strategi perang yang cerdas dengan siasat penggalian parit pada perang Khandaq. Ini benar-benar merupakan perjalanan terbaik yang memberi banyak hikmah buat saya. Semoga saya bisa datang ke kota para Nabi ini lagi. Amiin...

Makam Rabiah al Adawiyah di Bukit  Tur, Yerussalem (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Makam Salman Al farisi (Foto : Ade Nur Sa'adah)




Minggu, 27 Desember 2015

Aleppo di Old Damascus, Kota Bersejarah Yang Tinggal Sejarah


Pernah mengginjakkan kaki di kota tua yang indah ini, mungkin bisa disebut keberuntungan bagi saya. Kini kota yang penuh catatan sejarah ini telah porak poranda di hancurkan ISIS, termasuk masjid Bani Umayyah yang telah berusia ribuan tahun.  
Benteng Citadel di Pusat kota Aleppo (foto : Ade Nur Sa'adah) 
                                            

Ketika menyaksikan tayangan di televisi tentang pasukan ISIS yang membombardir kota Aleppo di Suriah, hati saya serasa ikut remuk. Terbayang pengalaman menghabiskan sekian hari yang paling berkesan dalam hidup saya. Menjelajah kota yang menjadi saksi kejayaan Islam di bawah keperkasaan Panglima Khalid bin Walid yang dilanjutkan oleh Panglima Shalahuddin Al Ayyubi, sang "Macan Perang Salib". Kota yang indah ini juga meninggalkan maha karya dari Dinasti Umayyah. 
Aleppo adalah kota terbesar di Suriah dan  menjadi pusat perekonomian negara itu. Di Aleppo pula saya bisa menemukan deretan pertokoan yang menjual barang-barang branded dari Eropa. Dibanding kota lainnya di Suriah, Aleppo memang jauh lebih moderen. 
toko manisan dan buah kering di Aleppo (foto : Ade Nur Sa'adah) 
                  
Nama Aleppo sendiri awalnya adalah Halaba, dari bahasa Amori,  yang berarti besi atau tembaga, sumber utama kota ini pada masa itu. Sedangkan dalam bahasa Aram,Halaba berarti putih, mengacu pada warna tanah dan marmer yang melimpah di sana. Aleppo juga dikenal sebagai pusat industri tenun sutra dan katun terbaik di Suriah serta olahan buah-buahan kering dan kacang-kacangan, terutama kacang pistachio yang dijual di seluruh dunia.
Pedagang kacang di sepanjang jalan di Aleppo (foto : Ade Nur Sa'adah) 
Aneka kacang oleh-oleh khas Aleppo (Foto : Ade Nur Sa'adah) 
Masjid Agung Bani Umayyah

Keindahan Aleppo tidak bisa dipisahkan dari bangunan bersejarah yang sudah berusia ribuan tahun, salah satunya Masjid Agung Damaskus. Masjid yang juga dikenal dengan sebutan Masjid Umayyah ini awalnya adalah Basilika Santo Yohanes Pembaptis atau Nabi Yahya As. Namun setelah penaklukan Arab atas Damaskus yang dipimpin Panglima Khalid bin Walid pada tahun 634 Masehi, tempat ini menjadi masjid dan salah satu menaranya dibangun sendiri oleh sang Panglima. Menara ini dipercaya sebagai Menara Putih tempat kelaknya turunnya Nabi Isa As pada akhir zaman.  
Masjid agung Damaskus dan Menara Putihnya (Foto; Ade Nur Sa'adah) 
Masjid ini adalah monumen yang sangat penting bagi umat Islam, karena di masjid ini terdapat makam Nabi Yahya As dan tempat Yazid bin Muawiyah meletakkan kepala Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw yang gugur dalam pertempuran di Karbala. Panglima Salahuddin Al Ayyubi juga dimakamkan di taman kecil yang terdapat di dinding utara masjid. 
Masjid lainnya yang tak kalah bersejarah adalah Masjid Bani Umayyad I yang di dalamnya terdapat makam Nabi Zakariyah As, ayahanda dari Nabi Yahya As. Di masjid ini setiap usai subuh diselenggarakan tausiah yang disiarkan secara langsung oleh televisi setempat. Kini, masjid ini sudah porak poranda, rata dengan tanah. 
Masjid Bani Umayyah I (foto : Ade Nur Sa'adah)

Citadel of Aleppo
Daya tarik lain dari Aleppo adalah benteng yang berdiri kokoh di pusat kota. Benteng tersebut mengelilingi sebuah istana dan merupakan kastil tertua dan terluas di dunia. Benteng ini pernah dikuasai bangsa Yunani, Bizantium , Mamluk dan kemudian direbut oleh Dinasti Ayyubi.   
Benteng Aleppo berbentuk elips dan dibangun di ketinggian 50 meter dari kaki bukit dikelilingi parit yang dialiri air. Parit itu sendiri berfungsi untuk melindungi benteng dari musuh yang ingin masuk ke dalam benteng. 

Citadel of Aleppo 
Meskipun benteng ini merupakan peninggalan dari peradaban Islam namun benteng ini sendiri sebenarnya dibangun oleh bangsa Neo-Het Acropolis sebagai benteng militer untuk melindungi daerah pertanian mereka. 
Citadel Aleppo (foto : Ade Nur Sa'adah)


Benteng yang mengelilingi Old Damascus (foto : Ade Nur Sa'adah)
Karena berkali-kali berpindah tangan dari penguasa yang satu ke penguasa lainnya, jadi tidak heran kalau Aleppo menjadi  kota yang memiliki beragam model arsitektur, mulai dari sentuhan Byzantium, Seljuk, Mamluk hingga Dinasti Utsmani dan Dinasti Umayyah. Tapi semua kekayaan budaya yang sudah berusia lebih dari 2000 tahun itu harus berakhir di tangan ISIS. Semua jejak sejarah itu pun kini jadi tinggal sejarah. 
salah satu sudut kota Old Damascus (foto : Ade Nur Sa'adah)
Old Damascus 


Monumen Shalahuddin Al Ayyubi (foto : Ade Nur Sa'adah)












Sabtu, 26 Desember 2015

Jejak Nabi Di Kota Tua Bosra, Damaskus

Kota yang tercatat sebagai situs warisan dunia Unesco ini tidak hanya memiliki gedung teater tertua di dunia tapi juga jejak Rasulullah ketika berniaga ke negeri ini, negeri yang dulu dikenal dengan nama Syam. 
Kota Tua Bosra (foto : Ade Nur Sa'adah)
Menempuh perjalanan 2 jam dari pusat kota Damaskus, Suriah, terhampar sebuah situs yang menjadi saksi peradaban dunia. Ribuan tahun yang lalu, kota ini dikenal sebagai pusat perdagangan utama di Semenanjung Arab. Rasulullah Saw termasuk salah seorang pedagang yang berniaga di kota yang dulu dikenal dengan nama Syam. 
Setelah Palmyra, Bosra adalah situs peninggalan terpenting dari kejayaan Romawi dan Yunani. Di tempat ini, saya menyaksikan banyak jejak sejarah yang membuat saya tidak putus-putusnya mengucap Masyaallah. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan betapa besarnya kuasa Allah atas bukti sejarah yang masih kokoh berdiri ini. 
Gerbang memasuki kota tua Bosra  (foto : Ade Nur Sa'adah)
Keterangan tentang Bosra terungkap dari sebuah prasasti yang diperkirakan ditulis pada kisaran abad 14 Sebelum Masehi. Tulisan di prasasti itu menjelaskan tentang keberadaan kafilah yang terkenal pada masa itu dengan sebutan Akadia, Amoria, Nabatia dan Ghasani. Kafilah Nabatia itu sendiri adalah kaum yang membangun Petra pada abad 4 Sebelum Masehi. 

Gereja Pendeta Buhaira
Gereja Pendeta Buhaira (foto : Ade Nur Sa'adah)
Menjelajah kawasan kota Bosra,tak ubahnya seperti memasuki mesin waktu yang mengantarkan saya ke masa ribuan tahun silam. Selain terdapat kompleks perumahan yang sebagian berupa puing, tampak gereja Pendeta Buhaira yang masih berdiri kokoh. Buhaira adalah seorang mantan Yahudi yang kemudian menjadi Rahib Kristen Nestorian dan seorang ahli kitab. Dialah orang pertama yang melihat tanda kenabian Rasulullah Saw, ketika Rasulullah Saw datang ke Syam bersama pamannya Abu Thalib. Waktu itu usia Rasulullah Saw masih 13 tahun. 
Tak jauh dari gereja pendeta Buhaira terdapat situs yang dipercaya sebagai tempat Rasulullah Saw menambatkan untanya. Situs itu masih terawat dengan baik. 
Di sinilah Rasulullah Saw menambatkan untanya (foto : Ade Nur Sa'adah)

Teater Bosra Yang Mengagumkan

Selain jejak Rasulullah Saw, di Bosra juga terdapat gedung teater yang dibangun bangsa Romawi. Tempat ini merupakan gedung teater terbesar yang dibangun bangsa Romawi pada masa kejayaannya di abad ke-2 Masehi. 
Teater Bosra berbentuk setengah lingkaran yang berdiameter lebih dari 100 meter dengan kapasitas 15 ribu penonton. Terdapat tiga tingkat untuk penonton dimana tingkat pertama terdiri atas 14 tribun, tingkat kedua 18 tribun dan tingkat ketiga 5 tribun. Pada setiap tingkatnya dibatasi oleh dinding batu. 
Pada backstagenya terdapat ruang rias dan kamar khusus untuk para pengisi acaranya. Yang paling mengagumkan dari gedung teater ini adalah sistem akustiknya yang luar biasa. Penonton bisa mendengar suara para aktris dan aktor meski dalam radius ratusan meter. Awesome!
Gedung teater Bosra (foto: Ade Nur Sa'adah)
Tribun penonton di teater Bosra (foto: Ade Nur Sa'adah)

Pada masa kejayaannya, tataan kota Bosra berbentuk lingkaran namun kota ini sempat porak poranda akibat gempa bumi yang terjadi pada abad 11 Masehi. Kota ini juga sempat dihancurkan bangsa Mongol pada tahun 1261 Masehi dan kembali hancur diterpa gempa bumi pada abad 14 Masehi. Kini, kota yang penuh sejarah ini menjadi tinggal catatan sejarah  akibat kebiadaban ISIS. 

Backstage gedung teater Bosra (foto : Ade Nur Sa'adah)
penduduk asli kota Bosra (foto : Ade Nur Sa'adah)

Deretan kafe di Bosra (foto : Ade Nur Sa'adah)
Saya di depan tembok Bosra 
kompleks perumahan di Bosra (foro : Ade Nur Sa'adah)


Jumat, 25 Desember 2015

Menjelajah Jericho, Kota Tertua Di Dunia

Kota yang terletak di tepi barat Sungai Yordan ini tidak hanya dikenal sebagai kota tertua di dunia, tapi juga karena menjadi satu-satunya kota di kawasan otoritas Palestina yang memiliki kasino.
Pintu masuk Jericho (foto: Ade Nur Sa'adah)
Selama perjalanan menuju perbatasan King Hussein Bridge dan Alen Bay, berbagai perasaan berkecamuk di hati saya. Ada getaran hebat yang tidak kuasa saya tahan, mengingat saya akan sampai ke tempat yang sangat saya rindukan selama ini, Masjidil Aqsa. Tempat yang menjadi salah satu impian terbesar dalam hidup saya. 
Sejak awal, Neno Warisman, selalu ketua rombongan kami mengingatkan agar mengucapkan "no stamp" kepada petugas imigrasi di Alen Bay. Hal ini sangat penting diingatkan karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Kami juga hanya membawa barang bawaan seperlunya saja dan menitipkan barang bawaan lainnya di sebuah toko souvenir kecil yang ada di perbatasan Yordania. 
Selembar kertas sebagai pengganti stamp di passport (foto : Ade Nur Sa'adah)
Ternyata apa yang digambarkan tentang imigrasi Israel itu benar adanya, setidaknya bagi saya. Ketika melihat di passport saya tertera tulisan journalist, petugas imigrasi itu menatap saya dan memanggil temannya. Mereka berbisik sebentar lalu kemudian temannya itu membawa saya ke sebuah ruangan. Selama lebih dari 4 jam saya ditahan dan dihujani berbagai pertanyaan yang intinya menanyakan apa tujuan saya memasuki Israel. Entah kenapa, bukan ketakutan yang menguasai pikiran saya saat itu, melainkan wajah suami dan kedua anak saya. Apalagi melihat tentara Israel bergantian mengawasi saya dengan senjata tersandang di bahu mereka. Laki dan perempuan sama sangarnya. 

Tembok Berduri

Menjelang petang, akhirnya saya dan rombongan berhasil melewati Alen Bay, meninggalkan tatapan Raja Hussein yang sedang berjabat tangan dengan Ariel Sharon yang terpampang di dinding border. Pak Musa, pemandu kami, berkali-kali menanyakan keadaan saya. Dia tampak sangat khawatir. 
Meninggalkan Alen Bay, bus yang kami tumpangi melewati jalan panjang yang dikelilingi tembok dengan pagar berduri dan dialiri listrik. Tembok itu menjadi batas antara wilayah otoritas negara Palestina dan Israel. Gara-gara tembok itu, kata Pak Musa, ada seorang ibu yang terpaksa terpisah selama bertahun-tahun dengan anaknya. Padahal rumah mereka hanya berada di balik tembok itu. 
Jericho adalah kota pertama yang kami masuki setelah melewati jalan panjang itu. Kota yang tercatat dalam sejarah sebagai kota tertua yang ada di muka bumi ini. 

Tell Es Sultan (foto : Ade Nur Sa'adah)
Secara geografis, Jericho adalah kota yang unik karena berada 244 meter di bawah permukaan laut. Hal itu membuat Jericho juga menjadi kota yang terletak paling rendah di dunia. Berdasarkan penggalian yang dilakukan arkeolog bernama Miss Kathleen Kenyon pada tahun 1956, usia Jericho diperkirakan lebih dari 10000 tahun. 
Daya tarik Jericho lainnya adalah sebuah situs kuno bernama Tell Es Sultan yang termasuk menjadi salah satu tujuan para wisatawan yang datang ke Jericho. Selain itu, di Jericho juga terdapat Oasis Casino yang berada di jalur akses menuju Laut Mati dan kota Jerusalem. 
Di Jericho pula terdapat banyak restoran, kafe dan toko souvenir yang menjual berbagai cenderamata untuk tiga agama, mulai dari keramik bertulis ayat suci Alquran hingga rosario dan patung Bunda Maria. Saya menyempatkan membeli sabun zaitun yang termasuk cenderamata paling direkomendasikan. 
Saran untuk yang makan di restoran di Jericho, bawalah selalu botol minuman sendiri karena air mineral di sini sangat mahal, jauh lebih mahal dari soft drink maupun teh dan kopi. 
Di Jericho terdapat situs yang dipercaya sebagai tempat Nabi Musa dan istrinya dimakamkan. Sebuah tempat yang berada di tengah gurun pasir dengan pemandangannya yang sangat memesona. 
Makam Nabi Musa (foto : Ade Nur Sa'adah)
Dari Jericho pula, kami selanjutnya memasuki kota Jerusalem dimana Masjidil Aqsa dan Dome of the Rock berada. Kota suci bagi tiga pemeluk agama besar di dunia. Saya berharap, suatu hari nanti bisa kembali ke sini lagi. Amin. 
Makam Nabi Musa (foto : Ade Nur Sa'adah)
Sisi kota Jericho (foto : Ade Nur Sa'adah)
Makam Nabi Musa (foto : Ade Nur Sa'adah)

Bersama Pak Musa, pemandu selama di Jerusalem yang sangat baik dan bertanggungjawab



Kamis, 24 Desember 2015

Menyusuri Gereja Navitivy di Bethlehem


Ini adalah perjalanan yang menjadi bagian penting dalam hidup saya. Perjalanan yang mengantarkan saya ke Gereja Navitivy di Bethlehem yang diyakini umat Nasrani tempat Maria melahirkan Isa Almasih.
 Hanya berjarak seperempat jam perjalanan dengan mobil dari Masjidil Aqsa, tampak gereja Navitivy berdiri gagah. Bersama ratusan pengunjung lainnya, saya memasuki gereja yang oleh umat Nasrani diyakini sebagai tempat Maria melahirkan Isa Almasih. 
Nama gereja ini sendiri berasal dari kata Nativitas yang berarti kelahiran dan merupakan salah satu bangunan tertua di dunia. Memasuki gereja ini, berdiri pilar-pilar kokoh yang menambah kesan sakral bangunan ini. Sepanjang jalan memasuki ruang tempat ibadat, terdapat alur yang ditutupi susunan papan pipih. Konon, di bagian yang ditutupi papan itu, tempat Maria bersembunyi untuk melahirkan anaknya. 
Di kolong ini tempat Maria bersembunyi untuk melahikan Isa (Foto : Ade)

Saya sendiri sangat terkesima dengan lampu gantung yang menghiasi sepanjang pilar memasuki ruang utama. Kalau dilihat dari luar, gereja ini memang menyerupai dinding benteng dan untuk masuk ke dalamnya, saya dan pengunjung lainnya harus melewati pintu batu yang rendah dan sempit. Menurut pak Musa yang menjadi pemandu kami, pintu itu memang sengaja dibangun rendah untuk menghalangi perampok berkuda masuk ke dalam gereja ketika berlangsungnya perang salib.
Pilar besar memasuki ruang utama gereja (Foto: Ade)
Gereja yang dibangun bergaya  Basilika dengan tiang-tiang dan ornamen serba emas itu juga dikelilingi oleh tembok tiga biara, yaitu Orthodoks, Armain dan Katolik Roma. 




Salah satu pintu memasuki gereja (foto: Ade)
Sedangkan untuk menuju gua tempat Yesus dilahirkan, saya melalui pintu sempit sekaligus menuruni sejumlah anak tangga secara bergiliran dengan pengunjung lainnya. Seketika suasana menjadi hening dan syahdu. Satu persatu peziarah memegang dan mencium bintang perak yang bertuliskan "Hic de Maria Virgine Jesus Cristud Natus est" yang artinya "Di sinilah Yesus Kristus Anak Perawan Maria Dilahirkan." Dari gua di bawah gereja itu, terdapat lagi anak tangga untuk menuju Gereja Santo Hieronimus sang pujangga gereja. Santo ini dimakamkan di bawah Gereja Navitivy dan selanjutnya jenazahnya dipindahkan ke Roma, Italia. 
Gua tempat Yesus dilahirkan (foto : Ade)
Meski hanya sebentar, tapi pengalaman bertamu ke gereja ini sangat berkesan untuk saya, terutama dalam memahami betapa sejarah adalah bagian terpenting dalam peradaban. Buat umat Nasrani dimanapun berada, saya ucapkan Selamat Hari Natal 2015 dan semoga  makna natal memberi kebaikan untuk yang merayakannya. 
Sisi luar Gereja Navitivy (Foto : Ade)
Seorang pendeta di geraja Navitivy (Foto : Ade)
Bersama tentara Palestina yang bertugas di Gereja Navitivy
Seorang biarawati sedang berdoa di dalam gua yang ada di dasar gereja (Foto : Ade)