Pages

Minggu, 11 Juni 2017

Ketika Istri Mendominasi Suami

Islam sangat memuliakan perempuan dan memberi banyak keistimewaan bagi mereka, termasuk melarang perempuan mendominasi peran di dalam kehidupan rumah tangganya. 
Suasana di sebuah ruang konsultasi suami istri itu tampak hening. Selain sepasang suami istri yang saling memasang wajah dingin, tampak seorang konsultan yang berusaha memberikan solusi terbaik bagi kehidupan rumah tangga kliennya yang sedang berada di ambang kehancuran. Sang suami yang selama bertahun-tahun  hidup di bawah tekanan istri yang menurutnya sangat dominan, mengaku sudah tidak mampu lagi bertahan. Dia bahkan rela kehilangan semua harta dan jabatan yang dia miliki asalkan bisa mendapatkan kembali harga dirinya sebagai kepala keluarga. 

"Istri yang dominan tidak hanya berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak juga dapat membuat kehidupan rumah tangga itu menjadi tidak seimbang. Kecuali kalau istri itu bersikap dominan terhadap pengambilalihan pola asuh dan pola didik anak, itu mungkin bisa dikatakan sebagai sikap dominan yang positif. Karena bagaimana pun, anak akan lebih merasa dekat dengan ibunya terutama dalam hal pendidikan moral," kata Anna Farida, seorang konsultan yang fokus terhadap masalah parenting. 

Anna juga menuturkan kisah tentang Asma binti Abu Bakar ra yang meski dijuluki sebagai "pahlawan perempuan berikat pinggang dua". Asma tetaplah seorang istri yang sangat taat dan setia kepada suaminya. Padahal suaminya itu merupakan laki-laki pilihan orang tuanya yang tidak memiliki reputasi secemerlang Asma. "Namun Asma tetap melakukan ikhlas semua kewajibannya  sebagai istri dan ibu. Bagaimana pun hebatnya seorang perempuan, posisinya di dalam rumah tangga tetaplah secondary. Kepala keluarga tetap dipegang oleh suami." 

Mendebat & Mengadukan Suami
Imam Malik meriwayatkan bahwa istri Umar bin Khattab ra yang bernama Atikah selalu mengajak Umar berdebat tentang keinginannya pergi ke masjid. Umar sendiri tidak suka bila ada perempuan yang ke masjid, tapi Atikah tetap berkeras karena dia tahu bahwa Rasulullah saw tidak pernah melarang perempuan pergi ke masjid. Karena argumen istrinya tepat, mau tidak mau Umar diam dan mengalah. 

"Riwayat di atas memperlihatkan bahwa pada hakikatnya istri bisa saja tidak sependapat dengan suaminya, tapi tetap harus dengan argumen yang kuat dan tanpa bermaksud melawan suami. Karena bagaimana pun, di dalam kehidupan rumah tangga istri adalah makmum dan suami menjadi imamnya," jelas M. Quraish Shihab. 

Ketika HIndun, istri Abu Sofyan, merasa tidak tahan dengan kekikiran suaminya, dia mengadu kepada Rasulullah saw dengan bahasa yang sama sekali tidak menyudutkan sang suami. Dia mengatakan kepada Rasulullah ," Ya Rasulullah, suami saya sangat perhitungan. Dia tidak memenuhi kewajibannya dalam nafkah padahal dia mampu. Apakah saya boleh mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya? " 
Mendengar pertanyaan Hindun tersebut, Rasulullah menjawab, " Ambillah apa yang mencukupi bagimu dan anakmu secara wajar." (H.R. Bukhari dan Muslim). 

Sedikit pun HIndun tidak menyinggung keburukan suaminya yang lain. Dia hanya mengatakan hal yang seperlunya  karena merasa sudah tidak kuasa lagi menahannya. 

Di dalam Islam, istri yang merasa dirinya lebih tinggi daripada suami disebut melakukan nusyuz. Suami yang mendapat ujian istri yang seperti ini, di dalam Alquran surat An-Nisa (4 : 34) dituntun untuk menasihati istrinya. Kalau nasihat itu masih tidak mempan, boleh mendiamkannya selama tiga hari berturut-turut dan kalau masih juga tidak berhasil boleh memukulnya. Tapi oleh Rasulullah diingatkan agar tidak memukul wajah atau menyakitinya. 

Setinggi apa pun pendidikan dan kedudukan seorang perempuan, dia tetaplah istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya derajat perempuan dalam Islam sangat dimuliakan. Karena di tangan perempuanlah, kualitas generasi mendatang ditentukan. 



Sabtu, 10 Juni 2017

Warisan Suami Berpoligami

Meski Islam tidak melarang umatnya memiliki istri lebih dari satu, persoalan kerap timbul ketika sang suami meninggal dunia. Istri manakah yang berhak mendapatkan harta warisan lebih besar dari istri lainnya...
Tuan tanah terkaya di Kampung Rawa itu kini telah meninggal dunia. Sebut saja namanya Haji Syukron. Dia meninggalkan empat istri dan 18 orang anak yang 12 di antaranya anak laki-laki. Sebelum meninggal dunia, lelaki itu sempat dirawat selama berbulan-bulan di rumah sakit dan menjalani beberapa kali tindakan operasi atas komplikasi penyakit yang menderanya. Akibatnya, berhektar-hektar sawah yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga ini terpaksa dijual untuk menutupi biaya operasi yang sangat mahal. Kini, harta yang tersisa hanyalah rumah induk atas nama istri pertama dan sebidang tanah yang luasnya tidak sampai satu hektar. 

Persoalan pun terus bergulir karena setiap istri menuntut pembagian yang adil atas warisan yang menjadi hak mereka. Karena tidak menemukan pemecahan yang tepat, keluarga besar itu akhirnya membawa perkara warisan tersebut ke pengadilan agama untuk mendapatkan fatwa waris. Apalagi, beberapa usaha almarhum ternyata juga menggunakan dana pinjaman dari bank dengan mengagunkan sebidang tanah lainnya. Keluarga ini semakin pusing tujuh keliling. 

Utamakan Utang
Islam sendiri menegaskan bahwa sebelum dilakukan pembagian waris kepada yang berhak menerimanya, sebaiknya diselesaikan dulu segala utang piutang almarhum semasa hidupnya. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama secara keseluruhan sependapat bahwa warisan dan wasiat baru dapat ditunaikan setelah utang-utang diselesaikan. Dari sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. juga menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda dalam beberapa khutbahnya, "Barangsiapa meninggalkan harta atau hak, maka yang demikian itu adalah bagi ahli warisnya. Dan barangsiapa meninggalkan tanggungannya atau utang, maka seluruhnya kembali padaku, dan utangnya menjadi tanggunganku."

Begitu pentingnya kewajiban membayar utang, sehingga Rasulullah saw mengorbankan dirinya untuk melunasi utang yang ditinggalkan umatnya sehingga tidak merusak amalan yang sudah dilakukan almarhum semasa hidupnya. 

Setelah semua kewajiban ditunaikan, barulah harta yang ada dibagi sesuai hukum faraid, hukum Islam yang berkenaan dengan pembagian warisan. Di dalam kitab Fiqhu Al- Sunnah disebutkan bahwa pada zaman jahiliyah, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab memberikan warisan hanya kepada kaum laki-laki dan mengabaikan hak perempuan. Mereka hanya memberikan warisan kepada orang-orang yang sudah dewasa dan mengabaikan hak anak kecil. Allah kemudian menghapus semua ketidakadilan itu melalui firman-Nya yang berbunyi, " Allah mensyariatkan bagi kalian, yaitu : bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka dia memperoleh separuh harta..." (Q.S. An-Nisa/ 4 : 11)
Di dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa pembagian harta baru dapat dilakukan setelah semua utang dibayar dan apa-apa yang pernah diwasiatkan almarhum sebelum meninggal dunia ditunaikan. 

Bagaimana halnya dengan keempat istri Haji Syukron dalam kisah di atas? 
Setelah mereka menyelesaikan semua utang dan kewajiban almarhum, menurut hukum faraid, keempat istri itu mendapatkan bagian seperdelapan dari harta yang ditinggalkan Haji Syukron. Pasalnya, harta yang ada hanya rumah induk dan sebidang tanah. Kalay aset tersebut dijual dengan harta Rp 1 miliar, maka setiap istri akan mendapatkan bagian Rp 31.250.000 yang diperoleh dari pembagian seperdelapan dari Rp 1 miliar yang dibagi empat. 

Selain anak dan istri, ahli waris lain yang berhak atas harta tersebut adalah kaum kerabat almarhum yang masih hidup. Kaum kerabat itu terdiri dari ushul (garis lurus ke atas) seperti ayah atau kakek almarhum kalau keduanya masih hidup, faru' (garis lurus ke bawah) seperti anak laki-laki dari anak laki-lakinya dan seterusnya ke bawah, serta hawasy (garis ke samping) yaitu saudara laki-laki dari almarhum beserta anak-anak mereka dan seterusnya ke bawah. Demikian juga dengan saudara laki-laki seibu dan seterusnya ke bawah. Paman dan anak laki-laki dari paman dan terus ke bawah juga, termasuk golongan laki-laki yang berhak mendapatkan warisan. 

Namun, tidak semua dari mereka mendapatkan bagian warisan karena sebagian dari mereka menghalangi yang lainnya. Sebaliknya, jika dalam pembagian harta waris semua orang yang di atas itu ada, maka yang berhak atas warisan Haji Syukron itu hanya ke-4 istri, ke-18 anak dan ayah kandung Haji Syukron yang kebetulan masih hidup. Dari warisan senilai Rp 1 miliar itu, ayahnya berhak atas seperenamnya, yakni Rp 166.666.667. Setelah istri dan ayah almarhum mendapatkan bagiannya, barulah sisanya dibagikan kepada anak-anak dengan anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan. 

Gono-gini Poligami
Selesaikah masalah dalam keluarga Haji Syukron itu? Ternyata, belum.
Masalahnya, istri pertama menuntut bagian lebih banyak mengingat dirinya memiliki andil cukup besar dalam membangun usaha suaminya. 
Usut punya usut, keduanya memulai biduk rumah tangga benar-benar dari nol. Bahkan, beberapa usaha yang dirintis almarhum dimodali dari warisan orangtua istrinya tersebut, termasuk rumah induk yang sertifikatnya atas nama istri pertamanya itu. Setelah usahanya maju dan mampu membeli berhektar-hektar sawah dan aset berharga lainnya, almarhum meminta izin menikah lagi, lagi, dan lagi hingga beristri empat. 

Islam sendiri tidak mengenal adanya istilah gono-gini dalam pembagian harta warisan. Namun, bila merujuk pada Kompilasi Hukum Islam pasal 97 disebutkan bahwa harta gono-gini janda dan duda cerai adalah setengah dari harta bersama sepanjang tidak ada ketentuan lain dalam perjanjian pranikah. Hal ini juga berlaku untuk pasangan yang berpisah karena kematian. 

Untuk kasus ini, jika istri pertama dapat memberikan bukti seberapa besar harta miliknya, harta tersebut harus dipisahkan dari harta warisan yang merupakan hak semua ahli waris almarhum. Akhirnya, setelah dikurangi dengan harta terpisah milik istri pertama, yakni rumah induk yang sertifikatnya atas nama istri pertama, harta yang tersisa tinggal Rp 500 juta. Dari nilai tersebut, keempat istri mendapatkan warisan masing-masing Rp 15.625.000. Sedangkan ayah almarhum mendapatkan seperenamnya yakni Rp 83.333.333. Sisa dari harta itu yang disebut ashabah menjadi milik ke-18 anak Haji Syukron yang dibagi sesuai hukum faraid, anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan. Bagi anak yang belum baligh, bagian miliknya akan dititipkan kepada walinya, dalam hal ini ibu kandungnya. 

Jadi, meski mengizinkan seorang lelaki beristri lebih dari satu, Islam juga mewajibkan kaum lelaki menanggung konsekuensinya berpoligami. Bagi yang belum berpoligami, insya Allah info ini bisa menjadi peringatan awal sebelum Anda melangkah lebih jauh. 


Ilustrasi : Google

Untuk Afi Dan Kecemasan Saya

Di tengah hujatan dan pembelaan pada gadis belia bernama Afi, saya hanya ingin membagi kecemasan saya padanya. 
Saya pertama kali membaca tulisan Afi itu ketika ada seorang teman yang mengunggahnya di facebook. Gadis yang memiliki nama asli Asa Firda Inayah itu mampu membuat saya terkagum-kagum  dengan isi pikirannya yang bernas. Dia menuliskan pengalamannya selama 10 hari tidak menggunakan gawai. Waktu membaca tulisannya itu, hal pertama yang ada di pikiran saya adalah kemana saja Afi selama ini. Mengapa saya yang selama sepuluh tahun terakhir ini aktif mengikuti perkembangan penulis cilik di Indonesia tidak memiliki rekam jejak karya bukunya. Bahkan namanya pun baru saya tahu lewat unggahan teman saya itu. Afi Nihaya Faradisa.

Berbeda dengan kebanyakan penulis muda lainnya, gadis berusia 19 tahun ini memiliki gaya bahasa yang melompat sangat jauh dari usianya. Tidak hanya menggunakan bahasa yang baku dan penggunaan kata "saya" , bukan "aku" maupun "gue", Afi menuliskan hal-hal yang termasuk berat dan berani. 

Dengan kemampuannya menulis yang katanya sudah dia lakukan sejak masih SD dan kegemarannya membaca buku karya penulis-penulis besar dunia, saya masih ingin bertanya kemana saja Afi selama ini. Mengapa saya tidak menemukan dia di berbagai lomba menulis pelajar maupun kongres anak yang disaring lewat tulisan essay. Melihat keaktifan Afi yang katanya sudah menjadi pembicara di berbagai diskusi di kotanya, seharusnya nama Afi sudah menasional sejak dulu sebagai penulis cilik. Apalagi jika mendengar kalau Afi juga memiliki mentor yang menjadi pembimbingnya menulis. Mengapa sang mentor tersebut tidak mengarahkan kemampuan menulis Afi untuk menjadi sebuah buku atau mendorongnya ikut berkompetisi.

 Tapi itu kan hanya pemikiran saya saja. 
Hal yang membuat saya terpana, Afi ternyata juga  menjadi admin termuda  untuk sebuah grup pembongkar hoax terbesar di Indonesia. Untuk tugas tersebut Afi  harus menerima risiko sering diancam dan membuatnya jadi berkali-kali berganti akun media sosial dan sekaligus memiliki lebih dari satu akun media sosial. Menurut saya, hal ini cukup riskan untuk seorang siswa SMA di sebuah kota kecil. 

Plagiat itu Jahat, Nak... 
Ah, Afi, saya jadi ingat ketika memperlihatkan tulisanmu pada anak saya yang seorang penulis. Anak saya tercenung dan mengatakan kalau tulisan kamu bagus sekali. Anak saya juga merasa takjub  karena masih ada anak sepantaran dia yang tidak memiliki twitter dan instagram tapi malah lebih aktif menulis di facebook. Dia mengagumi gaya menulismu yang mengalir lancar dengan pemilihan diksi serta perbendaharaan kata yang sangat kaya. 

Sayangnya Afi, berita kalau tulisan-tulisan keren kamu itu merupakan plagiat membuat hati saya hancur. Awalnya, saya ,masih tidak percaya, karena history pada akun facebook bisa jadi telah mengalami pengeditan sedemikian rupa sehingga terdapat kerancuan  siapa sebenarnya orang yang pertama kali mengunggah tulisan yang dianggap plagiat tersebut. 
Alih-alih mengklarifikasi atau minta maaf soal isu plagiat tersebut, kamu malah mengunggah tulisan bahwa semua orang pernah melakukan plagiat, termasuk ketika menulis status facebook, menulis caption foto hingga menuliskan tugas sekolah. 
Afi sayang, tentu saja kita tidak bisa menafikan bahwa tidak ada karya yang original. Seorang jurnalis seperti saya juga harus menulis berdasarkan wawancara dan liputan yang bukan dari pemikiran saya sendiri. Banyak artikel yang saya tulis juga mengutip dan menukil pendapat orang lain. Yang membedakan semua itu adalah etika dan adab saat menyajikannya. Kita harus menyebutkan sumber dari apa yang kita kutip, nak. Itulah yang membedakan karya kita dengan karya seorang plagiat. 

Saya terpukul saat membaca tulisan Syifa Annisa di kompasiana yang menyatakan bahwa dia sudah menemukan versi utuh dari puisi yang kamu unggah di akun facebookmu sebagai karya kamu. Ternyata puisi yang berjudul "Pernahkah Kau" itu merupakan karya Tiffanny Blenvis, penulis asal Virginia, Amerika Serikat yang dimuat dalam buku Chicken Soup yang diterbitkan Gramedia tahun 2003. Afi, ini jelas plagiat, nak. Itu sama artinya kamu mencuri punya orang lain dan itu jahat. 

Saya jadi ingat kalau beberapa tahun lalu, saya pernah menemukan sebuah cerpen yang masuk nominasi pemenang lomba menulis cerpen SD tingkat nasional ternyata sama persis dengan sebuah cerpen yang pernah dimuat di Majalah Bobo, sama persis hingga titik dan komanya. Tahun sebelumnya, sebuah buku anak yang mencetak best seller juga merupakan hasil plagiat dari salah satu novel karya Enid Blyton. Kedua penulis anak tersebut terutama si penulis buku best seller itu telah menerima keuntungan materi dari perbuatan lancung mereka. 


Teruslah Menulis, Afi
Terlepas dari semua itu, jangan pernah berhenti menulis, Afi. Jadikanlah semua pengalaman berharga ini sebagai tantangan bahwa kamu sebenarnya adalah penulis yang baik, buka seorang tukang copas. 
Menulislah apa yang menjadi kegelisahanmu bukan menjadikan kegelisahan dan buah karya orang lain sebagai milikmu. 
Karena bagaimana pun di negeri ini tetap berlaku ajaran moral bahwa sekali lancung ke  ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Kamu tentu membutuhkan banyak ikhtiar  untuk mengembalikan kepercayaan orang padamu. 



foto ilustrasi : google


Kamis, 17 November 2016

Istighfar

Allah itu Maha Pengampun atas segala khilaf dan dosa yang diperbuat hamba-Nya. Tentunya, berlaku syarat dan ketentuan.
Istighfar sering diterjemahkan sebagai mohon ampun dan maghfirah sebagai ampunan. Sehingga seringkali kita mendengar istilah bulan maghfirah saat tibanya bukan Ramadan. Menurut Ibnul Qoyyim Al Jauzi, ahli fikih yang hidup di Damaskus pada abad ke-13, maghfirah bermakna menjaga dari keburukan akibat dosa yang telah dilakukan.
        Istighfar juga bukan hanya sekadar ucapan belaka, tapi juga harus diikuti oleh hati yang benar-benar menyesali atas dosa tersebut. Sehingga tidak boleh hanya lisan yang beristighar dan mohon ampunan pada Allah Swt sementara hati ingin terus melakukan maksiat.
       Ibnu Abbas r.a meriwayatkan,” Orang yang beristighfar kepada Allah Swt suatu dosa sementara ia masih menjalankan dosa itu maka ia seperti orang yang sedang mengejek Tuhannya.”
        Hadist lain juga menjelaskan  bahwa Ali bin Abi Thalib  berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. (dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar itu adalah benar adanya) meriwayatkan kepadaku bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:
        "Tidak ada seseorang yang berbuat dosa, kemudian ia bangun dan bersuci serta memperbaiki bersucinya, kemudian ia beristighfar kepada Allah Swt, kecuali Allah Swt pasti mengampuninya.”
        Ketika anak-anak Nabi Ya'qub As berkata kepada ayah mereka: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Nabi Ya'qub As berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Yusuf: 97-98).

Beda Istighfar dan Taubat
Bila Istighfar memiliki makna mohon ampunan, maka taubat berarti kembali. Orang yang bertaubat ibarat seorang anak yang melawan orangtuanya lalu kabur dari rumah dan kemudian pulang kembali ke rumah karena menyesali perbuatannya.
        Seperti suka citanya orangtua yang menyambut kepulangan anaknya, demikian pula  kegembiraan Allah Swt menyambut hamba-Nya yang bertaubat.
        Taubat merupakan tindak lanjut dari istighfar sebagaimana di dalam Alquran kata istighfar selalu disebutkan lebih dahulu dari kata taubat. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dikatakan bahwa penyesalan adalah bagian dari taubat. Jadi, istighfar adalah perkataan permohonan ampun kepada Allah Swt yang merupakan awal dari pertaubatan. Sedangkan taubat keseluruhan rangkaian proses dalam mendapatkan ampunan Allah Swt.
        Kebanyakan dari kita menganggap istighfar dan taubat baru dilakukan kalau melakukan kesalahan. Padahal, istighfar dan taubat merupakan kewajiban seorang muslim yang harus rutin dilakukan , terlepas merasa melakukan kesalahan atau tidak. Allah Swt berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha.” (Q.S. At Tahrim :8)

Syarat dan Ketentuan Istighfar 

1.   Niat yang benar dan ikhlas semata ditujukan kepada Allah Swt.
2.   Hati dan lidah secara serempak melakukan istighfar.
3.   Dalam keadaan suci lahir dan batin.
4.   Memilih waktu yang utama, salah satunya saat menjelang subuh.
Para mufassir berkata: beliau menunda istighfar itu hingga waktu menjelang subuh, karena pada saat itu, doa lebih dekat untuk dikabulkan, jauh dari riya, lebih bersih bagi hati dan ia adalah waktu tajalli Ilahi pada sepertiga terakhir dari waktu malam.
5.   Senantiasa beristighfar dalam salat, pada saat bersujud dan  sebelum  atau setelah mengucap salam.
6.    Berdoalah  bagi diri sendiri dan bagi kaum mukminin, sehingga masuk dalam kelompok mereka. Para nabi juga  tidak hanya beristighfar untuk  diri mereka tapi juga  untuk  kedua orangtua serta  kaum mukminin dan mukminat seperti  doa Nabi Nuh As berikut ini : 
 "Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan" (QS. Nuuh: 28).
Dan doa  Nabi Ibrahim As:
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang -orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)" ( QS. Ibrahim: 41).
7.   Menyesali dan tidak mengulangi kesalahan dan dosa tersebut.


Semoga Allah Swt menerima taubat kita, Amiin...

"De Java Hotel, Hotel Modern Bergaya Minimalis Dekat Pusat Komersil, Bandung

Udara sejuk dan keindahan alam kota kembang Bandung selalu menarik bagi para wisatawan, terutama dari daerah Jakarta dan sekitarnya. Apalagi dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan yang bertebaran di sana, yang semakin memperkaya tujuan wisata selain wisata kuliner dan wisata alamnya. Hotel-hotel classy nan modern pun bermunculan dan berlomba untuk merebut hati para wisatawan dengan tawaran beragam  fasilitas dan kenyamanannya. Salah satunya adalah De Java Hotel Bandung.
De Java Hotel Bandung berlokasi di Jalan Sukajadi nomor 148-150, Bandung. Bagi Anda yang ingin memiliki pengalaman menginap di hotel yang satu ini, sebenarnya tidak sulit untuk mencari lokasinya. Tapi bagi yang sangat awam akan daerah kota Bandung mungkin akan  sedikit kesulitan  untuk bisa sampai ke tempat. Sebagai antisipasi, Anda bisa survei lokasi dengan melihat peta petunjuk yang ada di internet. Jika ingin tahu lebih banyak informasi mengenai hotel dan tidak ingin kehabisan kamar, Anda bisa melakukan pemesanan lewat situs online seperti Traveloka, atau bisa langsung klik di sini.
De Java Hotel yang memiliki sentuhan desain minimalis ini menawarkan pengalaman menginap di ruang  kamar yang luas dengan harga per malam mulai dari Rp 655.000. Ruang kamarnya didominasi material kayu berwarna coklat tua untuk perabotan dan lantainya, serta warna putih pada dinding dan linen yang membalut kasurnya. Nuansa minimalis yang apik dengan penataan ruangan yang baik membuat kamar hotel tampil elegan.

Sumber: hotel.com.au

Selain itu, sama dengan hotel-hotel pada umumnya, De Java Hotel ini menyediakan beragam fasilitas untuk memanjakan para tamunya. Fasilitas yang disediakan juga bisa menjadi hiburan tersendiri bagi para tamu yang menginap, yang antara lain Spa, Bar, Poolside Bar, Outdoor Pool, dan Shops. Sementara bagi Anda yang suka berolahraga bisa memanfaatkan fasilitas Fitness Centre.
Sumber: dejavahotel.com

Tidak hanya fasilitas umum untuk memanjakandiri, Anda juga bisa memanjakan lidah dengan menu-menu buffet yang dihidangkan di restorannya. Nimati makan pagi, makan siang, dan makan malam dengan menu-menu berkualitas yang menggugah selera. Selain restoran, hotel ini juga memiliki cafe, dengan begitu Anda tak akan bosan dengan minimnya pilihan  tempatdan menu bersantap.
Sumber: wisatabandung.top

Menginap di De Java Hotel, Anda juga tak perlu khawatir akan mobilisasi dari dan ke bandara dengan tersedianya fasilitas antar-jemput ke bandara. Sementara untuk menjelajahi kota Bandung dan menjajal wisatanya, Anda bisa memanfaatkan penyewaan mobil dari hotel ini.
Selama menginap di De Java Hotel, Anda bisa mengunjungi beberapa tempat di Bandung yang selalu menjadi tujuan para wisatawan. Tempat mana sajakah itu? Berikut beberapa tempat menarik yang bisa Anda kunjungi dengan menempuh perjalanan singkat dari hotel.
·         Cihampelas Walk
Sumber: tempatwisatadaerah.blogspot.com

Salah satu pusat perbelanjaan mewah yang selalu diramaikan muda-mudi setempat dan pelancong dari luar kota di Bandung adalah Cihampelas Walk. Berjarak sekitar 2,5 km dari De Java Hotel Bandung, kawasan wisata yang diramaikan oleh butik, skywalk, tempat bersantap, tempat karaoke, tempat permainan dan bioskop ini menyuguhkan suasana open air. Perpaduan struktur indoor dan outdoor yang diperindah dengan pohon-pohon dengan juntaian lampu di lahannya yang luas mampu menyuguhkan suasana yang membuat pengunjung betah berlama-lama di tempat ini. Jika Anda pernah ke Flavor Bliss,mungkin akan merasakan ambience yang sama.

   Paris Van Java
Sumber: sebandung.com

Beranjak dari Cihampelas Walk, Anda masih bisa mengunjungi pusat perbelanjaan lain di daerah Sukajadi. Mall berkonsep open air yang berdiri di Jalan Sukajadi, Bandung, ini terpisah jarak sekitar 5.9 km dari De Java Hotel. Ciri kental dari mall ini adalah gaya bangunannya yang khas Eropa. Berdiri di area seluas 4.700 m2, mall ini menampung sekitar 200-an toko dan jasa, di antaranya adalah toko-toko ternama seperti Gramedia, Sogo, dan Carrefour.
Di samping banyaknya pertokoan ternama, nilai plus lain dari mall ini adalah kehadiran taman buatan seluas 2.000 m2 yang dinamai Skyfield dan wahana permainan ice skating-nya yang dinamai Gardenice. Kehadiran bioskop CGV Blitz dan jajaran panjang tempat bersantap tidak hanya menjadikan mall ini sebagai salah satu pusat berkumpulnya muda-mudi setempat, tapi juga menjadi destinasi wisata bagi pelancong dari luar kota.

·        Museum Geologi
Sumber: tempatwisatadibandung.info

Setelah puas menjelajahi pusat perbelanjaan, sekarang saatnya mampir ke wisata bersejarah yang berjarak sekitar 4,2 km, yaitu Museum Geologi. Museum Geologi berlokasi di Jalan Diponegoro No. 57, Cibenunying Kaler. Di sini Anda bisa menambah wawasan dengan mempelajari sejarah kehidupan dan geologi Indonesia. Berbagai koleksi juga dipamerkan untuk mengedukasi, antara lain fosil dan berbagai jenis batuan dan mineral.

Itulah sekilas kenyamanan yang ditawarkan dari De Java Hotel yang berlokasi di dekat Pusat Komersil, Bandung. Semoga pada liburan selanjutnya Anda  sendiri bisa menikmati nyamannya bermalam di De Java Hotel, ya. Selamat menjelajahi Bandung..


Rabu, 01 Juni 2016

Ihwal Waris Perempuan : Seperdua Yang Membawa Berkah

"Berikanlah bagian-bagian yang sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Alquran kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan jika terdapat kelebihan, maka diberikan kepada para lelaki." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Meski perempuan hanya mendapatkan bagian warisan seperdua dari lelaki, sesungguhnya hal itu bukan karena Allah membedakan keduanya atau bersikap pilih kasih, melainkan karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. 
Dahulu, kaum jahiliyah bahkan tidak memberikan harta warisan kepada perempuan dan anak laki-laki yang masih kecil dengan alasan bahwa bagi yang belum pernah berperang atau mendapatkan harta dari rampasan perang, maka tidak berhak mendapatkan warisan. Namun, Allah membatalkan hukum yang dibuat atas dasar kezaliman serta menetapkan bagian tertentu untuk kaum perempuan sesuai kebutuhan mereka. 
"alasan pemberian harta warisan untuk anak perempuan dengan setengah bagian dari anak laki-laki karena anak perempuan jika kelak menikah akan menjadi tanggung jawab suaminya. Sedangkan  anak laki-laki memiliki tanggung jawab ganda bukan hanya kepada keluarganya tapi juga keluarga besarnya, termasuk anak adik perempuannya yang menjadi yatim," jelas Ustaz Quraish Shihab. 
Quraish Shihab juga menambahkan bahwa sesungguhnya harta itu merupakan ujian bagi pemiliknya. Karena bisa jadi, harta yang dimiliki itu membuat hamba yang bersyukur atau justru sebaliknya, sebagaimana firman Allah Swt. yang berbunyi," Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (Q.S. al-Munafiquun/63:9)
Ujian yang datang dari harta warisan juga tidak kalah dahsyatnya. Banyak sekali kasus pertikaian antar keluarga yang terjadi karena perebutan harta warisan. Itulah sebabnya, Allah dengan tegas mengatur soal pembagian harta warisan ini. 

Setengah Yang Melengkapi
Allah Swt. menetapkan bahwa anak perempuan mendapatkan bagian warisan setengah dari yang didapatkan anak laki-laki serta harta tersebut dipotong dengan kewajiban almarhum seperti utang piutang dan wasiatnya. Bagi suami yang memiliki istri lebih dari satu, maka bagian istri yang seperempat bagian (jika tidak memiliki anak) atau seperdelapan (jika memiliki anak) itu kemudian dibagi lagi untuk masing-masing istri. Misalnya, seperdelapan bagian dari jumlah warisan yang telah dipotong utang piutang dan wasiat kemudian dibagi dua untuk memiliki istri dua, demikian seterusnya. 
"Meski Islam tidak melarang poligami, si pelaku poligami juga harus siap dengan konsekuensi tersebut jika dia meninggal dunia," kata Mamah Dedeh. Bagian yang setengah itu pun masih diterapkan ketika almarhum tidak mewariskan harta, melainkan utang. " Kalau yang ditinggalkan itu utang, maka anak perempuan juga akan menanggung setengah bagian dari anak laki-laki. Jadi, bukan hanya ketika mendapatkan harta saja, anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan, untuk urusan utang piutang juga sama. Itulah yang namanya adil," tambah Mamah Dedeh. 
Bentuk kasih sayang Allah lainnya kepada perempuan adalah jika dalam perjalanan hidupnya, anak perempuan itu mendapatkan kesulitan ekonomi, saudara laki-laki yang telah mendapatkan bagian dari harta warisan orang tua mereka, wajib membantu kehidupannya. 
Sesungguhnya, segala sesuatu yang telah ditentukan Allah Swt itu berdasarkan atas kasih sayang kepada umat-Nya sebagaimana yang terdapat di dalam Alquran surat Thaaha ayat 2 yang berbunyi, " Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah." 
Allah Swt. telah menetapkan bagian-bagian tertentu untuk ahli waris dengan pembagian yang terbaik dan paling adil berdasarkan hikmah yang sangat dalam. Allah Swt. juga menjelasakan ihwal pembagian tersebut dengan penjelasan yang sangat sempurna, baik melalui firman-Nya juga hadis Rasulullah saw. Bagian perempuan memang tidak sama dengan bagian laki-laki, tapi jumlah tersebut justru melengkapi apa yang sudah menjadi ketentuan Allah Swt. 

Kamis, 26 Mei 2016

Empat Perempuan Yang Paling Dicintai Nabi

Meski Rasulullah saw. memiliki banyak istri, namun ada empat perempuan yang paling dicintainya. Mereka adalah keempat putri Rasulullah, buah cinta beliau dengan Khadijah ra. 
Dari semua istrinya, Rasulullah saw hanya mendapatkan keturunan dari Khadijah ra dan Maria Al-Qibthya. Karena sebagian besar istri beliau adalah janda dari para sahabat yang gugur di medan perang dan sudah berusia senja. dari Khadijah, Rasulullah memperoleh enam orang anak, dua di antaranya laki-laki yang mennggal ketika masih anak-anak. Sedangkan keempat putrinya dikenal sebagai perempuan berhati mulia yang menjadi belahan jiwa ayahandanya. Mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Umu Kultsum dan Fatimah az-Zahra. Yuk, kita mengenal mereka lebih dekat...

KESETIAAN ZAINAB
Zainab adalah putri pertama Rasulullah yang kemudian beliau nikahkan dengan Abul 'As bin Rabi, putra dari bibi beliau dari pihak ibu. Sayangnya, sang menantu bukan termasuk orang yang percaya dengan kerasulan mertuanya. Namun, Zainab tetap mencintainya dengan sepenuh jiwa. Ketika terjadi peristiwa hijrah, meski sangat ingin ikut, Zainab memilih tinggal demi suaminya. Saat perang Badar, hati Zainab semakin tidak menentu karena suaminya berjuang di pihak kafir Quraisy sedangkan ayahnya menjadi pemimpin pasukan kaum muslimin. 
Apa yang ditakutkan Zainab pun terjadilah. Suaminya tertangkap dan ditahan oleh kaum muslim. Zainab lalu mengirim kalung onix safir hadiah perkawinan dari ibunya untuk menebus suaminya tercinta. Mengetahui hal itu, Rasulullahpun  menangis sambil memandangi kalung pemberian istrinya untuk Zainab. Para sahabat juga mengetahui betapa sedih hati Rasulullah sehingga mereka membebaskan  Abul 'As dan mengembalikan kalung tersebut kepada Zainab. 

"Abul 'As, engkau kami bebaskan kerana Zainab telah menebusmu. Namun izinkanlah Zainab tinggal bersama kami," pinta Rasulullah. Demi cintanya yang lebih besar kepada Allah, akhirnya Zainab memilih berpisah dengan suaminya. 
Meski telah berpisah, doa Zainab untuk sang suami tidak pernah putus. Setiap malam ia bermunajat agar Allah Swt membukakan pintu hati suaminya untuk memeluk Islam.
Setelah bertahun-tahun berpisah, akhirnya Allah menjawab kesetiaan Zainab. Rasulullah pun kembali menikahkan keduanya setelah Abul 'As bersyahadat. Sayangnya, masa bahagia itu tidak berlangsung lama. Pada tahun kedelapan hijriah, Zainab menderita sakit dan meninggal dunia. 
KETABAHAN RUQAYYAH
Putri kedua Rasulullah saw ini, nasibnya sungguh kurang beruntung. Ketika usianya menginjak remaja, keluarga Abdul Uzza yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab, meminang Ruqayyah untuk putra mereka yang bernama Uthbah. Berbeda dengan Zainab, keduanya menikah bukan atas dasar cinta kasih, melainkan karena kesamaan derajat. 
Setelah menikah, Ruqayyah tinggal bersama mertuanya, Umu Jamil yang kasar dan tamak. Meski setiap hari mendapat perlakuan buruk dari mertuanya, Ruqayyah tidak pernah menceritakannya kepada Rasulullah. Namun, Allah Swt Maha Tahu apa yang terjadi pada setiap hamba-Nya. Rasulullah kemudian menerima wahyu dari Allah bahwa Umi Jamil dan Abu Lahab adalah orang yang paling memusuhi Islam. Apalagi kemudian mereka membujuk Uthbah untuk menceraikan Ruqayyah.                                     
Setelah bercerai dari Uthbah, Rasulullah saw menikahkan Ruqayyah dengan Utsman bin Affan. Dakwa kaum muslimin yang semakin mendapat tekanan membuat Rasulullah merelakan umatnya hijrah ke Habasyah dan Ruqayyah bersama suamianya termasuk dalam rombongan yang hijrah itu. 
Dari pernikahannya dengan Utsman, Ruqayyah memiliki dua orang putra tapi keduanya meninggal ketika masih bayi. Setelah kematian ibu dan putra bungsunya yang masih berusia dua tahun, Ruqayyah merasa sangat sedih. Kesedihan itu membuat kesehatannya menurun dan Ruqayyah pun meninggal dengan tenang di pangkuan suaminya. Waktu itu, perang Badar tengah berlangsung dengan sengit. Dialah putri pertama Rasulullah saw yang meninggal dunia. Kepergian Ruqayyah membuat Rasulullah sangat sedih dan hal itu juga membuat para sahabat ikut menangis, termasuk Umar bin Khattab yang terkenal garang. 
KESABARAN UMU KULTSUM
Umu Kultsum adalah putri Rasulullah saw yang menikah dengan Utaybah bin Abu Lahab sebelum ayahnya diangkat menjadi rasul. Setelah mendengar kabar kenabian Muhammad, Abu Lahab meminta putranya membatalkan pernikahannya dengan Umu Kultsum. Maka, Umu Kultsum pun menjadi janda sebelum dia sempat menikmati masa indahnya pernikahan. Khadijah dengan sabar menghibur putrinya yang merasa sangat terpukul. Waktu itu, pembatalan pernikahan merupakan hal yang sangat memalukan, terutama untuk calon istri. Namun dengan mantap, Umu Kultsum bersama saudara dan ibunya memeluk Islam. Dia menjanda sampai ibunya meninggal dunia. 
Tidak berselang lama, Ruqayyah menyusul ibu mereka meninggal dunia. Sepeninggal Ruqayyah, Rasulullah kemudian menikahkan Umu Kultsum dengan Utsman. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berumur panjang. Belum sempat dikaruniai anak, Umu Kultsum menderita sakit dan meninggal dunia. Hal ini membuat Utsman merasa sangat terpukul hingga Rasulullah  berujar, "Kalau saja aku punya 10 anak perempuan, aku akan menikahkannya dengan Utsman." 
KEMULIAAN FATIMAH AZ-ZAHRA
Fatimah lahir bersamaan dengan terjadinya peristiwa yang menampilkan kecerdasan Rasulullah ketika memecahkan masalah perebutan siapa yang berhak meletakkan Hajar al-Aswad di antara para pemimpin Quraisy. Peristiwa itu terjadi lima tahun sebelum pengangkatan beliau sebagai Rasul. Nama panggilannya az-Zahra yang berarti cahaya atau bunga sesuai dengan keberadaannya yang selalu menjadi cahaya bagi keluarga. 
Ketika satu demi satu kakaknya menikah, Fatimah merasa sedih karena takut akan mengalami hal yang sama dengan kakak-kakaknya. Dia sangat mencintai ayah dan ibunya sehingga tidak ingin meninggalkan keduanya. 
Fatimah kecil pula yang menjadi saksi ketika ayahnya pulang dengan tubuh menggigil ketika pertama kali menerima wahyu. Ia menyaksikan bagaimana sang ibu menyelimuti tubuh ayahnya yang menggigil ketakutan itu . 
Sejak ibunya meninggal dunia, Fatimahlah yang mengurusi semua keperluan ayahnya. Fatimah laksana ibu bagi ayahnya, Itu pula sebabnya Fatimah mendapat sebutan Umu Abiha, yang artinya, ibu ayahnya. 
Ketika ayahnya disakiti saat berdakwah, Fatimah membersihkan luka sang ayah sambil menangis. Fatimah kemudian menikah dengan Ali dan hidup dalam kesederhanaan. Banyak sekali kisah tentang kehidupan pasangan ini yang meski sederhana tapi selalu ikhlas membantu siapa saja yang membutuhkan. 
Suatu hari, Rasululah yang sedang sakit membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah. Ketika membisikkan di telinga kanannya, Fatimah menangis. Tapi kemudian ia tersenyum ketika Rasulullah saw membisikkan sesuatu di telinga kirinya. 
"Apa yang membuatmu menangis lalu tersenyum, Fatimah?" tanya Aisyah. 
"Aku tidak akan memberitahukan sebelum Rasulullah wafat," jawab Fatimah. 
Setelah Rasulullah meninggal dunia, Aisyah kembali menanyakan hal tersebut dan Fatimah menjawab, " Aku menangis ketika Rasulullah memberitahu bahwa aku akan segera menyusul beliau meninggal. Dan aku tersenyum karena aku adalah orang yang pertama menemani beliau di surga."
Hanya berselang 150 hari setelah Rasulullah wafat, Fatimah pun menyusul. Fatimah meninggal dunia dalam usia 28 tahun dengan meninggalkan empat orang anak; Hasan, hussain, Zainab dan Umu Kultsum. 


foto ilustrasi : Google images