Pages

Jumat, 07 Februari 2020

La Vie On Rose: Kesepian Menyakitkan Edith Piaf

" I want to die young. I think it's awful to get old, and sickness is ugly." 

~ Edith Piaf 
( 19 Desember 1915 - 10 Oktober 1963)

Saya mengenal lagu-lagu Edith Piaf dari almarhum Ayah saya yang suka memutarnya saat mengantar saya ke kampus. Selama perjalanan hampir satu jam itu, saya mendengar lagu-lagu itu sambil melamunkan hal-hal romantis, terutama lagu "La Vie On Rose", padahal saya tak paham artinya.  Belakangan, saya menemukan biopik tentang kisah hidup Edith Piaf yang ternyata sangat memilukan. 
Film berbahasa Perancis yang mengantarkan Marion Cotillard , pemeran Edith meraih piala Oscar 2008 ini dibuka dengan penampilan Edith di sebuah hall mewah di New York, pada Februari 1959.  Sementara itu kepanikan terjadi di belakang panggung, para kru mulai mempersiapkan segala sesuatunya termasuk memanggil ambulans untuk menyelamatkan sang Diva. Benarlah, di akhir lagu, Edith jatuh pingsan lalu membawa penonton ke sebuah jalanan kumuh di Perancis tahun 1918. 

Seorang gadis kecil yang lusuh dan kumal tampak menangis ketakutan karena diganggu sekelompok anak laki-laki nakal. Dari kejauhan, ibunya sedang bernyanyi untuk mendapatkan uang. Perempuan muda itu sangat kesal karena dia tak leluasa bekerja dengan seorang anak ada bersamanya. Dia pun menulis surat pada suaminya yang sedang berada di medan pertempuran bahwa dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia juga  menuliskan dalam suratnya bahwa dia akan pergi mengejar mimpinya menjadi artis dan meninggalkan anak mereka, Edith pada ibunya. 
Edith saat dalam pengasuhan neneknya di rumah bordil

Tinggal Di Rumah Bordil 
Begitu kembali dari medan pertempuran, sang Ayah langsung mencari anaknya yang saat dia temukan dalam keadaan tidak terurus. Anak itu menderita katarak dan sulit mendengar. Dia lalu membawa Edith kecil ke rumah ibunya, yang berada di Normandia dan menitipkan Edith karena dia harus kembali bekerja. Nenek Edith menjalankan bisnis prostitusi dan Edith dengan cepat menjadi kesayangan semua pekerja seks yang ada di rumah bordil tersebut. 

Selama tinggal bersama neneknya di Normandia. Edith mendapatkan banyak limpahan kasih sayang, terutama dari pekerja seks bernama Titine. Dari Titine pula, Edith belajar bernyanyi karena Titine selalu menyanyikan lagu untuknya. 

Ketika katarak yang diderita Edith semakin parah dan membuatnya tak bisa melihat, Titine dan pekerja seks lainnya  mendorong nenek Edith membawa Edith berziarah ke Santa Therese de Lisieux  untuk mendapatkan air suci yang dipercaya bisa menyembuhkan kebutaan. Pada akhirnya, Edith memang bisa kembali melihat dan memutuskan sampai akhir hayatnya dia tidak akan melepaskan kalung salib, kemana pun dia pergi. 

Film ini disajikan dengan menampilkan berbagai kilas balik kehidupan Edith secara acak, termasuk saat dia menyesali kematian anak tunggalnya,  Marcelle,  yang scene-nya justru muncul di bagian-bagian akhir film. 
Satu-satunya anak kandung Edith yang meninggal karena meningitis
Edith sendiri lahir dengan nama Edith Giovanna Gassion di sebuah distrik kumuh di kawasan Belleville, Paris. Banyak yang menyebutkan kalau Edith sebenarnya lahir di tepi jalan Rue de Belleville 72, tapi kalau berdasarkan akta kelahirannya, Edith  lahir di Hopital Tenon dan nama Edith diambil ibunya dari nama Edith Cavell, seorang perawat yang dihukum mati karena menolong tentara Perancis, dua bulan sebelum kelahiran Edith.  

Ibu kandung Edith bernama Annetta Giovanna Maillard namun lebih dikenal dengan nama panggung Line Marsa. Dia melahirkan Edith di usia 17 tahun saat dia bekerja sebagai penyanyi kafe. Ayahnya, Louis Alphonse Gassion, seorang pemain akrobat yang kemudian bergabung dengan Tentara Perancis. 

Edit bersama saudara seayahnya

Edith bersama Ayah kandung dan Ibu tirinya
Burung Gereja Kecil

Edith menghabiskan masa kecil dan sebagian masa remajanya di jalanan. Setelah memutuskan  keluar dari kelompok sirkus keliling,  Ayahnya (Jean - Paul Rouve) melakukan atraksi akrobat di jalanan dan Edith bernyanyi. Karena tak tahan dengan sikap Ayahnya yang kasar, Edith kemudian memilih mencari uang sendiri, menyanyi di jalanan seperti  ibunya. 

Bersama saudara seayahnya, Simone (Sylvie Testud) yang biasa dia panggil Momone, Edith menyanyi di berbagai sudut jalan kota Paris hingga akhirnya dia bertemu dengan Louis Leplee ( Gerald Depardieu), seorang pemilik kelab malam mewah di kota Paris. Louis yang biasa dipanggil Papa Leplee pula yang kemudian memberi tambahan Piaf di belakang nama Edith. Nama Piaf yang berarti burung gereja kecil diberikan Leplee karena Edith bertubuh kecil dengan tinggi 142 cm tapi memiliki suara yang sangat indah. 

Sayangnya, tak lama setelah berhasil mengorbitkan Edith, Leplee tewas terbunuh dan Edith sempat dicurigai terlibat meski pada akhirnya polisi melepaskannya. 
Edith dan Simone
Awal-awal karier menyanyi Edith
Mencintai Suami Orang
Setelah kematian Leplee, Edith pun mulai menata ulang karier menyanyi dan rumah tangganya. Meski tiga kali menikah, tapi cinta sejatinya hanya pada  Marcel Cerdan (Jean  Pierre Martins), seorang juara dunia , petinju kebanggaan Amerika. Masalahnya, Mercel sudah menikah dan memiliki tiga anak dan sangat mencintai keluarganya. 

Edith sering  curhat ke Simone betapa Marcel sangat mendahulukan keluarganya dari apapun. Kemana pun pergi, Marcel pasti menelepon istri dan anak-anaknya. Edith pun sangat menyadari dan tidak ingin merusak hubungan Marcel dengan keluarganya. Ketika Marcel meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan pesawat, Edith sangat terguncang dan mengalami depresi yang membuatnya harus berhenti bernyanyi hingga berbulan-bulan. Adegan saat Edith mendengar kabar kematian Marcel di film yang juga memenangkan piala Oscar untuk tata rias, merupakan scene yang sangat menguras emosi. Kehilangan seseorang yang sebenarnya tidak pernah dimiliki memang sangat menyakitkan. 
Edith dan Marcel
Foto kehangatan Marcel Cerdan dan keluarganya
Kecanduan Morfin
Kecelakaan parah yang pernah dialami membuat Edith kecanduan morfin. Selain itu, depresi setelah kematian Marcel juga membutuhkan pelampiasan. Apalagi sejak remaja Edith juga sudah akrab dengan alkohol. Hal itu membuatnya sering sakit-sakitan hingga berbulan-bulan. Tubuhnya yang ringkih sering tak mampu menopang berat badannya sendiri. Simone yang setia mengurusinya pun acap menjadi sasaran kemarahan Edith. 

Film ini berjalan lambat mengikuti langkah Edith yang mulai melambat. Belum lagi tubuh mungilnya yang mulai membungkuk. Pada saat itu pula dia bertemu suami terakhirnya yang lebih muda 20 tahun dari dirinya, Theo Saropo. Edith meninggal dunia di usia yang sebenarnya baru 47 tahun. Tapi penampilan terakhirnya tampak jauh lebih tua. 
Edith juga  seorang alkoholic




Meski sakit tapi tetap produktif

Edith bersama Theo

Kalung Salib yang tak pernah dari lehernya




Rabu, 29 Januari 2020

Elisa & Marcela , Kisah Nyata Pernikahan Sejenis Pertama di Spanyol


Elisa dan Marcela tercatat dalam sejarah Spanyol sebagai pasangan sejenis pertama yang menikah di gereja. Elisa telah mengelabui pendeta karena berpura-pura menjadi Mario. Kisah mereka kemudian diangkat dalam sebuah film berjudul "Elisa & Marcela".





Kembali lagi menemukan film yang diangkat dari kisah nyata dan tayang di Netflix. Masih tentang hubungan asmara sesama jenis yang pernah menghebohkan masyarakat di dua benua, Eropa dan Amerika, lebih satu abad lalu. 


Kisah dibuka dengan setting sebuah desa terpencil di Argentina tahun 1925. Seorang perempuan muda menempuh perjalanan jauh dengan kereta api dan kereta kuda menuju sebuah pondok kecil di ujung desa. Angin dan debu menyambar wajahnya. Seorang perempuan paruh baya menyambutnya dengan kaku. Tampak dia berusaha menahan berbagai perasaan saat melihat kedatangan tamunya. "Bolehkah aku memegang pipimu?", tanya perempuan baya itu penuh keraguan. Setelah menyilakan tamu yang belakangan diketahui adalah anak kandungnya,  makan dan beristirahat, perempuan paruh baya itu pun memulai kisahnya. 

Marcela dan Ana, anak yang dia tinggalkan demi bisa hidup bersama Elisa. 
Cinta Terlarang
Film dengan konsep hitam putih ini kemudian mundur ke tahun 1898, di kota La Coruna, Spanyol. Seorang gadis tampak berlari menembus hujan menuju biara tempatnya belajar menjadi guru. Karena bajunya basah, salah seorang seniornya, Elisa (Natalia de Molina) menawarkan bantuan untuk mengeringkan tubuhnya. Di sinilah awal kisah cinta terlarang Elisa dan Marcela (Greta Fernandez). 

Sejak pertemuan tersebut, keduanya menjadi akrab sehingga membuat ayah Marcela yang sangat konservatif menjadi curiga. Hidup bersama ayah ibu  yang kaku dan peraturan tidak boleh menggunakan lebih dari dua batang lilin, tidak lagi menjadi siksa bagi Marcela setelah dia mengenal Elisa. 

Karena keakraban yang tidak biasa itu, ayah Marcela kemudian  menarik anaknya dari biara tersebut. Apalagi sejak awal sang ayah memang tidak suka anaknya sekolah. Dia juga melarang anak dan istrinya membahas soal pendidikan dan membaca buku jika dia ada di rumah. 

Elisa yang juga keponakan direktur biara kemudian melanjutkan sekolahnya ke Jerman. Tak disangka, keduanya kembali bertemu ketika pada 1901, Elisa ditugaskan ke sekolah yang sama dengan tempat Marcela mengajar. Mereka pun mulai menjalin kembali hubungan yang sempat terputus dulu. Sayangnya, sutradara Isabel Coixet terlalu vulgar menampilkan kemesraan keduanya hingga membuat film yang awalnya indah menjadi tak ubahnya film semi murahan. Apalagi dia memasukkan berbagai unsur fantasi seks yang tidak biasa, termasuk dengan rumput laut dan gurita. 

Marcela dan Elisa saat masih di sekolah guru
Mengelabui Pendeta
Setelah pertemuan tersebut, keduanya kemudian memutuskan tinggal serumah. Karena gerak gerik mereka yang mencurigakan sebagai teman biasa, para tetangga mulai bersikap sinis pada mereka. Hingga suatu malam, tampak Elisa pergi menyelinap meninggalkan desa itu. Ternyata pelarian Elisa merupakan bagian dari rencana keduanya untuk bisa menikah secara sah. Termasuk ketika Marcela membukakan pintu untuk seorang tukang kayu yang sudah lama menggodanya. 

Beberapa minggu setelah kepergian Elisa, desa itu kedatangan tamu seorang pria muda yang memperkenalkan diri sebagai Mario dan mengaku sepupu jauh Elisa. Dengan penampilan baru dan berbagai berkas yang membuktikan bahwa dia benar bernama Mario, Elisa dan Marcela kemudian menghadap pastor di Gereja San Jorge, A Corona, Spanyol dan menyampaikan keinginan mereka menikah. 
Gereja Sam Jorge, Corona
Berdasarkan kelengkapan berkas yang mereka miliki, akhirnya pihak gereja mensah pernikahan keduanya yang kemudian tercatat sebagai pernikahan sesama jenis pertama yang disahkan di Spanyol, sampai sekarang. 

Namun, yang namanya kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Masyarakat tetap tidak dengan mudah mempercayai pernikahan mereka, meski kemudian Marcela hamil sesuai yang mereka rencanakan. Berita pernikahan sejenis itu pun kemudian menjadi viral setelah menjadi headline di koran "La Voz de Galicia". Pemerintah setempat merasa kecolongan lalu berusaha menangkap keduanya yang sudah sempat melarikan diri ke negara lain. 

Foto pernikahan Marcela dan Elisa
Berita pernikahan Marcela dan Elisa yang kemudian viral
Pernikahan Marcela dan Elisa versi film
Melarikan Diri
Setelah hebohnya berita pernikahan mereka, keduanya melarikan diri ke Portugal dimana mereka ditangkap, dipenjara, diadili dan kemudian dibebaskan. Elisa dan Marcela lalu kabur ke Argentina setelah pemerintah Spanyol menuntut agar Portugal mengekstradisi mereka. 


Dalam kisah aslinya, sebelum meninggalkan Portugal, Marcela yang berganti nama menjadi Carmen sempat melahirkan anak perempuannya dan kemudian memutuskan merawat anaknya dan tinggal bersama adik perempuannya. 

Sedangkan Elisa yang menggunakan nama Maria, pada tahun 1903, menikah dengan seorang laki-laki yang lebih tua 24 tahun darinya bernama Christian Jensen. Meski Jensen sempat ingin membatalkan pernikahan tersebut karena menduga Elisa seorang laki-laki, tapi kecurigaannya itu tidak terbukti. Sejak itu, tidak ada lagi tahu keberadaan keduanya. 

Foto terakhir Marcela dan Elisa sebelum kedua menghilang dan tak diketahui lagi keberadaannya







Jumat, 24 Januari 2020

Capote, Penulis Berdarah Dingin

“Writing has laws of perspective, of light and shade just as painting does, or music. If you are born knowing them, fine. If not, learn them. Then rearrange the rules to suit yourself.”

~ Truman Capote 
(30 September 1924 - 25 Agustus 1984) 



Tidak banyak penulis yang mampu meninggalkan masterpiece sebagaimana Truman Capote. Bahkan berita kecil dari pojok halaman belakang sebuah koran lokal mampu membuatnya menulis sebuah novel fenomenal, "In Cold Blood". Novel yang pernah diunggulkan dapat memenangkan Pulitzer itu telah diadaptasikan ke beberapa film layar lebar dan serial televisi. Salah satunya, film "Capote" (2005) yang mengantarkan Philip Seymour, pemeran Truman Capote, meraih Oscar.


Pembunuhan Keluarga Clutter
Film yang saya tonton saat melawan insomnia ini lebih berfokus pada proses Capote menulis novel "In Cold Blood" dan persahabatannya dengan Perry Smith (Clifton Collins, Jr). Banyak yang menduga, kalau Capote tidak sekadar bersahabat dengan salah seorang pelaku pembunuhan Keluarga Clutter ini. 

Berlatarbelakang tahun 1959 ketika Capote sedang minum teh sambil membaca koran The New York Times. Dia terpaku pada sebuah berita kecil yang memuat tentang pembunuhan empat anggota keluarga Clutter. Mayat keempatnya ditemukan di rumah mereka, sebuah peternakan yang terletak di Kansas. 

Seketika Capote menelepon William Shawn (Bob Balaban), editor di majalah The New Yorker dan menceritakan kalau dia ingin berangkat ke Kansas untuk menulis peristiwa pembunuhan tersebut. Hal ini  tentu saja membuat Shawn terkaget-kaget tapi tak berusaha mencegah keinginan Capote. 
Kliping berita pembunuhan Keluarga Clutter
Rumah Keluarga Clutter, tempat terjadinya perampokan dan pembunuhan sadis
Keluarga Clutter

Bersama sahabat masa kecilnya, Nelle Harper Lee (Catherine Keener), pemenang Pulitzer Prize untuk novelnya "To Kill a Mockingbird", Capote naik kereta menuju Kansas.  Mereka sebenarnya tidak hanya bersahabat tapi juga masih sepupu jauh. Saya jatuh cinta pada keduanya terutama sejak membaca Novel "Tru & Nelle" yang menceritakan masa kecil mereka yang lucu sekaligus mengharukan. 

Dalam perjalanan karier Capote, Nelle juga berperan sebagai manajer dan sekretaris tak resminya, termasuk saat mengolah berita pembunuhan ini hingga  menjadi novel kriminal paling laris di dunia.  Bukan hal mudah untuk  mendapatkan akses meliput peristiwa pembunuhan di sebuah kota kecil. Apalagi detektif Alvin Dewey (Chris Cooper) yang memimpin kasus ini juga bukan orang yang suka dengan publisitas. Dia bahkan sempat mengusir Capote. 

Pantang menyerah, Capote kemudian berusaha menemui Alvin di rumahnya. Tak disangka, Marie (Amy Ryan), istri Alvin, merupakan penggemar novel-novel Capote. Marie bahkan memohon pada Alvin agar mengundang Capote dan Nelle makan malam di rumah mereka yang akhirnya membuat Alvin mengizinkan Capote melihat foto para korban. 
Capote di makam Keluarga Clutter
Capote bersama Nelle

Capote dan Nelle versi film "Capote"
Capote bersama Alvin dan Marie
Perry & Dick 
Pada saat mereka menyantap makan malam sambil mengobrol, Alvin mendapat kabar kalau tersangka pembunuhan Keluarga Clutter berhasil ditangkap di tempat persembunyiannya. Pada malam itu pula, untuk pertama kalinya Capote melihat Perry Smith dan Richard "Dick" Hickock (Mark Pellegrino). Keduanya tampak lemah dan polos, sedikitpun tak ada yang mengesankan kalau mereka merupakan pembunuh berdarah dingin. 

Selain kedekatannya dengan Alvin, pembawaan Capote yang supel dan kebiasaannya yang royal, memudahkannya bisa menembus penjara tempat kedua tersangka itu ditahan. Selanjutnya, Capote pun mulai menjalin hubungan yang intens dengan Perry. Kedekatan dengan Perry pula yang membuat Capote mengubah tujuan awalnya yang hanya ingin menuliskan reportase, menjadi sebuah novel nonfiksi. Shawn pun antusias dengan rencana Capote itu, meski akhirnya butuh waktu yang cukup lama menyelesaikannya. 

Seorang Capote bahkan sempat memutuskan menghentikan penulisan buku itu, terutama saat hubungannya dengan Perry memburuk. Beberapa kali Perry sempat menolak bertemu dengannya karena merasa Capote telah memanfaatkan dirinya.  Bahkan, Jack Dunphy ( Bruce Greenwood), teman dekat Capote, mencurigai Capote terlalu emosional terhadap Perry. 
Perry Smith dan Dick Hickock saat ditangkap
Perry Smith dan Dick Hickock di arsip Kepolisian Kansas
Capote dan Jack Dunphy versi film "Capute" 
Film ini secara detail menyajikan  perjalanan kasus pembunuhan tersebut hingga akhirnya para juri memutuskan keduanya bersalah dan hakim memvonis mereka dengan hukuman mati. 

Mulailah Capote menghabiskan tahun-tahun panjang menulis sisi kelam kedua pemuda itu, termasuk pertemuan Capote dengan kakak kandung Perry. Capote juga yang mencarikan Perry dan Dick  penasehat hukum meski akhirnya dia tidak mampu menyelamatkan Perry dan Dick dari tiang gantungan.  

Selama Capote menyelesaikan bukunya itu, novel yang ditulis Nelle diangkat ke layar lebar dan dijagokan menerima hadiah Pulitzer. Capote merayakan keberhasilan Nelle dengan mabuk-mabukan, karena jauh di dalam hatinya dia sangat mendambakan bisa memenangkan Pulitzer.

Setelah berkali-kali mengajukan banding dan ditolak, Capote dan Nelle menerima telegram dari Perry agar mereka segera datang ke Kansas. Perry ingin Capote menyaksikan kematiannya. Sebuah permintaan yang membuat siapapun yang berada di posisi Capote akan merasakan sakit yang menyesakkan sepanjang hidup. Adegan ini sangat menguras emosi dan menjadi bagian paling getir dari film "Capote". Terutama saat mata Perry menatap Capote penuh kepedihan sebelum dia menuju kematiannya. 
Perry Smith dan Capote


Perry Smith dan Capote versi Film "Capote"
Perry Smith dan Dick menjelang dieksekusi versi film "Capote"

Kamis, 23 Januari 2020

The Danish Girl : Transformasi Einar Menjadi Lili Elbe

“His ultimate hope was to die in order that Lili might awaken to a new life.”

~Lili Elbe 
( 28 Desember 1882 - 13 September 1931) 
Kembali lagi menemukan biopik dengan kisah cinta yang tidak biasa. Kali ini, tentang pasangan suami istri asal Denmark yang dikenal sebagai pasangan pelukis kelas atas, Einar  Magnus Andreas Wegener dan Gerda Marie Fredrikke Gottlieb. 

Film dengan setting kota Kopenhagen tahun 1920-an ini menampilkan kehidupan Einar dan Gerda yang mesra seperti pasangan umumnya. Mereka tinggal di sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota dan sering hadir di berbagai pesta untuk seniman kelas atas. Hingga suatu hari terjadi suatu hal yang mengubah kehidupan keduanya. Tidak hanya menghancurkan rumah tangga yang telah belasan tahun mereka bina tapi juga karier melukis Einar. 
Poster film The Danish Girl
Model Yang Terlambat Datang
Hari itu, Gerda (Alicia Vikander)  sedang menyelesaikan lukisan potret seorang penari terkenal yang juga sahabatnya, Anna Larssen yang dalam filmnya namanya diubah menjadi Ulla Paulson (Amber Heard). Namun ditunggu hingga berjam-jam, Ulla belum juga datang sehingga Gerda meminta bantuan suaminya, Einar (Eddie Redmayne) untuk menggantikan Ulla. Einar yang awalnya keberatan kemudian bersedia mengenakan stoking putih dan sepatu perempuan sesuai lukisan aslinya. Saat Gerda sedang melukis Einar, Ulla datang dan dengan bercanda mengatakan," jangan-jangan, dalam kehidupan sebelumnya kamu itu  seorang perempuan." 
Potret diri Anna Larssen dengan Einar (Lili) sebagai model pengganti

Sejak mengenakan baju perempuan saat menggantikan Ulla, Einar merasa ada perubahan dalam dirinya. Dia merasa sangat nyaman dan menikmatinya. Dia juga mulai memakai pakaian dalam milik Gerda untuk dia kenakan di balik kemejanya. Dia beberapa kali mengendap ke teater tempat Ulla berlatih untuk merasakan sensasi saat mengenakan busana perempuan yang ada di ruang kostum gedung pertunjukan itu.  




Anna Larssen di film dan dunia nyata

Ketika mendapat undangan untuk menghadiri acara pertemuan seniman, muncul ide Gerda untuk mendandani Einar seperti perempuan dan mengaku sebagai Lili, sepupu Einar. Mendengar ide tersebut, Einar dengan antusias menerimanya. Keduanya  pun datang sebagai Gerda dan Lili. Permainan dimulai...

Sayangnya, Einar kemudian semakin larut dengan permainan tersebut. Dari mulai hanya pada momen tertentu, kini Lili mulai mendominasi dan perlahan ingin melenyapkan Einar. "Aku tidak membutuhkan Lili, Aku merindukan suamiku," tangis Gerda. Lalu dengan dingin Lili menjawab," Lili telah membunuh Einar. Dia sudah mati." 
Lili di dunia nyata dan film
Einar semakin sering menjadi Lili
Hidup Baru Sebagai Lili Elbe 
Setelah Lili menggantikan Einar, Gerda pun berusaha menerima kenyataan tersebut walau hatinya sakit. Cintanya yang begitu besar pada Einar membuatnya bekerja keras mengumpulkan uang demi mewujudkan keinginan Einar menjadi perempuan seutuhnya. Selama ini mereka masih menyembunyikan kondisi Einar karena Denmark masih menolak orang-orang dengan kondisi seperti Einar. 

Namun, lukisan Gerda yang selalu menampilkan Lili sebagai modelnya akhirnya berhasil mengungkap siapa sosok perempuan bermata indah yang menjadi model di banyak lukisan Gerda. Dia tak lain adalah suami Gerda, Einar! Hal ini kemudian mendorong mereka pindah ke kota Paris yang lebih bersikap terbuka terhadap kaum transpuan atau waria seperti Einar. 








Tidak hanya itu, Gerda juga berusaha menemukan, Baron Hans Axgil (Matthias Schoenaerts), laki-laki pertama yang pernah mencium Einar saat masih remaja. Sayangnya, Einar harus menerima kenyataan karena ternyata Hans mencium Einar secara spontan tanpa perasaan apa-apa. Waktu itu dia melihat Einar tampak cantik saat mengenakan apron milik neneknya, sehingga dia merasa gemas dan mencium Einar. 

Hans justru lebih menaruh perhatian pada Gerda dan atas permintaan Gerda pula, Hans kemudian mencarikan dokter yang bisa membantu menyelesaikan masalah Einar. Dialah, dr. Kurt Warnekros (Sebastian Koch), yang menawarkan solusi kontroversial untuk mengganti kelamin Einar dari laki-laki menjadi seorang perempuan. Tapi operasi ini tentu penuh risiko karena Einar merupakan orang pertama yang berani melakukannya. 
Baron Hans Axgil
Akhir Kehidupan Lili Elbe
Dalam buku autobiografinya, "Man into Woman : The First Sex Change" Einar menjelaskan kalau kemungkinan dia lahir dengan sindrom Klinefelter, sindrom berlebihnya kromosom X pada laki-laki. Pernikahannya dengan Gerda pada tahun 1904 tidak hanya menjadikan keduanya pasangan suami istri tapi juga sahabat hingga akhir hayat Einar yang telah resmi menjadi Lili Elbe. 

Namun, banyak juga yang menduga kalau peran Gerda dalam perubahan jati diri Einar menjadi Lili itu sangat besar. Selain mendorong suaminya berpakaian seperti perempuan dan berpose untuknya selama bertahun-tahun, ada spekulasi kalau Gerda seorang biseksual. Apalagi lukisan Gerda juga didominasi lukisan perempuan telanjang termasuk lukisan percintaan sesama perempuan. Tapi spekulasi tersebut tidak terbukti karena pada tahun 1931, Gerda menikah lagi dengan seorang tentara berkebangsaan Italia, Fernando Porta.
Gerda dan Lili Elbe

Meski Gerda telah berhasil mewujudkan keinginan Einar menjadi perempuan seutuhnya sebagai Lili Elbe. Namun masyarakat masih sulit menerima jati dirinya barunya ini. Setelah Einar resmi menjadi Lili Elbe pada tahun 1930, Raja Denmark membatalkan pernikahan mereka.  

Lili Elbe hanya merasakan setahun sebagai perempuan, dia meninggal dunia setelah operasi transplantasi rahimnya gagal. Obat Ciclosporin yang bisa mencegah kegagalan tersebut baru ditemukan tahun 1980, 50 tahun setelah kematian Lili. Gerda sendiri meninggal tahun 1940 dalam keadaan miskin. Dia bercerai dengan Porta  yang telah menggasak tabungannya. Sungguh sebuah kisah cinta yang berakhir memilukan. 
Gerda dengan gaya androgininya
Gerda membiayai operasi Einar dengan menjual lukisannya
Lili Elbe dengan kekasihnya , Claude 

Gerda dan Fernando