Pages

Kamis, 26 April 2018

Wakaf, Beautiful Loan to Allah

Alhamdulillah, saat ini animo masyarakat untuk mewakafkan harta demi kemaslahatan umat semakin tinggi. Hal itu tidak terlepas dari peran penggiat wakaf, termasuk para perempuan yang aktif menjadi wakif maupun nazir. Sejarah juga mencatat banyak muslimah yang intens menyemai semangat berwakaf.

www.sedekahproduktif.com

Selain zakat dan sedekah, wakaf juga merupakan kegiatan filantropi Islam yang banyak dipraktikkan oleh umat Islam di Indonesia. Selain menjadi tabungan di akhirat, wakaf juga menjadi bentuk amal yang manfaatnya tidak terbatas waktu. Banyak kisah tentang bangunan bersejarah maupun pusat pendidikan yang merupakan wakaf seseorang ratusan tahun lampau dan masih memberi manfaat hingga saat ini.

“Secara sederhana, wakaf itu adalah sumbangan yang diberikan seseorang dimana harta yang disumbangkan tersebut dipindahkan kepemilikannya dan dikelola oleh suatu badan atau bisa juga oleh perorangan sehingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Penyumbang kemudian disebut wakif dan pengelolanya disebut nazir. Misalnya, jika seseorang mewakafkan rumah penginapan, atau kebun, maka rumah dan kebun itu dikelola dan hasil panen kebun dan sewa rumah penginapan itu digunakan misalnya untuk membiayai operasional sekolah, masjid, dan lainnya sesuai dengan keinginan wakif,” jelas Dr. Amelia Fauzia, pengurus Badan Wakaf Indonesia divisi Penelitian dan Pengembangan.

Lebih lanjut, peneliti tamu di Asia Research Institute,  National University of Singapore ini menambahkan bahwa berdasarkan data Kementerian Agama tahun 2014,  di Indonesia terdapat 435.395 obyek tanah wakaf yang dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, mulai dari  tempat ibadah seperti masjid dan musala, sekolah, kuburan, dan lainnya.

“Namun,  mayoritas wakaf ini belum banyak yang dikelola secara produktif. Baru satu setengah dekade terakhir, Badan Wakaf Indonesia serta Kementerian Agama melakukan gerakan wakaf produktif agar aset-aset wakaf itu bisa dikelola dan menghasilkan lebih banyak manfaat bagi masyarakat, baik itu manfaat untuk ibadah, sosial, dan juga ekonomi.”

Selama ini, tambah Amelia,  kebanyakan masyarakat berasumsi bahwa wakaf itu hanya bisa diberikan oleh orang mampu, karena bentuk pemberiannya berkisar antara tanah, bangunan, atau harta benda yang bernilai besar, seperti kebun. Padahal tidak harus demikian.

Dalam sejarah Islam sendiri ditemukan banyak ragam bentuk wakaf yang masih bertahan dan memberi manfaat sampai saat ini. Kegiatan philantropi umat Islam yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lampau ini tidak harus berupa harta yang besar seperti masjid,  pasar, sumur, madrasah, kebun, perpustakaan, hotel/penginapan, jembatan, kapal laut, tapi para wakif juga bisa mewakafkan binatang, buku, saham, dan lainnya.


Wakaf Produktif
Peraih PhD dari University of Melbourne tahun 2009 ini mengurai bahwa sejak masa Dinasti Usmaniyyah juga dikenal ada wakaf uang, yang bentuknya seperti praktik bank pada masa ini.

“Intinya, ada uang yang diwakafkan, dan uang ini dikelola, baik dibuat pinjaman maupun diinvestasikan dan keuntungan dari hasil pengelolaan ini disedekahkan. Praktik wakaf sangat beragam, dan sangat kreatif, sejalan dengan perkembangan ekonomi dan mazhab di suatu wilayah dan periode. Saat ini ada pula wakaf polis asuransi syariah, dan pola wakaf yang dilakukan berjamaah sehingga mereka yang tidak memiliki lahan atau hanya memiliki uang terbatas, bisa berpartisipasi melakukan wakaf.” 

Dosen UIN Syarif Hidayatullah dan Direktur Social Trust Fund ini menambahkan bahwa animo masyarakat dalam berwakaf cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah obyek wakaf di Indonesia yang diperkirakan jumlahnya kedua terbanyak di dunia setelah India,  dan jumlahnya terus bertambah. Wakaf uang juga semakin bergulir.
Untuk menambah manfaat dari harta yang diwakafkan, BWI dan Kementerian Agama serta lembaga-lembaga kedermawanan Islam lainnya juga menggulirkan konsep wakaf produktif berupa wakaf tempat usaha seperti rumah kontrakan, lapangan futsal, restoran, pom bensin, minimarket, dan lainnya sehingga bisa memberi lebih banyak manfaat kepada masyarakat.

                              iliustrasy  by   vida y naturaleza en amonia 


Tentang peran perempuan sebagai pegiat dan penggiat wakaf, Amelia menjelaskan bahwa sejarah mencatat tentang sosok perempuan sebagai wakif. Para Sultanah, istri dan ibu para sultan sering kali mewakafkan harta mereka.

“Pada masa Dinasti Mamluk, 30 persen dari nazir wakaf  itu adalah perempuan. Semangat berwakaf yang tinggi ini tidak saja dalam hal wakif serta nazir, tapi juga studi wakaf. Dalam sepuluh tahun belakangan ini, studi terkait wakaf semakin berkembang, tidak saja dalam bentuk skripsi, tesis dan disertasi, tapi juga riset-riset lepas dan konferensi serta forum pegiat wakaf. Pemerintah Indonesia juga mendorong serta memfasilitasi gerakan wakaf ini untuk mendorong ekonomi masyarakat,” Amelia menandaskan


Rabu, 25 April 2018

Waspadai Faktor "X" Dalam Pernikahan

Faktor "X" dalam pernikahan bukan hanya datang dari orang ketiga, seperti mertua, ipar maupun pelakor atau pebinor, tapi juga pembiaran atas karakter negatif pasangan karena menerimanya sebagai takdir.

foto : www.meetmind.com




Dalam sebuah pernikahan, hal yang paling menjadi pertimbangan utama adalah kesepakatan pasangan dalam menjalani kehidupan dalam ikatan pernikahan. Mulai dari kesepakatan soal finansial, jumlah anak hingga bagaimana kelak pola pengasuhan anak yang mereka pilih.


“Beberapa pasangan biasanya sudah membicarakan tentang persoalan ini jauh-jauh hari, termasuk siapa yang bertanggungjawab terhadap item-item tertentu dalam keluarga mereka. Bahkan ada pula yang sampai rinci membicarakan tentang kesehatan reproduksi. Bagaimana pun isteri juga memiliki hal terhadap jumlah anak karena berkaitan dengan kesehatan reproduksinya,” jelas  Aditiana Dewi  Eridani, Direktur Rahima, Lembaga Swadaya Masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam perpektif Islam.

Ketidakterbukaan terhadap pasangan juga bisa menjadi bola panas dalam perjalanan rumah tangga. “Karena banyak pasangan yang bercerai karena tidak adanya keterbukaan di antara mereka. Kedewasaan seseorang itu bukan terkait dengan usia, melainkan kesiapan mental, fisik dan finansial. Hal ini pula yang menyebabkan ada yang sudah bertahun-tahun menikah tapi masih belum memahami tujuannya menikah.”

Begitu pun ada pula faktor “x” yang membuat seorang isteri yang sudah hidup puluhan tahun dengan suami berkarakter buruk tapi tetap mempertahankan pernikahannya. “Bisa jadi dia mempertimbangkan banyak hal, termasuk anak-anak dan nafkah yang masih dibutuhkannya dari sang suami. “ Tapi tidak sedikit pula yang membiarkan hidup dalam deraan derita karena menerimanya sebagai takdir. Bahkan ada perempuan yang membiarkan suaminya berulangkali selingkuh hanya karena tidak ingin menyandang status janda. Tidak sedikit pula yang menutup mata atas kelakuan suami yang kerap melakukan KDRT atas nama cinta. Sungguh sebuah bentuk cinta yang absurd! 


pinterest
Lebih lanjut, Eridani menambahkan bagaimana selama ini Rahima selalu memperjuangkan kesetaraan suami dan isteri dalam pernikahan, termasuk dalam kesehatan reproduksi, pola asuh anak, hingga manajemen keuangan yang semestinya dilakukan bersama-sama.  “Di agama Nasrani, misalnya, wajib bagi pasangan yang ingin menikah untuk mengikuti kursus pranikah. Kursus ini biasanya dilakukan selama beberapa bulan sebelum menikah. Sementara di banyak KUA, kursus pranikah berupa nasihat pernikahan yang  lebih bersifat simbolis. Namun ada beberapa KUA yang bekerjasama dengan Puskesmas untuk memberi edukasi tentang kesehatan reproduksi kepada calon pengantin. Tapi sayangnya, hal ini tidak bersifat wajib.” 

Tentang penentuan jumlah anak yang dikehendaki dan penolakan seorang istri untuk hamil lagi, juga masih menjadi hal yang kurang patut bagi pandangan sebagian besar masyarakat Indonesia. Belum lagi masih kuatnya budaya patriarki yang masih menganggap suami sebagai kepala rumah tangga adalah pemegang kendali dan penentu keputusan dalam keluarga. Bahkan dalam kaitan pasangan yang selama bertahun-tahun belum memiliki anak, jarang sekali pihak keluarga yang menyalahkan suami. Alih-alih menganjurkan untuk sama-sama memeriksakan diri ke dokter agar tidak saling menyalahkan, tidak sedikit pula keluarga yang menyarankan si suami untuk menikah lagi demi meneruskan keturunannya. 

Perjanjian Pra Nikah Itu Penting

Menyikapi banyaknya persoalan yang terjadi dalam sebuah pernikahan, Eridani menekankan perlunya membuat perjanjian pranikah sebagai upaya preventif. Semakin meningkatnya angka perceraian dengan beragam penyebabnya bisa menjadi pertimbangan untuk  membuat perjanjian khusus di antara pasangan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Tapi sampai saat ini, pembuatan perjanjian pranikah ini masih sering dianggap tabu dan kerap dikaitkan dengan persoalan harta gono gini. 

“Padahal, Perjanjian Pranikah atau yang lebih dikenal dengan istilah Prenuptial Agreement ini bukan hanya memuat klausul mengenai materi dan pembagian harta gono gini saja, tapi juga bisa menyangkut berbagai hal yang menjadi keinginan dan kesepakatan kedua belah pihak. Selama ini Perjanjian Pranikah berisi hal-hal mengenai finansial, kesehataqn reproduksi, kesetiaan hingga kondisi yang memungkinkan terjadinya perpisahan,” jelas Eridani.

Perjanjian Pranikah tersebut bisa dilakukan di depan notaris untuk menguatkan secara hukum. Tapi bisa juga dilakukan di depan keluarga besar kedua belah pihak sesuai kesepakatan bersama.

“Tapi sayangnya, hal ini belum menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat kita, karena masih banyak yang menganggapnya tabu. Baru mau nikah kok sudah membahas perpisahan. Padahal, perjanjian semacam ini justru sangat memuliakan makna sebuah hubungan karena masing-masing memiliki komitmen yang jelas tentang niat mereka untuk menikah. “

Lebih lanjut Eridani menambahkan kalau perjanjian ini lebih sebagai pegangan bagi kedua belah pihak ketika dalam perjalanan pernikahan mereka terjadi masalah. Banyak kasus perceraian yang prosesnya menjadi rumit dan berlarut-larut karena tidak adanya pegangan yang membuat salah satu bisa mengalah dan sebaliknya.
www. fiveprime.com




Senin, 23 April 2018

Pikir Dulu Sebelum Talak


Berakhirnya sebuah pernikahan tidak selalu disebabkan  memudarnya rasa cinta melainkan berubahnya nilai pernikahan itu sendiri.

www.lovepanky.com

Perjalanan pernikahan memang tidak selamanya berjalan mulus dan tanpa hambatan. Apalagi jika pernikahan tersebut sudah memasuki tahun kelima, kesepuluh bahkan tahun keduapuluh sekalipun. Tidak sedikit pasangan yang memilih berpisah di tahun keduapuluh pernikahan mereka. Ini terjadi pada pasangan Dewi Yull dan Ray Sahetapi yang berpisah setelah lebih dari 23 tahun menikah dan telah dikaruniai empat orang anak serta memiliki seorang cucu. Pasangan Lidya Kandou dan Jamal Mirdad juga memilih berpisah setelah lebih dari  27 tahun menikah.

Perpisahan memang bukan solusi yang disarankan dalam agama untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Tapi jika masalahnya memang tidak bisa diselesaikan selain dengan berpisah, Islam juga tidak melarangnya. Bagaimana bisa mempertahankan sesuatu yang memang sudah tidak bisa dipertahankan. Allah juga tidak akan membiarkan hamba-Nya hidup dalam derita berkepanjangan karena menikah dengan pasangan yang salah.

Pernikahan itu sendiri merupakan prosesi yang sangat sakral bagi semua orang. Bisa dipastikan kalau setiap orang yang saling mencintai akan berharap kalau hubungan mereka kelak dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Selain merupakan sunnah Rasul, tujuan menikah juga untuk meneruskan garis keturunan.

Islam juga dengan tegas telah menetapkan  bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua hati yang saling mencintai saja. Namun lebih luas daripada itu.  

Tujuan Menikah Dalam Islam
Dalam setiap majelis pernikahan, biasanya selalu dihadirkan sosok yang dihormati dari pihak keluarga mempelai untuk memberikan nasihat pernikahan. Utamanya mereka akan menyampaikan bahwa begitu banyak hal yang akan dihadapi calon pengantin ini. Langkah mereka memasuki hidup baru tentu juga menjadi awal dari babak baru kehidupan mereka. Membentuk sebuah keluarga dengan menghadirkan Allah di dalamnya. 

Berikut ini ada lima tujuan utama menikah, yaitu:

1. Menjaga Diri Dari Perbuatan Maksiat

Tujuan pertama dari pernikahan menurut Islam adalah untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat. Rasulullah saw bersabda: “Wahai para pemuda, barang siapa dari kamu telah mampu memikul tanggul jawab keluarga, hendaknya segera menikah, karena dengan pernikahan engkau lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluanmu. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengendalikan dorongan seksualnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Nafsu syahwat merupakan fitrah yang ada dalam diri manusia. Untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat, Islam menganjurkan bagi yang sudah memiliki kemampuan baik dalam hal ekonomi juga kesiapan mental untuk menikah. Namun jika belum mampu, maka hendaknya berpuasa untuk mengendalikan diri.

2. Mengamalkan Ajaran Rasulullah Saw

Sebagai umat Muslim, Rasulullah saw adalah teladan utama dalam menjalani kehidupan. Dengan mengikuti apa yang dikerjakan oleh Rasulullah saw  berarti kita sudah menjalankan sunnahnya dan salah satu sunnah Rasulullah saw adalah menikah dan meneladani bagaimana Rasulullah saw menjalankan rumah tangganya. Menjadi imam, suami dan ayah yang baik serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam keluarga seperti yang dilakukan Rasulullah saw.

3. Memperbanyak Jumlah Umat Islam

Tujuan selanjutnya dari pernikahan adalah untuk menambah jumlah umat Islam. Maksudnya di sini adalah buah dari pernikahan tersebut akan melahirkan anak-anak kaum muslim ke dunia dan mendidiknya menjadi umat yang berguna bagi agama dan masyarakat, sebagaimana sabda Rasulullah saw : “Nikahilah perempuan-perempuan  yang bersifat penyayang dan subur (banyak anak), karena aku akan berbangga-bangga dengan (jumlah) kalian dihadapan umat-umat lainnya kelak pada hari kiamat.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, At Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albany ) .

4. Mendapat Kenyamanan

Tidak hanya faktor kepentingan agama saja, menikah juga seharusnya bertujuan untuk mendapatkan kenyamanan dan kedamaian dalam hidup. Itu sebabnya Islam juga memberikan kriteria tersendiri dalam mencari pasangan hidup. Pasangan yang tentunya bisa menjadi belahan jiwa dan senantiasa  menghadirkan Allah dalam kehidupan bersamanya. Allah Swt berfirman:“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Rum 21).

5. Membina Rumah Tangga Sesuai Syariat Islam

Tujuan menikah yang tidak kalah pentingnya adalah untuk membia rumah tangga yang islami dan menerapkan syariat agama. Allah Swt  berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakaranya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)


www.patheos.com
Jika ada keinginan berpisah, renungkanlah bagaimana banyak orang yang terlibat dalam pernikahan kita, menyaksikan ijab kabul kita dan mendoakan niat baik kita melangsungkan pernikahan. Dengan senantiasa menghadirkan Allah dalam pernikahan semua akan memberikan rasa tenang dan tenteram. Insya Allah. So, pikir dulu sebelum meminta atau menjatuhkan talak pada pasangan... 

Kamis, 05 April 2018

Niqab Bukan Anjuran Nabi

Menutup aurat bagi kaum muslim bukan hanya untuk menjaga kehormatan tapi juga memuliakan martabat. Hal ini  tidak hanya hanya untuk perempuan tapi juga laki-laki dan khunsa.


Semakin banyaknya muslimah yang kini mengenakan hijab sebenarnya merupakan momen kebangkitan Islam. Namun sayangnya, hijab yang menghiasi penampilan mereka sebagian ada yang hanya sekadar menjadi gaya hidup sehingga mengabaikan esensi utamanya.

Hal ini tentu bisa menjadi fenomena yang kurang baik, dimana persoalan menutup aurat bukan lagi menjadi tujuan utama tapi dikalahkan pengaruh trend dalam berbusana.
“Pembahasan masalah aurat pada zaman Rasulullah sebenarnya  lebih kepada membahas tentang syarat sahnya salat bukan membahas tentang gaya busana,” jelas DR. Atiyatul Ulya, M. Ag, Dosen jurusan Ilmu Hadis di Fakultas Ushluddin, UIN Syarif  Hidayatullah, Jakarta saat saya temui di ruang kerjanya. 

Menurut Ati,  demikian dia biasa disapa,  begitu pentingnya pembahasan mengenai aurat terutama untuk perempuan sehingga banyak ayat Alquran dan hadis yang mengupasnya. Salah satu riwayat yang paling banyak dijadikan rujukan tentang aurat adalah kisah yang bersumber dari hadis Rasulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra dimana Rasulullah pernah menegur Asma supaya mengenakan pakaian yang tidak memperlihatkan bagian dari tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

“Jadi, baik niqab mapun cadar itu bukan anjuran Rasulullah. Beliau bahkan melarang umatnya untuk memakai penutup wajah dan sarung tangan ketika menunaikan umrah dan haji. Bisa jadi, orang yang memakai niqab dan cadar itu melakukannya untuk menghindari fitnah.”


Semua Mazhab Berpandangan Sama
Atiyatul juga menjelaskan bahwa dalam pembahasan mengenai aurat, keempat mazhab mainstream, yaitu Hanafi, Hambali, Syafi’i dan Malik memiliki pandangan yang sama. Menurut keempat mazhab tersebut menutup aurat itu hukumnya wajib bagi perempuan baik saat salat maupun di luar salat. Hal ini juga menjadi jumhur ulama.

Riwayat lainnya dari Aisyah yang juga menjadi rujukan terbanyak adalah bahwa Allah tidak menerima salat perempuan yang sudah haid kecuali dia memakai khimar.
“Khimar yang dimaksud dalam hadis tersebut kemudian diartikan sebagai sesuatu yang menutup rambut. Tapi jika merujuk pada firman Allah Swt dalam An-Nur : 31, Allah juga memerintahkan perempuan untuk menutup aurat dan melarang berlebihan dalam memakai perhiasan kecuali apa yang biasa tampak. Sifat tabarruj ini bukan pada persoalan menutup aurat tapi tampil berlebihan untuk menarik perhatian. Bisa jadi, auratnya sudah ditutup tapi mengenakan perhiasan atau kosmetika yang berlebihan sehingga menarik perhatian orang lain.”

Menutup aurat dengan baik juga menjadi pembeda antara perempuan merdeka dengan budak. Karena di luar salat, para budak perempuan tidak menutup rambut, leher dan dada mereka. Keempat mazhab ini juga memiliki pandangan yang berbeda mengenai aurat budak perempuan, ada yang berpendapat bahwa aurat budak perempuan di luar salat sama dengan aurat laki-laki.
“Meski menutup aurat itu hukumnya wajib tapi yang paling penting itu adalah esensi dari menutup aurat dan bagaimana caranya. Menutup aurat bukan hanya dengan baju syar’i dan khimar panjang tapi juga harus diiringi dengan menghindari tabarruj. Karena tabarruj juga bisa berdampak pada fitnah.

foto : Stefano Romano 



Minggu, 11 Juni 2017

Ketika Istri Mendominasi Suami

Islam sangat memuliakan perempuan dan memberi banyak keistimewaan bagi mereka, termasuk melarang perempuan mendominasi peran di dalam kehidupan rumah tangganya. 
Suasana di sebuah ruang konsultasi suami istri itu tampak hening. Selain sepasang suami istri yang saling memasang wajah dingin, tampak seorang konsultan yang berusaha memberikan solusi terbaik bagi kehidupan rumah tangga kliennya yang sedang berada di ambang kehancuran. Sang suami yang selama bertahun-tahun  hidup di bawah tekanan istri yang menurutnya sangat dominan, mengaku sudah tidak mampu lagi bertahan. Dia bahkan rela kehilangan semua harta dan jabatan yang dia miliki asalkan bisa mendapatkan kembali harga dirinya sebagai kepala keluarga. 

"Istri yang dominan tidak hanya berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak juga dapat membuat kehidupan rumah tangga itu menjadi tidak seimbang. Kecuali kalau istri itu bersikap dominan terhadap pengambilalihan pola asuh dan pola didik anak, itu mungkin bisa dikatakan sebagai sikap dominan yang positif. Karena bagaimana pun, anak akan lebih merasa dekat dengan ibunya terutama dalam hal pendidikan moral," kata Anna Farida, seorang konsultan yang fokus terhadap masalah parenting. 

Anna juga menuturkan kisah tentang Asma binti Abu Bakar ra yang meski dijuluki sebagai "pahlawan perempuan berikat pinggang dua". Asma tetaplah seorang istri yang sangat taat dan setia kepada suaminya. Padahal suaminya itu merupakan laki-laki pilihan orang tuanya yang tidak memiliki reputasi secemerlang Asma. "Namun Asma tetap melakukan ikhlas semua kewajibannya  sebagai istri dan ibu. Bagaimana pun hebatnya seorang perempuan, posisinya di dalam rumah tangga tetaplah secondary. Kepala keluarga tetap dipegang oleh suami." 

Mendebat & Mengadukan Suami
Imam Malik meriwayatkan bahwa istri Umar bin Khattab ra yang bernama Atikah selalu mengajak Umar berdebat tentang keinginannya pergi ke masjid. Umar sendiri tidak suka bila ada perempuan yang ke masjid, tapi Atikah tetap berkeras karena dia tahu bahwa Rasulullah saw tidak pernah melarang perempuan pergi ke masjid. Karena argumen istrinya tepat, mau tidak mau Umar diam dan mengalah. 

"Riwayat di atas memperlihatkan bahwa pada hakikatnya istri bisa saja tidak sependapat dengan suaminya, tapi tetap harus dengan argumen yang kuat dan tanpa bermaksud melawan suami. Karena bagaimana pun, di dalam kehidupan rumah tangga istri adalah makmum dan suami menjadi imamnya," jelas M. Quraish Shihab. 

Ketika HIndun, istri Abu Sofyan, merasa tidak tahan dengan kekikiran suaminya, dia mengadu kepada Rasulullah saw dengan bahasa yang sama sekali tidak menyudutkan sang suami. Dia mengatakan kepada Rasulullah ," Ya Rasulullah, suami saya sangat perhitungan. Dia tidak memenuhi kewajibannya dalam nafkah padahal dia mampu. Apakah saya boleh mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya? " 
Mendengar pertanyaan Hindun tersebut, Rasulullah menjawab, " Ambillah apa yang mencukupi bagimu dan anakmu secara wajar." (H.R. Bukhari dan Muslim). 

Sedikit pun HIndun tidak menyinggung keburukan suaminya yang lain. Dia hanya mengatakan hal yang seperlunya  karena merasa sudah tidak kuasa lagi menahannya. 

Di dalam Islam, istri yang merasa dirinya lebih tinggi daripada suami disebut melakukan nusyuz. Suami yang mendapat ujian istri yang seperti ini, di dalam Alquran surat An-Nisa (4 : 34) dituntun untuk menasihati istrinya. Kalau nasihat itu masih tidak mempan, boleh mendiamkannya selama tiga hari berturut-turut dan kalau masih juga tidak berhasil boleh memukulnya. Tapi oleh Rasulullah diingatkan agar tidak memukul wajah atau menyakitinya. 

Setinggi apa pun pendidikan dan kedudukan seorang perempuan, dia tetaplah istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Itulah sebabnya derajat perempuan dalam Islam sangat dimuliakan. Karena di tangan perempuanlah, kualitas generasi mendatang ditentukan. 



Sabtu, 10 Juni 2017

Warisan Suami Berpoligami

Meski Islam tidak melarang umatnya memiliki istri lebih dari satu, persoalan kerap timbul ketika sang suami meninggal dunia. Istri manakah yang berhak mendapatkan harta warisan lebih besar dari istri lainnya...
Tuan tanah terkaya di Kampung Rawa itu kini telah meninggal dunia. Sebut saja namanya Haji Syukron. Dia meninggalkan empat istri dan 18 orang anak yang 12 di antaranya anak laki-laki. Sebelum meninggal dunia, lelaki itu sempat dirawat selama berbulan-bulan di rumah sakit dan menjalani beberapa kali tindakan operasi atas komplikasi penyakit yang menderanya. Akibatnya, berhektar-hektar sawah yang selama ini menjadi tumpuan hidup keluarga ini terpaksa dijual untuk menutupi biaya operasi yang sangat mahal. Kini, harta yang tersisa hanyalah rumah induk atas nama istri pertama dan sebidang tanah yang luasnya tidak sampai satu hektar. 

Persoalan pun terus bergulir karena setiap istri menuntut pembagian yang adil atas warisan yang menjadi hak mereka. Karena tidak menemukan pemecahan yang tepat, keluarga besar itu akhirnya membawa perkara warisan tersebut ke pengadilan agama untuk mendapatkan fatwa waris. Apalagi, beberapa usaha almarhum ternyata juga menggunakan dana pinjaman dari bank dengan mengagunkan sebidang tanah lainnya. Keluarga ini semakin pusing tujuh keliling. 

Utamakan Utang
Islam sendiri menegaskan bahwa sebelum dilakukan pembagian waris kepada yang berhak menerimanya, sebaiknya diselesaikan dulu segala utang piutang almarhum semasa hidupnya. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa para ulama secara keseluruhan sependapat bahwa warisan dan wasiat baru dapat ditunaikan setelah utang-utang diselesaikan. Dari sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. juga menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda dalam beberapa khutbahnya, "Barangsiapa meninggalkan harta atau hak, maka yang demikian itu adalah bagi ahli warisnya. Dan barangsiapa meninggalkan tanggungannya atau utang, maka seluruhnya kembali padaku, dan utangnya menjadi tanggunganku."

Begitu pentingnya kewajiban membayar utang, sehingga Rasulullah saw mengorbankan dirinya untuk melunasi utang yang ditinggalkan umatnya sehingga tidak merusak amalan yang sudah dilakukan almarhum semasa hidupnya. 

Setelah semua kewajiban ditunaikan, barulah harta yang ada dibagi sesuai hukum faraid, hukum Islam yang berkenaan dengan pembagian warisan. Di dalam kitab Fiqhu Al- Sunnah disebutkan bahwa pada zaman jahiliyah, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab memberikan warisan hanya kepada kaum laki-laki dan mengabaikan hak perempuan. Mereka hanya memberikan warisan kepada orang-orang yang sudah dewasa dan mengabaikan hak anak kecil. Allah kemudian menghapus semua ketidakadilan itu melalui firman-Nya yang berbunyi, " Allah mensyariatkan bagi kalian, yaitu : bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka dia memperoleh separuh harta..." (Q.S. An-Nisa/ 4 : 11)
Di dalam ayat tersebut juga dijelaskan bahwa pembagian harta baru dapat dilakukan setelah semua utang dibayar dan apa-apa yang pernah diwasiatkan almarhum sebelum meninggal dunia ditunaikan. 

Bagaimana halnya dengan keempat istri Haji Syukron dalam kisah di atas? 
Setelah mereka menyelesaikan semua utang dan kewajiban almarhum, menurut hukum faraid, keempat istri itu mendapatkan bagian seperdelapan dari harta yang ditinggalkan Haji Syukron. Pasalnya, harta yang ada hanya rumah induk dan sebidang tanah. Kalay aset tersebut dijual dengan harta Rp 1 miliar, maka setiap istri akan mendapatkan bagian Rp 31.250.000 yang diperoleh dari pembagian seperdelapan dari Rp 1 miliar yang dibagi empat. 

Selain anak dan istri, ahli waris lain yang berhak atas harta tersebut adalah kaum kerabat almarhum yang masih hidup. Kaum kerabat itu terdiri dari ushul (garis lurus ke atas) seperti ayah atau kakek almarhum kalau keduanya masih hidup, faru' (garis lurus ke bawah) seperti anak laki-laki dari anak laki-lakinya dan seterusnya ke bawah, serta hawasy (garis ke samping) yaitu saudara laki-laki dari almarhum beserta anak-anak mereka dan seterusnya ke bawah. Demikian juga dengan saudara laki-laki seibu dan seterusnya ke bawah. Paman dan anak laki-laki dari paman dan terus ke bawah juga, termasuk golongan laki-laki yang berhak mendapatkan warisan. 

Namun, tidak semua dari mereka mendapatkan bagian warisan karena sebagian dari mereka menghalangi yang lainnya. Sebaliknya, jika dalam pembagian harta waris semua orang yang di atas itu ada, maka yang berhak atas warisan Haji Syukron itu hanya ke-4 istri, ke-18 anak dan ayah kandung Haji Syukron yang kebetulan masih hidup. Dari warisan senilai Rp 1 miliar itu, ayahnya berhak atas seperenamnya, yakni Rp 166.666.667. Setelah istri dan ayah almarhum mendapatkan bagiannya, barulah sisanya dibagikan kepada anak-anak dengan anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan. 

Gono-gini Poligami
Selesaikah masalah dalam keluarga Haji Syukron itu? Ternyata, belum.
Masalahnya, istri pertama menuntut bagian lebih banyak mengingat dirinya memiliki andil cukup besar dalam membangun usaha suaminya. 
Usut punya usut, keduanya memulai biduk rumah tangga benar-benar dari nol. Bahkan, beberapa usaha yang dirintis almarhum dimodali dari warisan orangtua istrinya tersebut, termasuk rumah induk yang sertifikatnya atas nama istri pertamanya itu. Setelah usahanya maju dan mampu membeli berhektar-hektar sawah dan aset berharga lainnya, almarhum meminta izin menikah lagi, lagi, dan lagi hingga beristri empat. 

Islam sendiri tidak mengenal adanya istilah gono-gini dalam pembagian harta warisan. Namun, bila merujuk pada Kompilasi Hukum Islam pasal 97 disebutkan bahwa harta gono-gini janda dan duda cerai adalah setengah dari harta bersama sepanjang tidak ada ketentuan lain dalam perjanjian pranikah. Hal ini juga berlaku untuk pasangan yang berpisah karena kematian. 

Untuk kasus ini, jika istri pertama dapat memberikan bukti seberapa besar harta miliknya, harta tersebut harus dipisahkan dari harta warisan yang merupakan hak semua ahli waris almarhum. Akhirnya, setelah dikurangi dengan harta terpisah milik istri pertama, yakni rumah induk yang sertifikatnya atas nama istri pertama, harta yang tersisa tinggal Rp 500 juta. Dari nilai tersebut, keempat istri mendapatkan warisan masing-masing Rp 15.625.000. Sedangkan ayah almarhum mendapatkan seperenamnya yakni Rp 83.333.333. Sisa dari harta itu yang disebut ashabah menjadi milik ke-18 anak Haji Syukron yang dibagi sesuai hukum faraid, anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan. Bagi anak yang belum baligh, bagian miliknya akan dititipkan kepada walinya, dalam hal ini ibu kandungnya. 

Jadi, meski mengizinkan seorang lelaki beristri lebih dari satu, Islam juga mewajibkan kaum lelaki menanggung konsekuensinya berpoligami. Bagi yang belum berpoligami, insya Allah info ini bisa menjadi peringatan awal sebelum Anda melangkah lebih jauh. 


Ilustrasi : Google

Untuk Afi Dan Kecemasan Saya

Di tengah hujatan dan pembelaan pada gadis belia bernama Afi, saya hanya ingin membagi kecemasan saya padanya. 
Saya pertama kali membaca tulisan Afi itu ketika ada seorang teman yang mengunggahnya di facebook. Gadis yang memiliki nama asli Asa Firda Inayah itu mampu membuat saya terkagum-kagum  dengan isi pikirannya yang bernas. Dia menuliskan pengalamannya selama 10 hari tidak menggunakan gawai. Waktu membaca tulisannya itu, hal pertama yang ada di pikiran saya adalah kemana saja Afi selama ini. Mengapa saya yang selama sepuluh tahun terakhir ini aktif mengikuti perkembangan penulis cilik di Indonesia tidak memiliki rekam jejak karya bukunya. Bahkan namanya pun baru saya tahu lewat unggahan teman saya itu. Afi Nihaya Faradisa.

Berbeda dengan kebanyakan penulis muda lainnya, gadis berusia 19 tahun ini memiliki gaya bahasa yang melompat sangat jauh dari usianya. Tidak hanya menggunakan bahasa yang baku dan penggunaan kata "saya" , bukan "aku" maupun "gue", Afi menuliskan hal-hal yang termasuk berat dan berani. 

Dengan kemampuannya menulis yang katanya sudah dia lakukan sejak masih SD dan kegemarannya membaca buku karya penulis-penulis besar dunia, saya masih ingin bertanya kemana saja Afi selama ini. Mengapa saya tidak menemukan dia di berbagai lomba menulis pelajar maupun kongres anak yang disaring lewat tulisan essay. Melihat keaktifan Afi yang katanya sudah menjadi pembicara di berbagai diskusi di kotanya, seharusnya nama Afi sudah menasional sejak dulu sebagai penulis cilik. Apalagi jika mendengar kalau Afi juga memiliki mentor yang menjadi pembimbingnya menulis. Mengapa sang mentor tersebut tidak mengarahkan kemampuan menulis Afi untuk menjadi sebuah buku atau mendorongnya ikut berkompetisi.

 Tapi itu kan hanya pemikiran saya saja. 
Hal yang membuat saya terpana, Afi ternyata juga  menjadi admin termuda  untuk sebuah grup pembongkar hoax terbesar di Indonesia. Untuk tugas tersebut Afi  harus menerima risiko sering diancam dan membuatnya jadi berkali-kali berganti akun media sosial dan sekaligus memiliki lebih dari satu akun media sosial. Menurut saya, hal ini cukup riskan untuk seorang siswa SMA di sebuah kota kecil. 

Plagiat itu Jahat, Nak... 
Ah, Afi, saya jadi ingat ketika memperlihatkan tulisanmu pada anak saya yang seorang penulis. Anak saya tercenung dan mengatakan kalau tulisan kamu bagus sekali. Anak saya juga merasa takjub  karena masih ada anak sepantaran dia yang tidak memiliki twitter dan instagram tapi malah lebih aktif menulis di facebook. Dia mengagumi gaya menulismu yang mengalir lancar dengan pemilihan diksi serta perbendaharaan kata yang sangat kaya. 

Sayangnya Afi, berita kalau tulisan-tulisan keren kamu itu merupakan plagiat membuat hati saya hancur. Awalnya, saya ,masih tidak percaya, karena history pada akun facebook bisa jadi telah mengalami pengeditan sedemikian rupa sehingga terdapat kerancuan  siapa sebenarnya orang yang pertama kali mengunggah tulisan yang dianggap plagiat tersebut. 
Alih-alih mengklarifikasi atau minta maaf soal isu plagiat tersebut, kamu malah mengunggah tulisan bahwa semua orang pernah melakukan plagiat, termasuk ketika menulis status facebook, menulis caption foto hingga menuliskan tugas sekolah. 
Afi sayang, tentu saja kita tidak bisa menafikan bahwa tidak ada karya yang original. Seorang jurnalis seperti saya juga harus menulis berdasarkan wawancara dan liputan yang bukan dari pemikiran saya sendiri. Banyak artikel yang saya tulis juga mengutip dan menukil pendapat orang lain. Yang membedakan semua itu adalah etika dan adab saat menyajikannya. Kita harus menyebutkan sumber dari apa yang kita kutip, nak. Itulah yang membedakan karya kita dengan karya seorang plagiat. 

Saya terpukul saat membaca tulisan Syifa Annisa di kompasiana yang menyatakan bahwa dia sudah menemukan versi utuh dari puisi yang kamu unggah di akun facebookmu sebagai karya kamu. Ternyata puisi yang berjudul "Pernahkah Kau" itu merupakan karya Tiffanny Blenvis, penulis asal Virginia, Amerika Serikat yang dimuat dalam buku Chicken Soup yang diterbitkan Gramedia tahun 2003. Afi, ini jelas plagiat, nak. Itu sama artinya kamu mencuri punya orang lain dan itu jahat. 

Saya jadi ingat kalau beberapa tahun lalu, saya pernah menemukan sebuah cerpen yang masuk nominasi pemenang lomba menulis cerpen SD tingkat nasional ternyata sama persis dengan sebuah cerpen yang pernah dimuat di Majalah Bobo, sama persis hingga titik dan komanya. Tahun sebelumnya, sebuah buku anak yang mencetak best seller juga merupakan hasil plagiat dari salah satu novel karya Enid Blyton. Kedua penulis anak tersebut terutama si penulis buku best seller itu telah menerima keuntungan materi dari perbuatan lancung mereka. 


Teruslah Menulis, Afi
Terlepas dari semua itu, jangan pernah berhenti menulis, Afi. Jadikanlah semua pengalaman berharga ini sebagai tantangan bahwa kamu sebenarnya adalah penulis yang baik, buka seorang tukang copas. 
Menulislah apa yang menjadi kegelisahanmu bukan menjadikan kegelisahan dan buah karya orang lain sebagai milikmu. 
Karena bagaimana pun di negeri ini tetap berlaku ajaran moral bahwa sekali lancung ke  ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Kamu tentu membutuhkan banyak ikhtiar  untuk mengembalikan kepercayaan orang padamu. 



foto ilustrasi : google