Pages

Rabu, 01 Juni 2016

Ihwal Waris Perempuan : Seperdua Yang Membawa Berkah

"Berikanlah bagian-bagian yang sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Alquran kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dan jika terdapat kelebihan, maka diberikan kepada para lelaki." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Meski perempuan hanya mendapatkan bagian warisan seperdua dari lelaki, sesungguhnya hal itu bukan karena Allah membedakan keduanya atau bersikap pilih kasih, melainkan karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. 
Dahulu, kaum jahiliyah bahkan tidak memberikan harta warisan kepada perempuan dan anak laki-laki yang masih kecil dengan alasan bahwa bagi yang belum pernah berperang atau mendapatkan harta dari rampasan perang, maka tidak berhak mendapatkan warisan. Namun, Allah membatalkan hukum yang dibuat atas dasar kezaliman serta menetapkan bagian tertentu untuk kaum perempuan sesuai kebutuhan mereka. 
"alasan pemberian harta warisan untuk anak perempuan dengan setengah bagian dari anak laki-laki karena anak perempuan jika kelak menikah akan menjadi tanggung jawab suaminya. Sedangkan  anak laki-laki memiliki tanggung jawab ganda bukan hanya kepada keluarganya tapi juga keluarga besarnya, termasuk anak adik perempuannya yang menjadi yatim," jelas Ustaz Quraish Shihab. 
Quraish Shihab juga menambahkan bahwa sesungguhnya harta itu merupakan ujian bagi pemiliknya. Karena bisa jadi, harta yang dimiliki itu membuat hamba yang bersyukur atau justru sebaliknya, sebagaimana firman Allah Swt. yang berbunyi," Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (Q.S. al-Munafiquun/63:9)
Ujian yang datang dari harta warisan juga tidak kalah dahsyatnya. Banyak sekali kasus pertikaian antar keluarga yang terjadi karena perebutan harta warisan. Itulah sebabnya, Allah dengan tegas mengatur soal pembagian harta warisan ini. 

Setengah Yang Melengkapi
Allah Swt. menetapkan bahwa anak perempuan mendapatkan bagian warisan setengah dari yang didapatkan anak laki-laki serta harta tersebut dipotong dengan kewajiban almarhum seperti utang piutang dan wasiatnya. Bagi suami yang memiliki istri lebih dari satu, maka bagian istri yang seperempat bagian (jika tidak memiliki anak) atau seperdelapan (jika memiliki anak) itu kemudian dibagi lagi untuk masing-masing istri. Misalnya, seperdelapan bagian dari jumlah warisan yang telah dipotong utang piutang dan wasiat kemudian dibagi dua untuk memiliki istri dua, demikian seterusnya. 
"Meski Islam tidak melarang poligami, si pelaku poligami juga harus siap dengan konsekuensi tersebut jika dia meninggal dunia," kata Mamah Dedeh. Bagian yang setengah itu pun masih diterapkan ketika almarhum tidak mewariskan harta, melainkan utang. " Kalau yang ditinggalkan itu utang, maka anak perempuan juga akan menanggung setengah bagian dari anak laki-laki. Jadi, bukan hanya ketika mendapatkan harta saja, anak laki-laki mendapatkan dua bagian dari anak perempuan, untuk urusan utang piutang juga sama. Itulah yang namanya adil," tambah Mamah Dedeh. 
Bentuk kasih sayang Allah lainnya kepada perempuan adalah jika dalam perjalanan hidupnya, anak perempuan itu mendapatkan kesulitan ekonomi, saudara laki-laki yang telah mendapatkan bagian dari harta warisan orang tua mereka, wajib membantu kehidupannya. 
Sesungguhnya, segala sesuatu yang telah ditentukan Allah Swt itu berdasarkan atas kasih sayang kepada umat-Nya sebagaimana yang terdapat di dalam Alquran surat Thaaha ayat 2 yang berbunyi, " Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah." 
Allah Swt. telah menetapkan bagian-bagian tertentu untuk ahli waris dengan pembagian yang terbaik dan paling adil berdasarkan hikmah yang sangat dalam. Allah Swt. juga menjelasakan ihwal pembagian tersebut dengan penjelasan yang sangat sempurna, baik melalui firman-Nya juga hadis Rasulullah saw. Bagian perempuan memang tidak sama dengan bagian laki-laki, tapi jumlah tersebut justru melengkapi apa yang sudah menjadi ketentuan Allah Swt. 

Kamis, 26 Mei 2016

Empat Perempuan Yang Paling Dicintai Nabi

Meski Rasulullah saw. memiliki banyak istri, namun ada empat perempuan yang paling dicintainya. Mereka adalah keempat putri Rasulullah, buah cinta beliau dengan Khadijah ra. 
Dari semua istrinya, Rasulullah saw hanya mendapatkan keturunan dari Khadijah ra dan Maria Al-Qibthya. Karena sebagian besar istri beliau adalah janda dari para sahabat yang gugur di medan perang dan sudah berusia senja. dari Khadijah, Rasulullah memperoleh enam orang anak, dua di antaranya laki-laki yang mennggal ketika masih anak-anak. Sedangkan keempat putrinya dikenal sebagai perempuan berhati mulia yang menjadi belahan jiwa ayahandanya. Mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Umu Kultsum dan Fatimah az-Zahra. Yuk, kita mengenal mereka lebih dekat...

KESETIAAN ZAINAB
Zainab adalah putri pertama Rasulullah yang kemudian beliau nikahkan dengan Abul 'As bin Rabi, putra dari bibi beliau dari pihak ibu. Sayangnya, sang menantu bukan termasuk orang yang percaya dengan kerasulan mertuanya. Namun, Zainab tetap mencintainya dengan sepenuh jiwa. Ketika terjadi peristiwa hijrah, meski sangat ingin ikut, Zainab memilih tinggal demi suaminya. Saat perang Badar, hati Zainab semakin tidak menentu karena suaminya berjuang di pihak kafir Quraisy sedangkan ayahnya menjadi pemimpin pasukan kaum muslimin. 
Apa yang ditakutkan Zainab pun terjadilah. Suaminya tertangkap dan ditahan oleh kaum muslim. Zainab lalu mengirim kalung onix safir hadiah perkawinan dari ibunya untuk menebus suaminya tercinta. Mengetahui hal itu, Rasulullahpun  menangis sambil memandangi kalung pemberian istrinya untuk Zainab. Para sahabat juga mengetahui betapa sedih hati Rasulullah sehingga mereka membebaskan  Abul 'As dan mengembalikan kalung tersebut kepada Zainab. 

"Abul 'As, engkau kami bebaskan kerana Zainab telah menebusmu. Namun izinkanlah Zainab tinggal bersama kami," pinta Rasulullah. Demi cintanya yang lebih besar kepada Allah, akhirnya Zainab memilih berpisah dengan suaminya. 
Meski telah berpisah, doa Zainab untuk sang suami tidak pernah putus. Setiap malam ia bermunajat agar Allah Swt membukakan pintu hati suaminya untuk memeluk Islam.
Setelah bertahun-tahun berpisah, akhirnya Allah menjawab kesetiaan Zainab. Rasulullah pun kembali menikahkan keduanya setelah Abul 'As bersyahadat. Sayangnya, masa bahagia itu tidak berlangsung lama. Pada tahun kedelapan hijriah, Zainab menderita sakit dan meninggal dunia. 
KETABAHAN RUQAYYAH
Putri kedua Rasulullah saw ini, nasibnya sungguh kurang beruntung. Ketika usianya menginjak remaja, keluarga Abdul Uzza yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab, meminang Ruqayyah untuk putra mereka yang bernama Uthbah. Berbeda dengan Zainab, keduanya menikah bukan atas dasar cinta kasih, melainkan karena kesamaan derajat. 
Setelah menikah, Ruqayyah tinggal bersama mertuanya, Umu Jamil yang kasar dan tamak. Meski setiap hari mendapat perlakuan buruk dari mertuanya, Ruqayyah tidak pernah menceritakannya kepada Rasulullah. Namun, Allah Swt Maha Tahu apa yang terjadi pada setiap hamba-Nya. Rasulullah kemudian menerima wahyu dari Allah bahwa Umi Jamil dan Abu Lahab adalah orang yang paling memusuhi Islam. Apalagi kemudian mereka membujuk Uthbah untuk menceraikan Ruqayyah.                                     
Setelah bercerai dari Uthbah, Rasulullah saw menikahkan Ruqayyah dengan Utsman bin Affan. Dakwa kaum muslimin yang semakin mendapat tekanan membuat Rasulullah merelakan umatnya hijrah ke Habasyah dan Ruqayyah bersama suamianya termasuk dalam rombongan yang hijrah itu. 
Dari pernikahannya dengan Utsman, Ruqayyah memiliki dua orang putra tapi keduanya meninggal ketika masih bayi. Setelah kematian ibu dan putra bungsunya yang masih berusia dua tahun, Ruqayyah merasa sangat sedih. Kesedihan itu membuat kesehatannya menurun dan Ruqayyah pun meninggal dengan tenang di pangkuan suaminya. Waktu itu, perang Badar tengah berlangsung dengan sengit. Dialah putri pertama Rasulullah saw yang meninggal dunia. Kepergian Ruqayyah membuat Rasulullah sangat sedih dan hal itu juga membuat para sahabat ikut menangis, termasuk Umar bin Khattab yang terkenal garang. 
KESABARAN UMU KULTSUM
Umu Kultsum adalah putri Rasulullah saw yang menikah dengan Utaybah bin Abu Lahab sebelum ayahnya diangkat menjadi rasul. Setelah mendengar kabar kenabian Muhammad, Abu Lahab meminta putranya membatalkan pernikahannya dengan Umu Kultsum. Maka, Umu Kultsum pun menjadi janda sebelum dia sempat menikmati masa indahnya pernikahan. Khadijah dengan sabar menghibur putrinya yang merasa sangat terpukul. Waktu itu, pembatalan pernikahan merupakan hal yang sangat memalukan, terutama untuk calon istri. Namun dengan mantap, Umu Kultsum bersama saudara dan ibunya memeluk Islam. Dia menjanda sampai ibunya meninggal dunia. 
Tidak berselang lama, Ruqayyah menyusul ibu mereka meninggal dunia. Sepeninggal Ruqayyah, Rasulullah kemudian menikahkan Umu Kultsum dengan Utsman. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berumur panjang. Belum sempat dikaruniai anak, Umu Kultsum menderita sakit dan meninggal dunia. Hal ini membuat Utsman merasa sangat terpukul hingga Rasulullah  berujar, "Kalau saja aku punya 10 anak perempuan, aku akan menikahkannya dengan Utsman." 
KEMULIAAN FATIMAH AZ-ZAHRA
Fatimah lahir bersamaan dengan terjadinya peristiwa yang menampilkan kecerdasan Rasulullah ketika memecahkan masalah perebutan siapa yang berhak meletakkan Hajar al-Aswad di antara para pemimpin Quraisy. Peristiwa itu terjadi lima tahun sebelum pengangkatan beliau sebagai Rasul. Nama panggilannya az-Zahra yang berarti cahaya atau bunga sesuai dengan keberadaannya yang selalu menjadi cahaya bagi keluarga. 
Ketika satu demi satu kakaknya menikah, Fatimah merasa sedih karena takut akan mengalami hal yang sama dengan kakak-kakaknya. Dia sangat mencintai ayah dan ibunya sehingga tidak ingin meninggalkan keduanya. 
Fatimah kecil pula yang menjadi saksi ketika ayahnya pulang dengan tubuh menggigil ketika pertama kali menerima wahyu. Ia menyaksikan bagaimana sang ibu menyelimuti tubuh ayahnya yang menggigil ketakutan itu . 
Sejak ibunya meninggal dunia, Fatimahlah yang mengurusi semua keperluan ayahnya. Fatimah laksana ibu bagi ayahnya, Itu pula sebabnya Fatimah mendapat sebutan Umu Abiha, yang artinya, ibu ayahnya. 
Ketika ayahnya disakiti saat berdakwah, Fatimah membersihkan luka sang ayah sambil menangis. Fatimah kemudian menikah dengan Ali dan hidup dalam kesederhanaan. Banyak sekali kisah tentang kehidupan pasangan ini yang meski sederhana tapi selalu ikhlas membantu siapa saja yang membutuhkan. 
Suatu hari, Rasululah yang sedang sakit membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah. Ketika membisikkan di telinga kanannya, Fatimah menangis. Tapi kemudian ia tersenyum ketika Rasulullah saw membisikkan sesuatu di telinga kirinya. 
"Apa yang membuatmu menangis lalu tersenyum, Fatimah?" tanya Aisyah. 
"Aku tidak akan memberitahukan sebelum Rasulullah wafat," jawab Fatimah. 
Setelah Rasulullah meninggal dunia, Aisyah kembali menanyakan hal tersebut dan Fatimah menjawab, " Aku menangis ketika Rasulullah memberitahu bahwa aku akan segera menyusul beliau meninggal. Dan aku tersenyum karena aku adalah orang yang pertama menemani beliau di surga."
Hanya berselang 150 hari setelah Rasulullah wafat, Fatimah pun menyusul. Fatimah meninggal dunia dalam usia 28 tahun dengan meninggalkan empat orang anak; Hasan, hussain, Zainab dan Umu Kultsum. 


foto ilustrasi : Google images


Rabu, 25 Mei 2016

Jiwa Di Tubuh Yang Salah

Jika keberadaan mereka tidak dikehendaki, apakah Allah juga menampik amal ibadah mereka? 
Waria, banci, wadam, transgender, apa pun sebutan yang diberikan pada mereka, mereka tetaplah hamba ciptaan Allah Swt. dan memiliki kewajiban yang sama dengan hamba Allah lainnya. Karena, tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dengan kelainan orientasi seperti itu. 
Dalam sejarah perkembangan Islam, kaum waria yang disebut khuntsa tetap menjalankan kewajiban mereka terhadap sang Khalik. Namun, Imam al Kasani menjelaskan bahwa yang disebut khuntsa adalah orang yang memiliki alat kelamin laki-laki dan perempuan sekaligus atau berkelamin ganda sehingga dia harus memilih kecenderungannya sebagai laki-laki atau perempuan. 
Untuk mengetahui apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan, bisa dilihat dari perubahan fisik yang mereka alami ketika memasuki masa akil baligh. Sedangkan jika masih anak-anak, berdasarkan hadis Rasulullah dapat dilihat dari tempat dia mengeluarkan air seninya. Apabila air seninya keluar dari alat kelamin laki-laki, maka dia adalah laki-laki, demikian pula sebaliknya. 
Namun, bila air seni tersebut keluar dari kedua-duanya, menurut Abu Hanifah, yang menjadi penanda adalah tempat dimana air seni tersebut keluar terlebih dulu. 
Untuk para khuntsa ini, para ulama membolehkan mereka melakukan operasi kelamin dari laki-laki menjadi perempuan atau dari perempuan menjadi laki-laki untuk menegaskan jati diri mereka yang sebenarnya. Tapi jika operasi tersebut dilakukan untuk keinginan mengubah jati diri dan kesenangan hati semata, tentu Islam melarangnya. 
Keberadaan waria itu sendiri sudah ada sejak zaman Rasulullah seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy Syaukani di dalam kitabnya Nailul Authar juz VI halaman 124 hingga 125. Para waria itu dikenal dengan nama Hita, Matik dan Hinaba. Ketika Rasulullah sedang berada di rumah salah seorang istri beliau yang bernama Ummu Salamah, Hita datang berkunjung dan Rasulullah melihat istrinya tidak mengenakan hijab dengan alasan Hita adalah seorang waria. Rasulullah pun bersabda," Janganlah orang ini memasuki (tempat-tempat) kalian." (HR. Bukhari).
Larangan itu bukan karena Rasulullah menolak keberadaan mereka, melainkan karena kebiasaan buruk Hita yang suka menceritakan aurat perempuan kepada kaum lelaki dan aurat laki-laki kepada perempuan. Di zaman Rasulullah, para khuntsa ini justru bisa diterima baik di kalangan perempuan maupun laki-laki. 

Ganti Kelamin, Ganti Jati Diri

Di Indonesia, pilihan waria untuk melakukan operasi ganti kelamin sampai saat ini masih menjadi perdebatan. Bahkan di kalangan ulama juga belum ada satu kesepakatan tentang legalitas pelaksanaan operasi ganti kelamin tersebut. Ketika Dedi Yuliardi Ashadi melakukan operasi ganti kelamin, kecaman tidak pelak datang bertubi-tubi termasuk kepada seorang ulama terpandang yang ketika itu mengizinkan Dedi berganti jati diri. Dedi yang kemudian dikenal dengan nama Dorce Gamalama juga menambahkan Khalimatussa'diah di belakang namanya setelah berhasil mendapatkan identitas baru sebagai perempuan yang sah secara hukum, termasuk KTP dengan jenis kelamin perempuan. 
Selain Dorce, juga ada nama Solihatunnisa yang oleh PN Purwokerto disahkan sebagai Solehan setelah bocah yang ketika itu berusia 6 tahun melakukan operasi ganti kelamin. Sebelumnya, anak ketiga dari pasangan Sunarto dan Siti Santiasih itu terlahir sebagai bayi perempuan. Namun ketika berusia 10 hari, tiba-tiba alat kelaminnya berubah menjadi kelamin laki-laki. Dari pemeriksaan dokter yang menangani kasusnya, diperoleh hasil bahwa Nisa adalah bayi laki-laki karena tidak memiliki rahim. 
Jika di Indonesia, operasi ganti kelamin masih menjadi silang pendapat, di Republik Islam Iran yang dinilai sangat ketat memegang prinsip Islami, sejak dulu  justru telah melegalkan tindakan operasi ganti kelamin ini. 
Dr. Mir-Jalali, seorang ahli bedah lulusan Paris yang merupakan dokter spesialis operasi ganti kelamin di Iran mengaku bahwa dalam kurun 12 tahun terakhir dia telah mengoperasi lebih dari 450 orang. Kebanyakan pasiennya adalah laki-laki yang ingin berganti kelamin menjadi perempuan. Namun untuk pasien yang ingin melakukan operasi ganti kelamin karena mengalami krisis identitas dan pengaruh gaya hidup akan ditolak sejak awal diagnosis. Iran bahkan memberi bantuan biaya operasi ganti kelamin untuk pasien yang tidak mampu dan terjebak di tubuh yang tidak diinginkannya.                
Sedangkan di Papua, pada kurun 1992 hingga 1997, perjuangan kaum waria untuk mencantumkan jenis kelamin waria di KTP sempat terwujud. 
Menurut Ustaz Damiri, walaupun keberadaan waria tidak ada dibahas di dalam alquran. tapi sesungguhnya Allah Swt tetap akan memberikan ganjaran bagi setiap hamba-Nya yang melakukan amal ibadah, siapa pun dia, termasuk waria. 
Ustaz Damiri mengutip ayat 195 dari surat Ali Imran yang berbunyi, " Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.."

Sesungguhnya, tidak ada ibadah yang disia-siakan Allah termasuk salat khusuknya seorang waria, baik mereka yang salat berpeci, maupun yang bermukena. Bisakah kita pastikan bahwa ibadah kita lebih baik dari mereka ? Wallahualam bissawab... 


foto ilustrasi : Google images

Romansa Bulan Puasa

Berkata Aisyah ra. , " Rasulullah saw. ingin menciumku. Lalu aku katakan kepada beliau, " Aku puasa." Jawab beliau, "Aku juga puasa." Lalu beliau menciumku." (HR. Abu Daud). 


Tidak terasa, tinggal hitungan hari lagi kita akan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Saya jadi teringat pada obrolan saya dengan Ustaz Widjayanto tentang bolehkah kita bermesraan dengan pasangan saat menjalankan ibadah puasa. Hanya dari pertanyaan yang singkat itu, Ustaz Widjayanyo akhirnya menceritakan tentang kisah Rasulullah saw. bersama istri-istri beliau. Tentang Rasulullah saw. yang tetap memanjakan istri-istri beliau, meski beliau sedang menunaikan ibadah puasa. 
Pada zaman Rasulullah saw. dikisahkan tentang seorang suami yang sangat mencintai istrinya hingga dia tidak dapat menahan hasrat untuk mencium belahan jiwanya itu. Padahal dia tengah melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadan. 
Tersadar dari kekhilafannya, lelaki itu kemudian mengutus istrinya untuk menanyakan hal tersebut kepada Ummu Salamah, salah seorang istri Rasulullah saw. 
Mendengar pertanyaan itu, Ummu Salamah menjawab bahwa sesungguhnya Rasulullah saw mencium istri-istrinya ketika beliau sedang berpuasa. 
Dari riwayat tersebut, dapat dipahami bahwa mencium pasangan tidak membatalkan puasa kecuali jika ciuman tersebut mengundang gairah hingga melakukan perbuatan intim yang akhirnya dapat membatalkan puasa. Namun, jika dapat menahan keinginan untuk berintim-intim, silakan bermesraan dan mencium pasangan sebagai bentuk cinta dan kasih sayang.
Cumbu Rayulah Pasanganmu
Bukhari ra. meriwayatkan bahwa suatu ketika Hakim bin 'Aqqal bertanya kepada Aisyah ra. " Apakah yang haram bagiku terhadap istriku ketika berpuasa?" Jawab Aisyah ra., "Farrajnya!". Jadi, tidak ada larangan bagi yang berpuasa untuk mencium, memeluk bahkan membelai pasangannya, sejauh perbuatan itu tidak menyebabkannya inzal (keluar mani). Kalau sampai inzal, maka batallah puasanya. 
Rasulullah saw. mengibaratkan berciuman itu seperti  berkumur-kumur ketika puasa. Selama air tidak masuk ke dalam kerongkongan, maka puasanya tidak batal. 
Perihal ciuman juga pernah ditanyakan Umar bin Khattab ra. kepada Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw malah bertanya balik kepada Umar, " Bagaimana seandainya engkau berkumur-kumur dengan air sedangkan engkau sedang berpuasa?" Lalu Umar menjawab, " Yang demikian itu tidak mengapa." Rasulullah saw. bersabda," Kalau begitu, mengapa engkau bertanya lagi (tentang hukum berciuman)?"
Selama menjalankan ibadah puasa, Rasulullah saw. tetap memanjakan istri-istrinya. Seorang istri bahkan dilarang melakukan ibadah puasa sunat jika suaminya berada di rumah dan membutuhkan belai kasihnya. Namun, banyak perempuan yang menghindari sentuhan suami karena ingin menjaga keutuhan ibadah puasanya. 
Dari Ummu Salamah ra. dikisahkan bahwa Rasulullah saw. pernah bangun subuh dalam keadaan junub karena jimak (bersetubuh). Beliau tidak membatalkan puasa dan mengqada puasanya . Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim. Sebagian besar ahli memang menyatakan bahwa puasa orang yang dalam kedaan junub itu sah, baik disebabkan mimpi maupun jimak. Begitu pula dengan jumhur sahabat dan  tabiin.
Hal senada juga disampaikan oleh Ustaz Widjayanto. 
"Bulan puasa itu bukan berarti hubungan suami istri menjadi terbatas. Silakan saja cipika cipiki sama pasangan. Rasulullah juga melakukan itu kok terhadap istri-istrinya." 
Lebih lanjut Ustaz Widjayanto menjelaskan bahwa Allah Swt membolehkan romantisme di bulan Ramadan lewat surat Al-Baqarah : 187 yang berbunyi, " Dihalalkan bagi kamu pada malam hari  pada bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka dalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka."
Sedangkan untuk mandi janabah itu dilakukan berkenaan dengan salat bukan dengan puasa. Namun karena menunaikan salat itu sebaiknya di awal waktu, maka mandi janabah dilakukan sebelum berakhirnya waktu untuk melaksanakan salat subuh. 
Begitu pula bila tertidur setelah berjimak, tidak membatalkan puasa. Rasulullah saw. sendiri pernah ketiduran dalam keadaan janabah dan beliau tetap melanjutkan puasa tanpa mengqada puasa tersebut. 
"Ada tiga hal yang dapat membatalkan puasa, yaitu makan, minum dan berjimak pada siang Ramadan," Widjayanto menambahkan. 

Jadikanlah momentum Ramadan ini untuk meningkatkan kualitas keimanan tanpa mengurangi kemesraan dengan pasangan. Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin, semoga Ramadan ini lebih baik dari Ramadan sebelumnya, Amiin. 




foto ilustrasi : google images

Senin, 21 Maret 2016

Never Too Old For Laila

Seharusnya dia kini tengah menikmati usia senjanya, namun keadaan menuntutnya masih  menjadi tulang punggung bagi anak, cucu, dan cicitnya.

"...Kini kita undang ke atas panggung, seorang bintang yang namanya sudah tidak asing lagi, kebanggaan kota Karawang... Miss Laila Sari..!!"
Tepuk dan sorak pun gegap gempita mengiringi langkahnya menaiki panggung. Seorang artis muda nan cantik dan populer. Beberapa lagu mengalun merdu dari bibir belianya tenggelam di tengah teriakan penonton yang tiada henti memanggil namanya. 
Kota Karawang di tahun 1950-an memang belumlah seperti sekarang. Di kota kecil ini pula Laila menghabiskan masa kecil dan remajanya. Setelah ayah kandungnya meninggal dunia, sang kakek memboyong mereka ke Jakarta. Waktu itu, usia Laila masih 2 tahun sedangkan adiknya belum genap setahun. 
Ketika Laila berusia 5 tahun, ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki berdarah Mandailing, Sumatera Utara. 
"Ayah tiriku inilah yang mengenalkanku dengan dunia seni. Dengan alat musik yang dimilikinya, ayah mengajariku bernyanyi hingga akhirnya aku dikenal sebagai penyanyi panggung yang laris manis," kenang Laila sambil menyesap teh hangat di kafe tempat kami bertemu. 
Ayah tirinya tidak hanya mengubahnya menjadi artis panggung kenamaan tapi juga mengganti namanya dari Nurlaila Sari Zahrotujannah menjadi Nurlaila Sari Lubis, sesuai marga ayah tirinya. Kelak dia dia lebih populer dengan nama Laila Sari. 
Dari dunia panggung, Laila mulai merambah ke dunia film lewat film Air Mata Ibu (1957) yang mempertemukannya dengan Fifi Young, bintang top di zaman itu. 
Pada tahun yang sama pula dia bermain dalam film Sepasang Burung Merpati. Dia merasa sangat beruntung karena bisa bermain di film yang sama dengan aktor tertampan masa itu, Bambang Hermanto. 
Perlahan tapi pasti, nama Laila Sari semakin dikenal seiring dengan semakin banyaknya tawaran bermain film. 
"Bukan popularitas yang membuatku senang, tapi karena aku bisa membantu perekonomian keluargaku yang memang kurang beruntung."
Ketika anak gadis lain terkungkung di rumah mereka sambil mendengarkan radio transistor, Laila sudah melanglang buana dengan busana terkini dan perhiasan mahal. 

Nikah Gantung Berakhir miris
Sebelum terjun ke dunia seni, keluarga besar telah menikahkan Laila dengan Benny Susanto, seorang mahasiswa dari keluarga terpandang. Mereka menikah gantung, yang maksudnya, menikah tapi belum tidur seranjang dan tinggal serumah. 
Pilihan menikah gantung dilakukan karena Benny belum selesai kuliah dan usia Laila yang masih sangat muda. Barulah ketika usia Laila genap 17 tahun, pernikahan tersebut disahkan. 
Sayangnya pilihan menikah gantung itu hanya alasan Benny semata. Ternyata selama pernikahan gantung itu, Benny telah menikahi perempuan lain. "Aku baru mengetahui hal itu bertahun-tahun kemudian."
Waktu itu, Benny ditugaskan ke sebuah kota kecil namun dia tidak mengajak Laila yang sudah sah menjadi istrinya. Alasan Benny, dia tidak ingin menyusahkan Laila karena kota tempat dia bertugas sangat terpencil. Karena perasaan rindu yang tidak tertahan lagi, Laila datang ke kota tempat Benny bertugas. Dia memang sengaja tidak memberi kabar karena ingin membuat kejutan untuk Benny. 
"Sayangnya, justru aku yang terkejut karena di sana Benny tidak tinggal sendiri seperti yang dia katakan. Perasaanku hancur tapi aku mencoba tegar. Aku bahkan bermalam di rumah dinas Benny bersama maduku. Setelah peristiwa itu, kami pun berpisah baik-baik dan Alhamdulillah, sampai sekarang silaturahim kami masih berjalan dengan baik."

Menikah Lagi
Panggung hiburan masih menawarkan pesona. Penonton masih mengel-elukan namanya. Bertahun-tahun dia memilih hidup menjanda karena masih belum bisa melupakan sakitnya pengkhianatan yang dilakukan suaminya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan pemain drama bernama Iskandar. Mereka bertemu saat bermain dalam sebuah lakon drama tentang perang kemerdekaan di sebuah acara penggalangan dana. Tak butuh waktu lama untuk memutuskannya menerima lamaran Iskandar. Hanya setahun setelah pertemuan yang terjadi pada tahun 1960 itu, Laila menikah dengan Iskandar. 
Laila benar-benar merasakan kehidupan berumah tangga yang sebenarnya bersama Iskandar. Namun vonis dokter yang menyatakan bahwa kecil kemungkinan Laila bisa memiliki anak setelah dua kali mengalami keguguran, membuat hati Laila sangat masygul. 
"Kondisi ini ternyata tidak mengubah rasa cinta Iskandar padaku. Kami kemudian memutuskan mengadopsi anak dari salah seorang adik Iskandar. Aku masih tidak bisa melupakan bagaimana bahagianya hatiku ketika menjemput bayi itu dari rumah sakit. Aku merasa seolah-olah akulah yang telah melahirkannya. Seolah-olah tangisnya yang begitu keras itu ditujukan padaku. Bayi itu kemudian kami beri nama Maya Sari. Dialah tumpuan segala kebahagiaan kami."

Tak Ada Lagi Air Mataku
Kehadiran Maya, tak berarti bisa mengurangi rasa bersalahnya pada Iskandar. Laila masih merasa belum lengkap sebagai istri karena tak mampu memberi keturunan kepada suaminya. Dia bahkan berkali-kali menawari Iskandar untuk menikah lagi tapi Iskandar menampik keras tawarannya itu. Ketika Iskandar mengalami stroke yang cukup berat, Laila kembali menawarkan hal itu padanya. 
"Aku bilang padanya, kalau kamu nanti sembuh, menikahlah. Pilihlah perempuan mana yang kamu mau, aku nanti yang akan melamarkannya untukmu. Aku bersumpah demi Allah, aku ikhlas dan rido."
Namun Iskandar marah dan menganggapnya tak waras. Hingga mau menjemputnya di tahun 2000, Iskandar tetap bergeming, tak mau menduakan cintanya pada Laila. 
Sepeninggal Iskandar, Laila menjadi tiang di rumahnya. Dia bahkan tidak pernah menyadari kalau usianya kini sudah sangat senja untuk mencari nafkah. Hari-harinya hanya berisi kerja, kerja dan kerja. Di pundaknya yang ringkih, ada 8 mulut yang setiap hari harus dia beri makan. Kesedihan melengkapi hidupnya ketika cucu kesayangannya meninggal dunia. Pergaulan bebas membuat cucunya yang baru berusia 18 tahun menikah di usia muda. Kini, anak dari cucunya itu menjadi tanggungjawabnya.
"Anak angkatku itu tidak pernah hidup mandiri. Dia terus menyandarkan hidupnya di tubuhku yang seharusnya bertopang padanya. Aku seringkali ingin menangis, tapi persediaan air mataku sudah tidak ada lagi. Pekerjaan menjadi pelarian terbaik untukku, karena selain bisa menghibur orang lain sekaligus juga menghibur diriku sendiri. Pekerjaan juga menjauhkanku dari rumah dengan segala persoalan hidup yang membelitku. Aku seperti menghadapi kiamat di rumahku sendiri."
Laila menatap langit yang senja di kafe tempat kami bertemu dan berbagi kisah. 
"Aku hanya bisa berpasrah pada Allah karena semua Allah yang mengatur. Aku yakin, Allah pasti memberikan jalan yang terbaik untukku. Doa itu pula yang kupanjatkan dalam setiap sujudku. Semoga Allah tetap memberiku kesehatan sehingga aku bisa tetap menjadi tiang yang kokoh untuk keluargaku. Amiin..."
  

Selasa, 05 Januari 2016

Homs, Kota Makmur Yang Kini Tinggal Nama...

Meski hanya memimpin selama 2 tahun lebih 8 bulan, namun Khalifah Umar bin Abdul Aziz mampu mengubah Homs menjadi negeri paling makmur hingga tidak ada seorang pun yang layak menerima zakat. Tapi kini, ISIS telah memporakporanda Homs sekaligus jejak khalifah termasyhur ini.
Memasuki kota Homs, hamparan ladang aprikot menyambut saya. Musim dingin baru saja berlalu. Sisa-sisa salju  di puncak bukit yang mengelilingi kota ini tak ubahnya  es krim raksasa  yang sedang meleleh.  Tampak beberapa anak petani bermain riang di hamparan ladang yang luas itu. Wajah-wajah bahagia mereka masih terekam jelas di ingatan saya sampai saat ini, sampai saya menuliskan kisah ini.
Homs termasuk salah satu kota tua di Suriah dan sarat sejarah. Kota ini tidak hanya memiliki jejak Emperium Romawi  dan Yunani Kuno tapi juga catatan emas perjuangan mujahid Muslim dalam menaklukkan Romawi di bawah komando Panglima Khalid bin Walid. Krak des Chevaliers, salah satu dari bangunan bersejarah yang sayangnya kini telah porak poranda. Beruntung, saya masih berkesempatan menikmati keindahan benteng ini.  
Benteng Krak des Chevaliers (foto: Ade Nur Sa'adah)

Benteng yang dibangun di atas bukit pada ketinggian 650 meter dari permukaan laut ini merupakan peninggalan sejarah yang sangat mengagumkan. Krak des Chevaliers berasal dari  bahasa Arab-Perancis yang berarti "Istana Para Ksatria". Benteng ini memiliki 13 menara dan dua dinding tinggi dimana dinding bagian dalam lebih tinggi daripada dinding yang ada di bagian luar. Sementara di antara kedua dinding itu terdapat parit dan lereng yang curam untuk menyulitkan musuh menyusup ke dalam benteng. Benteng yang dibangun para prajurit perang salib ini akhirnya bisa direbut oleh pasukan Muslim yang dipimpin Panglima Khalid bin Walid. 

Bagian dalam Krak des Chevaliers (foto: Ade Nur Sa'adah)

Bagian dalam benteng terdapat banyak ruangan termasuk gudang tempat perlengkapan perang dan makanan selama  lima tahun untuk lebih dari 2000 prajurit dan kudanya. Tak ubahnya sebuah kota kecil, di dalam benteng ini juga terdapat kapel dan tempat tinggal prajurit. Banyak sekali sudut-sudut eksotik di benteng yang sudah berusia ribuan tahun ini.  

salah satu sudut Krak des Chevaliers (foto: Ade Nur Sa'adah)
Parit di antara dinding bagian dalam dan bagian luar benteng (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Kota Sang Khalifah & Panglima Pemberani
Saya besar dengan berbagai kisah teladan Islam, salah satunya kisah seorang anak penjual susu yang jujur. Ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang menyamar untuk melihat secara langsung kehidupan rakyatnya, samar dia mendengar percakapan dari sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah seorang perempuan penjual susu. Waktu itu, beliau mendengar anak penjual susu itu melarang ibunya berbuat curang dengan mencampur susu dagangan mereka agar mendapat untung lebih banyak. Khalifah Umar sangat tersentuh ketika anak perempuan itu mengatakan bahwa meski orang tidak tahu tentang kecurangan itu, tapi Allah pasti mengetahuinya. 
Kejujuran anak pedagang susu itu membuat Khalifah Umar melamarkannya untuk anak laki-lakinya, Ashim. Putri dari pernikahan tersebut, Laila kelak melahirkan seorang anak yang mengikuti jejak ayah dan kakek buyutnya menjadi seorang Khalifah. Dialah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan adalah seorang gubernur dari klan Umayah yang terkenal karena kedermawanannya. 
Kediaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang kini menjadi masjid sekaligus makamnya  (foto: Ade Nur Sa'adah)
Seperti kakek buyutnya dan ayahnya, Umar mampu memisahkan antara urusan rakyat dan keluarganya. Beliau tidak pernah mau mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Dia mengelola keuangan pemerintahannya dengan adil dan jujur. Meski tidak sampai tiga tahun menjabat Khalifah, namun Umar mampu mengantarkan Homs sebagai kota paling makmur dalam sejarah hingga tidak ada seorang pun dari rakyatnya layak menjadi penerima zakat. Khalifah Umar meninggal dunia di usia 40 tahun dengan meninggalkan kisah kepemimpinan yang dikenang hingga saat ini. 
Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz  (Foto: Ade Nur Sa'adah)

Pintu memasuki kediaman dan makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Foto : Ade Nur Sa'adah))
Papan di pintu masuk masjid yang memuat biografi singkat sang Khalifah (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Apa Kabar Mereka Sekarang?
Berada di pusat kota Homs, berdiri megah Masjid Khalid bin Walid yang di dalamnya terdapat makam sang Panglima. Masjid ini juga sudah rata dengan tanah akibat konflik yang melanda Suriah. 
Halaman masjid yang luas menjadi pilihan warga kota untuk berpiknik. Mereka duduk di bawah pohon yang ada di halaman masjid dan mengudap setangkup roti sayur dengan jus aprikot. Anak-anak dengan riang membeli es krim dan menjilatinya sambil bercanda penuh kebahagiaan. Di halaman masjid ini saya mengenal Mariam, bocah perempuan yang cantik sekali. Saya juga berkenalan dengan dua orang tentara yang sedang bertugas jaga di halaman masjid. Sama sekali tidak terbayang kalau tentara yang santun ini kelak akan menjadi bagian dalam konflik yang melanda negerinya. 
Saya selalu berdoa semoga anak-anak yang saya di temui selama perjalanan saya di Suriah selamat dari kekejaman perang yang tak berperi ini. Amiin. 
Masjid Khalid bin Walid yang megah (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Bersama tentara Suriah yang berjaga di halaman masjid.
Makam Panglima Khalid bin Walid dengan sorban dan pedang kesayangannya. (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Apa kabar mereka sekarang? (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Apa kabar mereka sekarang? (Foto: Ade Nur Sa'adah)

Apa kabar mereka sekarang? (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Apa kabar Mariam sekarang? (Foto : Ade Nur Sa'adah)









Rabu, 30 Desember 2015

Yerussalem, Satu Kota Tiga Agama

Meski merupakan kota suci bagi tiga agama besar di dunia, tapi kota ini selalu dilanda konflik dan peperangan. Tidak ada tempat yang aman terutama bagi anak-anak.

Kota Yerussalem dengan Masjidil Aqsha dan Dome of  The Rock yang dikelilingi Tembok Ratapan (foto : Ade Nur Sa'adah)
Cuaca lumayan dingin saat saya berada di kota ini. Yerussalem menjadi destinasi yang paling penting dalam perjalanan hidup saya. Melihat bagaimana orang-orang beribadah sesuai keyakinan masing-masing.
Yerussalem sebuah kota yang indah dan terletak di Bukit Yudea. Kota ini termasuk kota paling tua yang ada di muka bumi karena sudah dihuni sejak 9000 tahun sebelum Masehi. Dari kota ini pula, banyak Nabi yang memulai dakwahnya, salah satunya Nabi Ibrahim As yang datang ke Yerussalem 1950 tahun sebelum Masehi. Jejak Nabi Ibrahim As masih bisa ditemukan di Masjid Hebron, masjid yang beliau didirikan setelah membangun Kakbah di Mekkah. Di Masjid ini terdapat makam tiga Nabi,  Nabi Ibrahim As, Nabi Yaqub As dan Nabi Ishak As. Terdapat pula makam Sarah, istri Nabi Ibrahim As dan Ribka, istri Nabi Ishak As.  
Masjid ini menjadi saksi kebiadaban Israel saat membantai puluhan umat Islam yang sedang menunaikan salat subuh, 21 tahun yang lalu.
Selain ketiga Nabi tersebut, Nabi Sulaiman As juga membangun istananya, Haikal Sulaiman di kota ini. Orang-orang Yahudi percaya kalau Tembok Ratapan adalah sisa-sisa reruntuhan dari Haikal Sulaiman.
Masjid Hebron 
Selama lebih dari 3500 tahun, kota Yerussalem berulangkali mengalami penaklukan oleh berbagai bangsa dan Tembok Ratapan pun tak pelak menjadi bagian penting yang dipertikaikan. Masa yang paling gelap terjadi ketika Yerussalem berada di bawah kekuasaan Byzantium yang kejam hingga Khalifah Umar bin Khattab membebaskan tanah ini dan umat Islam serta umat Nasrani merasa aman beribadah. 
Namun, sejak negara Israel berdiri tahun 1967, bangsa Yahudi mulai menguasai Tembok Ratapan yang oleh umat Islam disebut Tembok Al Buraq, karena meyakini di tembok itulah Rasulullah Saw menambatkan kuda bersayap bernama Buraq dalam peristiwa Isra Mikraj. . Sejak itu pula, permusuhan antara bangsa Yahudi dan umat Muslim  terjadi, sampai saat ini.
Gerbang memasuki Kompleks Masjidil Al Aqsha (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Masjidil Aqsha dan Dome  of  The Rock
Banyak orang yang menyangka kalau bangunan berkubah emas itu adalah Masjidil Aqsha yang sangat bersejarah. Padahal, itu adalah Qubah Sakhra atau Kubah Batu atau yang lebih populer dengan nama Dome of the Rock. Ketika Rasulullah Saw akan terbang saat Mikraj, beliau menginjak sebuah batu dan batu itu seolah hendak terbang mengikuti Rasulullah Saw yang pergi meninggalkan bumi, kembali ke Mekkah. 
Saat saya berkunjung ke sana, Dome of the Rock sedang mengalami perbaikan. Di dalam bangunan ini terdapat mihrab Rasulullah Saw dan banyak  yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menunaikan salat di tempat ini, termasuk saya. 
Menunaikan salat di Dome of the Rock (Foto : Ade Nur Sa'adah)
Mihrab Rasulullah Saw
Dome  of  the Rock (foto ; Ade Nur Sa'adah)
Masjidil Aqsha sendiri berdiri di dalam kompleks yang sama. Bangunannya lebih sederhana dari Doom of Rock dan berkubah hijau. Ini adalah masjid para Nabi yang pertama kali dibangun oleh Nabi Adam As setelah beliau membangun Masjidil Haram. Tapi seiring waktu, masjid ini hancur dan kemudian dibangun kembali oleh Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman As. Di masjid ini pula Rasulullah Saw menerima perintah salat dari Allah Swt, subhanallah. 
Masjidil Aqsha (foto: Ade Nur Sa'adah)

Bagian dalam Masjidil Aqsha (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Haikal Sulaiman di Tembok Ratapan
Kompleks Masjidil Aqsha itu sendiri dibentengi oleh tembok memanjang yang salah satu sisinya di sebut Tembok Ratapan. Setiap hari, ribuan umat Yahudi dari seluruh dunia, datang memanjatkan doa di tempat ini. Bahkan ada yang mengatakan kalau facebook terinspirasi dari tembok ini mengingat pendirinya, Mark Zuckerberg adalah seorang Yahudi. Bagi umat Yahudi yang tidak dapat berdoa secara langsung di tembok ini dapat mengirimkan doa yang ditulis dalam sebuah kertas lalu diselipkan di celah-celah dinding yang disebut kvtelach. 
Orang Yahudi meyakini kalau tembok ini adalah reruntuhan dari Haikal Sulaiman dan mereka selalu berusaha menghancurkan Masjidil Aqsha yang berada di balik tembok ini. Hal inilah yang terus menjadi perjuangan umat Islam di dunia, terutama yang bermukim di Palestina.  
tembok ratapan di Yerusalem (foto : Ade Nur Sa'adah)


Umat Yahudi sedang berdoa di Tembok Ratapan (foto : Ade Nur Sa'adah)

Satu keluarga Yahudi usai memanjatkan doa di Tembok Ratapan (foto : Ade Nur Sa'adah) 
Setelah mampir ke Gereja Navitivy, tempat suci umat Kristen, saya juga berkesempatan berziarah ke makam seorang ikon sufi perempuan yang saya kagumi, Rabiah al-Adawiyah. Makam ahli tasawuf ini terletak di Bukit Tur, Yerussalem yang selalu dikunjungi banyak peziarah. Selain makam di Bukit Tur, masyarakat Irak juga mengklaim kalau makam Rabiah juga berada di Bashrah, tempat kelahirannya. Masih di Yerussalem,  terdapat makam sahabat Rasulullah Saw, Salman al Farisi. Beliau adalah pengatur strategi perang yang cerdas dengan siasat penggalian parit pada perang Khandaq. Ini benar-benar merupakan perjalanan terbaik yang memberi banyak hikmah buat saya. Semoga saya bisa datang ke kota para Nabi ini lagi. Amiin...

Makam Rabiah al Adawiyah di Bukit  Tur, Yerussalem (Foto: Ade Nur Sa'adah)
Makam Salman Al farisi (Foto : Ade Nur Sa'adah)